Sebut negara-negara Afrika 'gembel', Trump dikecam PBB hingga Vatikan

Sabtu, 13 Januari 2018 11:55 Reporter : Ira Astiana
Sebut negara-negara Afrika 'gembel', Trump dikecam PBB hingga Vatikan trump lupa lirik lagu kebangsaan. ©Youtube

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan mengejutkan dan memalukan dalam sebuah pertemuan semi-publik dengan para anggota senator imigrasi Kamis lalu. Trump mempertanyakan mengapa banyak warga dari 'negara gembel' seperti negara-negara Afrika, Haiti, dan El Salvador diizinkan masuk AS.

Pernyataan tersebut sontak memicu kemarahan dari negara bersangkutan. Tidak hanya itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun mengecam pernyataan itu dan menyebut Trump rasis.

"Tidak ada kata lain yang bisa digunakan untuk menggambarkan seorang Trump selain rasis. Anda tidak bisa menyebut sebuah negara atau benua 'gembel' hanya karena populasinya bukan orang kulit putih. Ini tidak bisa diterima," kata juru bicara hak asasi manusia PBB, Rupert Colville, dalam konferensi pers di Jenewa, seperti dikutip dari laman The Guardian, Sabtu (13/10).

Hal serupa juga diungkapkan oleh perwakilan Vatikan. kata-kata Trump dinilai Vatikan sangat kasar dan menyinggung.

Meski demikian, Trump berkeras enggan mengakui bahwa dirinya telah mengucapkan kata-kata yang merendahkan. Dia hanya mengaku bahwa bahasa yang dia gunakan dalam pertemuan itu memang agak 'berat'. Namun tentu saja sangkalannya itu ditepis oleh salah satu senator demokrat yang hadir dalam pertemuan itu, Dick Durbin.

"Laporan yang beredar itu sepenuhnya akurat. Dia memang mengatakan hal-hal yang sarat kebencian dan melakukannya berulang kali. Kata 'gembel' bahkan bukan hanya diucapkannya atau dua kali, tetapi berkali-kali," beber Durbin.

Sementara itu sebagai pemimpin yang negaranya ikut disebut, Presiden El Salvador, Salvador Sánchez, menyebut kata-kata Trump itu menyinggung martabat seluruh penduduk negaranya. "Kami secara resmi memprotes dan sepenuhnya menolak pernyataan seperti ini ditujukan kepada kami," tulisnya dalam akun Twitternya.

Kini, diplomat AS di negara yang bersangkutan sedang dipanggil untuk ditegur dan dituntut penjelasan. [bim]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini