Keunikan Pulau Terapung dari Limbah Botol Plastik di Pantai Gading

Minggu, 24 November 2019 14:04 Reporter : Tantri Setyorini
Keunikan Pulau Terapung dari Limbah Botol Plastik di Pantai Gading Pulau terapung dari sampah botol plastik di Abidjan, Pantai Gading. ©Instagram/ile_flottante_abidjan

Merdeka.com - Tampaknya kalimat sampah seseorang adalah berkah bagi orang lain memang ada benarnya, setidaknya bagi seorang pengusaha Prancis bernama Eric Becker. Pasalnya pria yang berkecimpung di bisnis komputer itu berhasil mewujudkan sebuah pulau terapung berbahan limbah.

Menurut artikel lansiran MailOnline (22/11/2019), Becker berinovasi dengan mendirikan pulau terapung di Abidjan, Pantai Gading. Uniknya pulau dengan fasilitas lengkap itu tersusun dari sampah botol plastik.

1 dari 4 halaman

Pulau Berbahan Sampah dengan Fasilitas Lengkap

 /></p>
<p style=Instagram/ile_flottante_abidjan

Becker mendirikan pulau terapung atau L'ile Flottante dari sekitar 700 ribu sampah botol plastik. Walaupun berbahan sampah botol plastik, namun fasilitasnya cukup lengkap. Ada hotel, dua kolam renang, dan bar karaoke.

L'ile Flottante dulunya adalah rumah Becker, sebelum ia mengubahnya menjadi resor tahun lalu. Pulau ini memang sengaja dibangun untuk menumbuhkan pariwisata yang lebih ramah lingkungan sehingga tak terlalu berbahaya bagi garis pantai dan laut.

Pulau bisa dipindah ke lokasi berbeda dengan listrik yang disediakan dari panel surya dan generator cadangan. Pulau itu berbobot sekitar 200 ton dan sangat cocok mengapung di perairan dangkal.

"Orang bisa hidup (di pulau terapung) di laguna yang bebas polusi, dan hidup dari budi daya ikan," katanya.

2 dari 4 halaman

Proses Pembangunan Pulau Terapung

 /></p>
<p style=Instagram/ile_flottante_abidjan

Becker awalnya membangun yacht dari sampah. Namun, ia akhirnya memutuskan membuat pulau terapung setelah ia melihat laguna di Abidjan. Ia menjual hampir semua miliknya untuk mewujudkan impian tak biasa agar menjadi kenyataan.

Langkah pertama yang Becker lakukan dalam membangun pulau itu, termasuk mencari limbah mengambang sebanyak mungkin yang kemudian ia masukan dalam botol plastik, potongan-potongan polistiren, bahkan sandal pantai.

"Kami membeli botol bekas dari orang, kami mencari-cari di laguna," katanya. "Setelah beberapa saat, kami belajar mengikuti angin dan menemukan tempat-tempat di mana tumpukan sampah yang mengambang," sambungnya.

3 dari 4 halaman

Menarik Seratus Pelanggan Setiap Minggu

 /></p>
<p style=Instagram/ile_flottante_abidjan

Sejak dialihfungsikan sebagai resor, L'le Flottante menarik sekitar 100 pelanggan setiap minggu, termasuk penduduk lokal dan para wisatawan.

Jika ingin berkunjung ke tempat ini, pengunjung dibawa dengan menggunakan perahu. Setiap pengunjung dikenakan biaya 15 ribu franc CFA atau Rp356 ribu per hari kunjungan. Namun, bila termasuk makan, perjalanan dengan menggunakan feri dan menginap sebesar 60 ribu franc CFA atau Rp1,4 juta.

4 dari 4 halaman

Mengubah Sesuatu yang Negatif menjadi Positif

 /></p>
<p style=Instagram/ile_flottante_abidjan

Becker mengungkapkan, konsep pulau terapung ini adalah mengambil sesuatu yang negatif yaitu polusi botol plastik dan mengubahnya menjadi sesuatu yang positif.

"Andai saja semua orang bisa melakukan ini dalam skala individu," kata Becker.

Becker menilai resornya hanya sebagai contoh awal yang bisa digunakan untuk tujuan pulau-pulau berbasis limbah. Dia berharap tempat ini bisa menginspirasi proyek serupa di tempat lain.

Reporter: Komarudin
Sumber: Liputan6.com [tsr]

Baca juga:
Penginapan Jepang Pasang Tarif Murah, Asal Tamu Rela Kegiatannya Disiarkan Langsung

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini