KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Wawancarai 100 pemerkosa di India, gadis ini temukan fakta mengejutkan

Kamis, 14 September 2017 08:08 Reporter : Ira Astiana
madhumita pandey. ©Washington Post

Merdeka.com - Meningkatnya angka kasus pemerkosaan di India membuat seorang mahasiswi dari Universitas Anglia Ruskin, Inggris, bernama Madhumita Pandey tergerak untuk melakukan wawancara terhadap para pemerkosa di negara tersebut. Selama tiga tahun Pandey telah mewawancarai sekitar 100 pemerkosa di India.

"Mengapa orang-orang ini melakukan hal tersebut? Kami menyebut mereka sebagai monster karena kami pikir tidak ada manusia normal yang bisa berbuat sekejam itu. Saya berpikir, apa yang mendorong orang-orang ini? Apa yang membuat pria memperkosa? Saya memutuskan untuk menanyakan kepada sumbernya langsung," kata Pandey, seperti dilansir dari laman Washington Post, Senin(11/9).

Mahasiswi jurusan kriminologi ini melakukan penelitian untuk tesis doktoralnya. Selama mewawancarai para pelaku pemerkosa di Penjara Tihar, New Delhi, Pandey menemukan fakta sebagian pria yang ditemuinya tidak berpendidikan. Hanya segelintir orang yang bisa menyelesaikan pendidikan sampai SMA, sisanya hanya lulusan kelas tiga sekolah dasar.

Demo anti-pemerkosaan di India ©Reuters/Ahmad Masood




"Ketika saya memulai penelitian, di benak saya tertanam bahwa orang-orang ini adalah monster. Tetapi ketika berbicara langsung, saya baru menyadari mereka bukanlah pria luar biasa. Mereka hanya pria biasa yang dibesarkan dengan pola pikir yang salah," jelasnya.

"Para pria itu memiliki gagasan yang salah tentang arti maskulinitas sedangkan wanitanya cenderung bersikap seperti penurut. Hal tersebut juga terjadi dalam rumah tangga sehingga kasus pemerkosaan rentan terjadi," tambahnya.

Pandey juga memaparkan bahwa pria di sana hidup di tengah masyarakat konservatif. Di sekolah-sekolah, pendidikan seks bahkan tidak dimasukkan ke kurikulum karena dianggap bisa "merusak" pemuda dan nilai-nilai tradisional. Oleh karena itu, banyak dari pria tersebut tidak menyadari perbuatan mereka dan terus-terusan mencari pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Bahkan tidak sedikit yang justru menyalahkan korban atas perbuatan mereka.

"Mereka tidak diajarkan tentang pendidikan seks selama di sekolah. Orangtua bahkan tidak menggunakan kata-kata seperti penis, vagina, pemerkosaan, atau seks dalam kehidupan sehari-hari sehingga para pria itu bahkan tidak tahu kalau yang mereka perbuat (memperkosa) adalah kesalahan," paparnya.

Kendati demikian, ada juga yang mengaku bahwa perbuatannya salah dan menyesali perbuatannya.

"Ada seorang pelaku yang mengaku memperkosa bocah lima tahun. Dia menyadari perbuatannya salah dengan mengatakan, 'ya saya merasa tidak enak. Saya membahayakan nyawa dia dan membuat dia tidak perawan lagi. Saat besar tidak akan ada yang mau menikahinya. Tapi saya akan menerimanya, saya akan menikahinya saat keluar dari penjara,'" kata Pandey menirukan kata-kata pelaku.

Pandey mengaku semakin banyak dia mendengar keterangan dari para pemerkosa itu, semakin dia merasa kasihan terhadap para pria tersebut.

"Perlu diingat para pemerkosa juga bagian dari masyarakat kita, bukan alien yang tiba-tiba jatuh ke bumi," pungkasnya. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Pemerkosaan India
  2. India
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.