Trump campuri perdamaian Fatah-Hamas, desak keduanya akui Israel
Merdeka.com - Perdamaian dua organisasi perjuangan Palestina, Fatah dan Hamas, dicapai pada Kamis pekan lalu membikin harapan baru. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump hendak mencampuri dan tetap berkeras baru mengakui kesepakatan keduanya kalau Hamas mau mengakui Israel sebagai negara, serta melucuti persenjataannya.
Dilansir dari laman Associated Press, Kamis (19/10), menurut perwakilan utusan khusus AS urusan Timur Tengah, Jason Greenblatt, Presiden Donald Trump sebenarnya menyambut baik perdamaian antara Fatah dan Hamas. Namun, sebagai sekutu Israel, dia tetap ngotot memaksa Hamas memenuhi permintaan Negara Zionis itu.
"Hamas harus menerima poin perjanjian sebelumnya yang amat mendasar, jika ingin terlibat dalam pemerintahan Otoritas Palestina. Yaitu mengakui Israel dan melucuti persenjataan," kata Greenblatt.
Israel sebagai negara seteru Palestina juga berburuk sangka, menganggap perjanjian itu bakal merintangi upaya perdamaian. Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, menolak mengakui perjanjian damai antara Hamas dan Fatah di Ibu Kota Kairo, Mesir, jika kedua organisasi tetap tidak mengakui Israel sebagai negara, dan enggan melucuti sayap militer Hamas.
"Israel memang menginginkan perdamaian dengan seluruh negara tetangga. Namun, perdamaian antara Hamas dan Fatah menyulitkan upaya perdamaian. Berdamai dengan pembantai adalah masalah, bukan jalan keluar. Dukung perdamaian dan jangan berkawan dengan Hamas," tulis Juru Bicara Netanyahu, Ofir Gendelman, melalui akun Twitter-nya.
Hamas pun bereaksi terhadap pernyataan AS. Salah satu petinggi Hamas, Fatah Qawasmeh, menyatakan itu sebenarnya adalah upaya Israel buat menekan Palestina menggunakan tangan AS.
"Pilihan kami adalah keputusan segenap warga Palestina, dan kami tidak akan kembali ke masa lalu," kata Qawasmeh.
Petinggi Hamas lainnya, Bassem Naim, menyatakan pernyataan AS merupakan bentuk campur tangan urusan dalam negeri dan hak rakyat Palestina.
Hamas mengatakan mereka saat ini mengubah pendirian organisasi supaya bisa membangun Palestina bersama dengan Fatah. Namun, Ofir tidak yakin akan klaim Hamas. Dia menuding kalau Hamas cuma bersilat lidah.
Mesir menjadi penengah perundingan damai Fatah dan Hamas. Di dalam perjanjian, keduanya menyepakati pengaturan perbatasan dan nasib ribuan pegawai negeri di Jalur Gaza. Namun, mereka tidak membahas soal persenjataan Hamas. Hal itu membikin Israel curiga.
Fatah, Hamas, dan Mesir juga sepakat membuka perbatasan Rafah buat mengakhiri krisis kemanusiaan, mempermudah perdagangan dan pelintas batas. Mereka pun setuju soal penempatan pengawas dari Uni Eropa di perbatasan demi menghindari kecurigaan Israel soal upaya penyelundupan senjata.
Fatah dan Hamas bertikai sejak 2006. Saat itu Hamas memenangkan pemilihan umum di Jalur Gaza dan menguasainya, serta mendepak Fatah dari lingkar kekuasaan. Setahun kemudian terjadi pertikaian bersenjata antara keduanya. Sejak itu ada dualisme pemerintahan. Fatah menguasai Otoritas Palestina di Tepi Barat, sedangkan Hamas mendirikan pemerintahan terpisah di Jalur Gaza. Sejumlah upaya perdamaian sebelumnya gagal. Namun, pada September lalu Hamas memutuskan membubarkan pemerintahannya di Jalur Gaza demi perundingan damai.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya