Senator Filipina Tantang Duterte Tes Narkoba karena Bercanda Soal Ganja

Jumat, 7 Desember 2018 22:40 Reporter : Merdeka
Senator Filipina Tantang Duterte Tes Narkoba karena Bercanda Soal Ganja Presiden Filipina Rodrigo Duterte. AFP/Getty Images

Merdeka.com - Senator Filipina, Antonio Trillanes, kemarin menantang Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk menjalani tes narkoba. Antonio berani menantang Duterte setelah presiden Filippina itu mengaku hanya bercanda saat dia bilang bahwa dia mengisap ganja selama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Singapura pada bulan lalu.

"Sekarang, jika dia benar-benar ingin membuktikan bahwa ucapannya kemarin hanya bercanda semata, saya menantangnya untuk melakukan tes narkoba terlebih dahulu," tegas Antonio yang merupakan oposisi, dalam sebuah pernyataan, yang dikutip dari The Strait Times, Jumat (7/12).

Kritikus tersebut mengatakan, perkataan Duterte yang kemudian ia sebut "hanya bercanda", telah membuat keluarga dari orang-orang yang tewas karena dituduh sebagai pengedar dan pengguna narkoba, murka.

Juru bicara Duterte, Salvador Panelo, mengatakan bahwa Duterte tidak akan menerima tantangan itu. "Seharusnya dia (Antonio) yang melakukan tes itu," ucapnya.

Rodrigo Duterte kembali membuat pernyataan kontroversial saat berpidato di muka umum. Di tengah kebijakannya untuk memberangus peredaran narkoba di negaranya, Presiden Filipina ini justru mengaku menghisap ganja sebelum menjalankan rapat besar.

Menurut dia, ia harus melakukan hal tersebut agar tidak mati gaya dan ditelan kebosanan ketika melakukan sejumlah pertemuan resmi secara "maraton". Ucapan sang pemimpin itu lantas membuat geger rakyatnya, mengingat Duterte telah menetapkan perang memberantas narkotika sejak ia menjabat pada 30 Juni 2016.

Kebijakan tersebut memicu amarah masyarakat Filipina dan mendapat kecaman internasional, lantaran ia memerintahkan agar para pengedar dan pengguna obat-obatan terlarang harus dibunuh dengan cara ditembak di tempat, tanpa harus menjalani proses peradilan terlebih dahulu.

Sementara itu, perkataan Duterte terkait ganja yang dihisapnya sebelum rapat, disampaikan ketika ia membuka acara di Kementerian Luar Negeri, Manila, pada hari Senin, 3 Desember 2018. Saat itu, ia membahas soal ketidakhadirannya pada empat agenda penting dalam KTT ASEAN.

Katanya, rapat seremonial antar kepala negara, biasanya, amat membosankan dan harus dimulai sejak pagi. Ia pun mengeluhkan waktu dimulainya KTT tersebut, yakni 08.30 waktu setempat, yang menurutnya masih 'dini hari'. Ia pun mengkau bahwa ia bukan tipikal orang yang bisa bangun 'subuh', sebab ia kerap lembur dan baru bisa memejamkan mata selepas tengah malam.

"Mungkin, sekretariat ASEAN mengira kami ini pramuka, ya?" ujarnya, sembari disambut tawa hadirin, seperti dikutip dari Al Jazeera, Jumat (7/12).

"Untungnya, di usia saya sekarang ini (73) tahun, hal itu tidak menjadi permasalahan, sebab saya menghisap mariyuana agar bisa terus melek," lanjut Rodrigo Duterte yang lahir pada 28 Maret 1945.

Sementara itu, ketika ditanya oleh wartawan dalam sebuah konferensi pers terkait perpanjangan undang-undang darurat militer di Pulau Mindanao, Duterte kembali menyinggung soal tanaman psikotropika tersebut.

"Keputusan akan dibuat ketika rapat Kabinet, setelah sesi mengisap ganja 'berjamaah' kami lakukan, agar nantinya kami bisa berpikir jernih," selorohnya. Perkataannya ini langsung mendapat sorotan tajam dari media.

Di Filipina, yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, seseorang yang mengantongi ganja sekecil apa pun bisa mengirim orang itu ke sel tahanan, dengan masa kurungan yang lama.

Sejak terjadi penembakan massal yang menyasar para pemakai dan bandar narkoba, yang berkaitan dengan Philippine Drug War, banyak perempuan dan anak-anak terbunuh. Sebagian besar penembak adalah anggota polisi dan milisi sipil yang didukung oleh Duterte.

Dalam dua pekan pertama masa kepresidenan Rodrigo Duterte, lebih dari 100 pengedar narkoba dibunuh, 1.844 ditangkap dan 66.000 pemakai dan pengedar narkoba menyerahkan diri. Pada Agustus 2016, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 1.800 dibunuh, 5.400 ditangkap dan 565.805 pengedar dan pemakai menyerahkan diri kepada kepolisian.

Di satu sisi, per 30 April 2018, pemerintah Filipina mengklaim sudah ada 4.200 orang yang tewas karena bersentuhan dengan barang haram itu. Sedangkan senator oposisi mengklaim, lebih dari 20.000 telah ditembak dan meninggal di lokasi kejadian.

Reporter: Afra Augesti

Sumber: Liputan6.com [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini