Serangan Trump ke Iran Dinilai Bagian Kampanye 2020 dan Pengalihan Isu Pemakzulan

Selasa, 7 Januari 2020 07:48 Reporter : Hari Ariyanti
Serangan Trump ke Iran Dinilai Bagian Kampanye 2020 dan Pengalihan Isu Pemakzulan Donald Trump. ©2019 AFP Photo

Merdeka.com - Jauh sebelum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan pembunuhan Panglima Pasukan Garda Revolusi Iran, Qassim Sulaimani, Trump beberapa tahun lalu berkicau Twitter bahwa Presiden AS saat itu, Barack Obama mempersiapkan perang dengan Iran dengan tujuan agar kembali memenangkan Pilpres.

Banyak pihak memperkirakan pembunuhan Sulaimani dengan serangan pesawat tanpa awak pada Jumat (3/1) pagi diprediksi akan memperbesar potensi perang antara AS dan Iran.

"Presiden Trump baru saja melemparkan dinamit ke dalam lemari besi," kata mantan Wakil Presiden Joe Biden, yang juga kandidat calon presiden dari Partai Demokrat.

Perintah Trump untuk membunuh Sulaimani turun 10 bulan sebelum Pilpres, dimana Trump akan maju kembali sebagai capres untuk periode kedua dan beberapa pekan setelah DPR AS menyetujui proses pemakzulannya.

Trump membenarkan tindakannya dengan alasan Sulaimani telah membunuh dan melukai ribuan warga Amerika dan berencana membunuh lebih banyak lagi.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan keputusan Trump dibuat untuk menanggapi ancaman yang bisa terjadi dalam waktu dekat terhadap warga Amerika.

1 dari 2 halaman

Pada November 2011, setahun sebelum Pilpres AS 2012, dimana Obama menang untuk kedua kali, Trump berkicau di Twitter: "Demi terpilih kembali, @BarackObama akan mulai perang dengan Iran."

Di bulan yang sama dia juga mengunggah video.

"Presiden kita akan mulai perang dengan Iran karena dia tak memiliki kemampuan untuk negosiasi. Dia lemah dan tak efektif. Jadi satu-satunya cara dia memperkirakan dia akan terpilih kembali, dan yakin bisa menjabat lagi, adalah memulai perang dengan Iran," kata dia seperti dikutip dari CNBC, Senin (6/1).

"Sekarang, saya lebih militan dan jauh lebih militeristik daripada presiden. Saya percaya pada kekuatan, tetapi untuk memulai perang untuk terpilih, dan saya percaya itu akan terjadi, akan memicu sebuah kemarahan."

"Saya percaya dia akan menyerang Iran beberapa saat sebelum pemilihan," imbuhnya.

Trump mengulangi peringatanya pada Agustus 2012, dan Oktober 2012, sebulan sebelum Pilpres.

Obama tidak pernah memulai perang dengan Iran.

Berbeda dengan cuitannya tujuh tahun lalu, Trump pada Jumat pagi mengatakan Obama - atau presiden AS lainnya - seharusnya bersikap agresif terhadap Iran dan memerintahkan pembunuhan Sulaimani.

"Dia (Sulaimani) seharusnya dimusnahkan bertahun-tahun yang lalu!" kicaunya.

2 dari 2 halaman

David Mark menulis di kolom Think NBC News, bahwa tindakan Trump yang memerintahkan pembunuhan Sulaimani untuk mengalihkan isu pemakzulan yang akan segera memasuki tahap persidangan di Senat. Dia juga menilai dapat merugikan Trump secara politik apalagi tingkat persetujuan atau penerimaan masyarakat atas Trump cukup rendah.

Tingkat penerimaan terhadap Trump hampir tidak berubah sepanjang masa kepresidenannya, terjebak di bawah 40 persen.

"Dia adalah presiden yang paling terpolarisasi, dan sikap partisan terhadapnya ada di kedua sisi," ujarnya.

Trump dapat menghadapi konsekuensi politik yang tidak menguntungkan lainnya: Ketidakstabilan dengan Iran dapat membantu naiknya elektabilitas kandidat Demokrat seperti Joe Biden dan Bernie Sanders. Biden, mantan Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, dalam hasil jajak pendapat dinilai tokoh yang memiliki kapabilitas dalam menangani kebijakan luar negeri.

"Sejauh ini, kemenangan politik terbesar Trump dalam membunuh Sulaimani telah mengalihkan isu nasional dari pemakzulan. Tapi kemungkinan akan cepat berlalu begitu Demokrat mengirim pasal pemakzulan ke Senat dan sidang dimulai. Dan bahkan jika obrolan politik sekali lagi beralih ke Iran, itu mungkin karena pembalasan Iran - dengan hasil yang buruk membuat sulit bagi Trump untuk melakukan pukulan efektif terhadap Demokrat," tulisnya. [pan]

Baca juga:
Drone yang Tewaskan Sulaimani Terbang dari Qatar
Balas Dendam Iran Setelah AS Bunuh Panglima Qassim Sulaimani
Putri Qassim Sulaimani Ancam AS & Israel: Kalian akan Hadapi Hari-hari Gelap
Donald Trump Ancam Jatuhkan Sanksi Pada Irak Karena Seruan Pengusiran Pasukan AS
Kepala Donald Trump Dihargai USD 80 Juta?

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini