Berburu keindahan di desa tertinggi se-Pulau Jawa

Reporter : Ya'cob Billiocta | Senin, 19 Desember 2016 10:20
Berburu keindahan di desa tertinggi se-Pulau Jawa
Telaga Cebong dari atas Bukit Sikunir. ©2016 Merdeka.com/Ya'cob

Merdeka.com - Napas ini tersengal ketika mendaki menuju puncak Bukit Sikunir, Desa Sembungan, Wonosobo, Jawa Tengah. Berbeda dengan Agus Wicaksono, pemimpin tim Jelajah Merdeka 1.000 Danau yang juga pendiri Portrait of Indonesia.

Dia begitu semangat menapaki satu per satu tangga bukit. "Masa kepala dua (usia 20-an) kalah ama kepala lima," sindir Agus.

Merasa tertantang dengan sindiran tersebut, saya berusaha membuktikan bahwa yang muda pasti lebih sanggup. Seketika kembali saya melanjutkan mendaki anak-anak tangga yang dingin. Tidak cuma saya, tiga tim lainnya, Ashari Yudha Pratama Putra, Nuryandi Abdurohman dan Andhika Bayu Nugraha juga terlecut.

Maka, kami pun berlomba di tengah napas ngos-ngosan untuk menjadi yang pertama sampai di puncak. Sementara anggota tim Wahyudian Syah sudah terlebih dahulu meninggalkan kami. Sungguh tega.

Sekitar 30 menit berjalan, tim minus Yudha yang memilih kepincut spot memotret di sisi puncak lain, berhasil sampai di ujung bukit. Rasa lelah terbayar setelah melihat keindahan Telaga Cebong yang berada di perkampungan Desa Sembungan. Pemandangannya keren banget. Puji syukur kami diberi kesempatan untuk berkunjung ke sini.

Selain bisa menikmati Telaga Cebong, di puncak bukit kami juga bisa melihat hamparan pegunungan serta perbukitan Dieng. Lukisan alam yang tiada duanya. Angin kencang disertai gerimis tak membuat kami terusir. Kami terus memotret setiap detiknya. Keindahan yang sayang untuk terlewatkan.

Setelah puas, kami memutuskan turun untuk menikmati keindahan telaga dari bawah sambil menyeruput kopi.

Ada forklor atau cerita menarik dari Telaga Cebong ini. Jadi telaga ini terbentuk lantaran perbuatan curang antara dua saudara demi memperebutkan satu wanita.

Suatu hari hidup seorang gadis cantik yang menjadi primadona pemuda-pemuda desa, tak terkecuali adik kakak yang merupakan warga desa di sana. Keduanya pun menyampaikan isi hati ke wanita tersebut.

Karena persaingan tersebut, sang wanita akhirnya membuat sayembara. "Barang siapa yang terlebih dahulu berhasik membuatkan aku telaga, maka itu pemenangnya dan berhak menikah denganku," kata salah satu warga Sembungan, Budi saat mengisahkan forklor ini kepada merdeka.com.

Syarat yang diberikan wanita pujaan ini diterima. Akhirnya adik kakak berlomba membuat telaga. Setelah sekian waktu berjalan, diketahui telaga yang dibuat sang kakak sudah hampir selesai, sementara sang adik kesulitan membuat telaga.

Melihat kakaknya hampir berhasil, membuat sang adik berniat jahat. Dia lantas membuat tipu daya, disuruhlah sang kakak pulang ke rumah dengan alasan dipanggil orang tua.

Nah saat ditinggal itulah, sang adik menjebol telaga kakaknya. Air yang mengalir deras lantas diarahkan menuju ke telaganya. Jadilah telaga sang adik penuh air.

"Telaga sang adik itu inilah, Telaga Cebong. Sementara telaga sang kakak gagal jadi yang sekarang di Desa Pakurejo," lanjut Budi.

[hrs]

Rekomendasi Pilihan


Komentar Anda



BE SMART, READ MORE