Trump Batalkan Diskusi Perdamaian dengan Taliban

Minggu, 8 September 2019 20:04 Reporter : Merdeka
Trump Batalkan Diskusi Perdamaian dengan Taliban Donald Trump. ©Instagram/realdonaldtrump

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan pembicaraan perdamaian dengan para pemimpin Taliban, kelompok bersenjata Afghanistan. Keputusan itu diambil setelah Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan di Ibu Kota Kabul, Afghanistan, pekan lalu.

"Jika mereka (Taliban) tidak dapat menyetujui gencatan senjata selama pembicaraan damai yang sangat penting ini, dan bahkan membunuh 12 orang tidak bersalah, maka mungkin mereka tidak memiliki kekuatan untuk menegosiasikan perjanjian yang berarti," kata Trump di Twitternya, Minggu (8/9), menanggapi keterlibatan Taliban dalam serangan yang menewaskan 12 orang, termasuk seorang warga AS.

Dikutip dari laman Reuters, pernyataan Trump menyisakan keraguan akan masa depan perjanjian AS dan Taliban. Kedua belah pihak mulai berunding sejak minggu lalu. Dalam pertemuan tersebut, Zalmay Khalilzad, utusan khusus AS untuk perdamaian Afghanistan, setuju menarik ribuan tentara AS selama beberapa bulan mendatang. Di saat yang sama, AS meminta agar Taliban melakukan gencatan senjata dan memastikan Afghanistan tidak menjadi sarang teroris.

Pihak Taliban sendiri belum mengeluarkan pernyataan menanggapi keputusan Trump. Namun, diduga Taliban sendiri tidak menyangka AS akan menunda perundingan damai. Bahkan, beberapa jam sebelum Trump mengunggah cuitannya, seorang pemimpin senior Taliban mengatakan, sebuah kesepakatan perjanjian sudah tampak dekat.

Reuters melaporkan, kelompok Taliban kini telah menguasai lebih banyak wilayah dibanding era kekuasaannya 2001 lalu. Dalam sepekan terakhir, serangan baru terjadi di sejumlah kota di Utara Kunduz dan Pul-e Khumri.

Dua bom bunuh diri besar-besaran juga terjadi di Ibu Kota Kabul. Salah satu serangan bunuh diri itu merenggut nyawa Sersan Satuan Angkatan Darat AS, Elis A. Barreto Ortiz (34). Kematian sersan asal Puerto Riko itu menambah daftar korban tewas pasukan AS di Afghanistan menjadi 16 orang.

"Sangat tidak membantu pada saat ini dalam sejarah Afghanistan bagi Taliban untuk meningkatkan kekerasan," ujar Jenderal Kelautan AS Kenneth McKenzie menanggapi gelombang kekerasan yang dilakukan Taliban selama proses perundingan damai berlangsung.

McKenzie mengimbau, semua pihak harus bisa berkomitmen pada penyelesaian konflik politik keduanya, agar proses perdamaian bergerak maju. Dengan demikian, aksi kekerasan di Afghanistan dapat dikurangi.

Amerika dan Taliban mulai berselisih sejak pasukan AS memasuki wilayah Taliban dan menjatuhkan kekuasaan kelompok tersebut, pada 2001. Kedua pihak dikabarkan telah beberapa kali mencoba mengadakan perundingan damai, namun gagal.

Perjanjian damai ditujukan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 18 tahun itu. Taliban meminta AS menarik 14.000 pasukannya dan ribuan pasukan tentara NATO. Di sisi lain, Taliban harus menjamin agar Afghanistan tidak lagi digunakan sebagai pangkalan militan untuk melakukan serangan terhadap AS dan sekutunya.

Selama proses perundingan perdamaian berlangsung, Taliban diminta menghentikan serangan. Tetapi Taliban menolak permintaan itu. Sebaliknya, mereka justru meningkatkan serangan di seluruh wilayah kekuasaannya, termasuk Pakistan yang menjadi tempat pelarian sebagian anggota Taliban.

"Para pemimpin Taliban harus menunjukkan bahwa mereka dapat menghentikan serangan. Jika tidak, lalu apa gunanya mengadakan negosiasi panjang dengan Baradar (Pemimpin Taliban di Afghanistan)," kata seorang diplomat Barat di Kabul.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini