Sebulan Diblokade India, Situasi Kashmir Masih Jauh dari Normal

Jumat, 6 September 2019 18:21 Reporter : Merdeka
Sebulan Diblokade India, Situasi Kashmir Masih Jauh dari Normal aparat keamanan berjaga di Kashmir. ©AFP

Merdeka.com - Warga Kashmir menentang pernyataan pemerintah India bahwa situasi di wilayah sengketa itu, telah mendekati normal. Sebelumnya, pemerintah India mengklaim pemblokiran akses di Kashmir akan berangsur normal seiring dengan situasi keamanan di sana.

Dilansir dari laman PressTv, Jumat (6/9), banyak toko yang masih tutup, karyawan di sektor publik dan swasta juga belum terlihat bekerja. Bahkan, kegiatan belajar mengajar pun belum bisa berjalan sebagaimana mestinya. Banyak siswa yang masih memboikot kelas.

Di Srinagar, ibu kota Kashmir, poster-poster meminta agar toko-toko hanya buka pada malam hari hingga pagi dini hari. Dengan demikian, penduduk setempat masih bisa membeli keperluan pokok mereka.

Di area pusat ekonomi Srinagar, pasukan India telah meminta pertokoan untuk kembali beroperasi seperti biasa. Namun, sebagian besar toko tetap memilih untuk tutup.

"Kami membuka toko di malam hari untuk orang-orang," kata Mohammad Ayub, seorang penjaga toko di Srinagar yang ditemui Reuters.

Meki demikian, pedagang lain seperti Shabir Ahmad masih berharap agar pemerintah segera mengembalikan situasi seperti sediakala. "Biarkan mereka (pemerintah) mengembalikannya dan kita akan memulai kembali bisnis kita," ungkapnya.

Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah Negara Bagian Jammu dan Kashmir, Rohit Kansal menyalahkan kelompok "anti-nasional", karena mencegah pertokoan kembali buka. "Pasukan keamanan telah mencatatnya," tegas Kansal.

Menurut Kansal, sebanyak 4.000 sekolah di Kashmir telah kembali berfungsi. Bahkan dia menyebut jumlah kehadiran siswa meningkat, meskipun kondisi tersebut belum merata ke semua daerah di Kashmir.

Sebaliknya, penduduk setempat mengatakan, banyak sekolah kosong. "Bagaimana saya bisa mengirim anak-anak saya ke sekolah? Ada tindakan keras dan kami khawatir akan keselamatan di lingkungan kami," ungkap Javed Ahmad, seorang wali murid di Srinagar.

Pemblokiran akses komunikasi dan penjagaan ketat di wilayah Kashmir, membawa dampak bagi semua bidang kegiatan di wilayah tersebut. Hal ini sudah berlangsung beberapa minggu, sejak India yang dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Narendra Modi mencabut status otonomi khusus bagi Kashmir.

Para wisatawan pun enggan datang. Hal tersebut membuat pemilik hotel merugi, karena tidak ada yang datang. Masjid Jamia, salah satu objek wisata bersejarah di Srinagar pun telah ditutup selama sebulan terakhir.

PressTv mengabarkan pada Kamis (5/9), layanan pos di Kashmir masih sangat terganggu. Termasuk pula situs belanja daring (online), Amazon. Pihak Amazon mengatakan, layanan dari dan menuju Kashmir hingga saat ini masih ditangguhkan.

Dari sektor kesehatan, para apoteker kekurangan persediaan obat-obatan akibat masalah logistik. Obat-obatan yang menipis antara lain obat tiroid, diabetes, anti-depresi dan kanker.

Pada Kamis (5/9), Kepala Amnesty Internasional India, Aakar Patel mendesak New Delhi untuk mencabut blokade komunikasi.

"(Pencabutan komunikasi) ini sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari orang-orang Kashmir, kesejahteraan emosional, dan mental mereka, perawatan medis, serta akses ke kebutuhan dasar," ungkap kepala kelompok hak asasi manusia itu.

Menurut Patel, dampak pencabutan akses komunikasi begitu besar, hingga memengaruhi kebutuhan dasar warga Kashmir. Termasuk akses pada layanan darurat.

Tanggal 5 Agustus lalu, PM Narendra Modi mencabut hak otonomi khusus untuk negara bagian Jammu dan Kashmir. Menyusul keputusan tersebut, pemerintah memutus akses komunikasi di wilayah tersebut dengan alasan keamanan.

Di pekan yang sama setelah keputusan tersebut, warga Srinagar mengadakan demo. Ribuan orang ditahan, termasuk para pemimpin separatis dan politisi setempat.

Beberapa waktu lalu, pemerintah India sempat menyatakan akan mengembalikan akses di Kashmir secara bertahap. Namun, pemulihan akses bergantung pada kondisi keamanan di wilayah dengan mayoritas Muslim itu.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Kashmir
  2. India
  3. Konflik Kashmir
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini