Saya Takut Pemerintah China Ajarkan Anak Saya Benci Budaya Uighur
Merdeka.com - Salah seorang murid kelas satu adalah murid yang baik dan disayangi teman-teman sekelasnya, tetapi itu tak cukup menghiburnya yang selalu murung dan bersedih, dan gurunya tahu apa penyebabnya.
"Hal paling menyakitkan adalah bocah perempuan itu sering terlihat murung sendiri dan menangis. Ketika saya menanyakan sekeliling, saya paham itu karena dia merindukan ibunya," tulis seorang guru dalam sebuah blog.
Ibunya, lanjutnya, dikirim ke kamp penahanan etnis minoritas Muslim. Ayah bocah tersebut telah meninggal dunia. Daripada membiarkan bocah tersebut dirawat keluarganya, pihak berwenang memasukkannya ke sekolah asrama negeri, salah satu dari ratusan fasilitas yang dibuka di wilayah Xinjiang, China.
Sebanyak 1 juta etnis Uighur, Kazakh dan lainnya telah dikirim ke kamp-kamp dan penjara-penjara di Xinjiang selama tiga tahun terakhir. Meskipun penahanan massal ini telah memprovokasi kemarahan global, pemerintah China terus bergerak dan juga menargetkan anak-anak di kawasan itu.
Hampir setengah juta anak-anak dipisahkan dari keluarganya dan ditempatkan di sekolah asrama, menurut dokumen perencanaan diterbitkan oleh situs web pemerintah, dan partai komunis yang berkuasa telah menargetkan operasional satu sampai dua sekolah di 800 kota di wilayah Xinjiang sampai akhir tahun depan. Demikian dilansir dari The New York Times, Senin (30/12).
Partai Komunis mempresentasikan sekolah tersebut sebagai salah satu cara mengentaskan kemiskinan, dengan alasan bahwa hal itu membuat anak-anak lebih mudah masuk kelas jika orang tua mereka tinggal atau bekerja di daerah terpencil atau tidak mampu merawat mereka. Dan memang benar bahwa banyak keluarga pedesaan sangat ingin mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah ini.
Tapi sekolah-sekolah ini juga dirancang untuk asimilasi dan indoktrinasi anak-anak sejak usia muda, jauh dari pengaruh keluarga mereka, menurut dokumen tersebut yang diterbitkan pada 2017. Sekolah-sekolah terlarang bagi orang luar dan sangat dijaga ketat, dan sulit mewawancarai penduduk di Xinjiang karena mereka harus menghadapi risiko penangkapan. Tapi gambaran tentang sekolah ini muncul dari wawancara dengan orang tua Uighur yang tinggal di pengasingan dan dokumen yang diterbitkan secara online, termasuk catatan pengadaan, pemberitahuan pemerintah, laporan media pemerintah dan blog para guru di sekolah-sekolah.
Media pemerintah dan dokumen tersebut menjelaskan pendidikan adalah komponen kunci dari program Presiden Xi Jinping untuk memberantas kekerasan ekstremis di Xinjiang. Idenya adalah menggunakan sekolah asrama sebagai inkubator generasi baru Uighur yang sekuler dan lebih setia kepada partai dan bangsa.
"Strategi jangka panjang adalah untuk menaklukkan, menarik, untuk memenangkan generasi muda sejak awal," kata Adrian Zenz, seorang peneliti di Victims of Communism Memorial Foundation di Washington yang telah mempelajari kebijakan China yang memisahkan para keluarga Uighur.
Dalam program ini, pejabat di Xinjiang merekrut puluhan ribu guru dari seluruh China, terbanyak dari etnis Han, etnis mayoritas China. Sementara itu secara bersamaan guru Uighur dipenjara dan diancam akan ditangkap jika melawan.
Berdasarkan dokumen tersebut, para murid di asrama tersebut hanya diizinkan mengunjungi keluarganya sekali dalam sepekan. Tujuannya adalah agar si anak tak terpengaruh atmosfir keagamaan di rumah mereka.
Berkunjung ke TK dekat kota Kashgar bulan ini, pejabat tinggi partai komunis di Xinjiang, Chen Quanguo meminta para guru mengajarkan anak-anak untuk mencintai partai komunis, mencintai China, dan rakyatnya.
Indoktrinasi Anak-anak
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comAbdurahman Tohti meninggalkan Xinjiang dan pindah ke Turki pada 2013, meninggalkan lahan kapasnya dan menjual mobil bekas di Istanbul. Tapi saat istri dan dua anaknya berkunjung ke China beberapa tahun lalu, mereka menghilang.
Dia mendengar istrinya dipenjara, seperti banyak etnis Uighur lainnya yang berkunjung ke luar negeri dan ditangkap setelah kembali ke China. Orang tuanya juga dipenjara. Nasib anak-anaknya masih jadi misteri.
Pada Januari, dia melihat bocah laki-laki empat tahun dalam sebuah video di media sosial China yang direkam seorang guru. Bocah tersebut diperkirakan berada dalam sekolah asrama dan berbicara bahasa Mandarin, bahasa yang tidak digunakan keluarganya.
Tohti (30) senang melihat anak-anak tersebut, dan yakin anaknya aman, tapi juga diserang keputusasaan.
"Hal yang paling saya takutkan adalah pemerintah China mengajarkan mereka membenci orang tuanya dan budaya Uighur," ujarnya.
Selama beberapa dekade, Beijing berusaha menekan perlawanan Uighur terhadap pemerintahan China di Xinjiang, sebagian dengan menggunakan sekolah-sekolah di wilayah itu untuk mengindoktrinasi anak-anak Uighur. Namun belakangan pemerintah mengizinkan sebagian besar kelas diajarkan dengan bahasa Uighur, sebagian karena kekurangan guru berbahasa Mandarin.
Kemudian, setelah gelombang antipemerintah dan kekerasan anti-China, termasuk kerusuhan etnis pada 2009 di Urumqi, ibukota regional, dan serangan mematikan oleh militan Uighur pada 2014, Xi Jinping memerintahkan partainya mengambil kebijakan lebih keras di Xinjiang, menurut dokumen internal yang bocor ke The New York Times awal tahun ini.
Pada Desember 2016, partai mengumumkan tugas biro pendidikan daerah sedang memasuki fase baru. Sekolah menjadi perpanjangan dari upaya keamanan di Xinjiang, dengan penekanan baru pada bahasa Mandarin, patriotisme, dan kesetiaan kepada partai.
Dalam dokumen kebijakan 2017, yang diunggah di situs web Kementerian Pendidikan, para pejabat dari Xinjiang menjabarkan prioritas baru mereka dan memberi peringkat ekspansi sekolah asrama di bagian atas.
Tanpa menyebut Islam secara spesifik, dokumen itu menyebut agama sebagai pengaruh buruk pada anak-anak. Beberapa warga Uighur yang tinggal di luar negeri mengatakan pemerintah telah memasukkan anak-anak mereka di sekolah asrama tanpa persetujuan mereka.
Pengamanan Ketat
Di sebuah desa berdebu dekat kota Hotan di Xinjiang selatan, terletak di antara ladang pohon kenari tandus dan rumah-rumah beton sederhana, sekolah dasar itu cukup menonjol.Sekolah dikelilingi tembok tinggi dengan dua lapisan kawat berduri di atasnya. Kamera dipasang di setiap sudut. Dan di pintu masuk, seorang penjaga mengenakan helm hitam dan rompi pelindung berdiri di samping detektor logam.Tahun lalu, para pejabat mengubah sekolah di desa Kasipi menjadi sekolah asrama penuh waktu.Pemerintah mengatakan anak-anak di sekolah asrama Xinjiang diajarkan kebersihan dan etika, juga keterampilan China dan sains yang akan membantu mereka menjadi anak yang sukses di masa depan.Kang Jide, guru bahasa Mandarin di sekolah tersebut menulis di blognya bahwa dipisahkan dari keluarga merugikan anak-anak. Beberapa anak tidak pernah menerima kunjungan dari kerabat, atau tetap di asrama selama liburan. Dan murid-muridnya sering memohon untuk menggunakan teleponnya untuk menghubungi orang tua mereka."Kadang-kadang, ketika mereka mendengar suara di ujung telepon, anak-anak akan mulai menangis dan mereka bersembunyi di sudut karena mereka tidak ingin saya melihat," tulisnya."Bukan hanya anak-anak," tambahnya. "Orang tua di ujung sana juga sangat merindukan anak-anak mereka, sehingga membuat hati mereka hancur dan mereka gemetar."Keamanan yang lebih ketat telah menjadi aturan di sekolah-sekolah di Xinjiang. Di Hotan saja, lebih dari satu juta dolar telah dialokasikan dalam tiga tahun terakhir untuk membeli peralatan pengawasan dan keamanan untuk sekolah, termasuk helm, perisai, dan tongkat berduri, menurut catatan pengadaan. Di pintu masuk ke satu sekolah dasar, sistem pengenalan wajah telah dipasang.
Revisi Buku Teks Pelajaran
Partai komunis meluncurkan upaya intensif untuk merekrut guru untuk Xinjiang dari seluruh China. Tahun lalu, hampir 90.000 dibawa ke Xinjiang, dipilih sebagian karena keandalan politik mereka, kata para pejabat pada konferensi pers tahun ini. Pejabat di Xinjiang juga menghabiskan dua tahun untuk memeriksa dan merevisi ratusan buku teks pelajaran dan bahan pengajaran lainnya, menurut dokumen kebijakan 2017.Beberapa yang membantu partai menulis dan mengedit buku teks lama berakhir di penjara, termasuk Yalqun Rozi, seorang sarjana dan kritikus sastra terkemuka yang membantu menyusun satu set buku teks pada literatur Uighur yang digunakan selama lebih dari satu dekade.Rozi didakwa dengan percobaan subversi dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara tahun lalu, menurut putranya, Kamaltrk Yalqun. Beberapa anggota komite lainnya yang menyusun buku pelajaran juga ditangkap, katanya."Alih-alih menyambut keanekaragaman budaya Uighur, China menyebutnya tumor ganas," kata Yalqun, yang tinggal di Philadelphia.Ada bukti bahwa beberapa anak Uighur telah dikirim ke sekolah berasrama yang jauh dari rumah mereka.Kalbinur Tursun (36), mempercayakan lima anaknya kepada kerabat ketika dia meninggalkan Xinjiang untuk melahirkan di Istanbul tetapi tidak dapat menghubungi mereka selama beberapa tahun.Tahun lalu, dia melihat putrinya Ayshe, saat itu berusia 6 tahun, dalam sebuah video yang beredar di media sosial China. Video itu diperkirakan diunggah pengguna yang terlihat sebagai guru di sebuah sekolah di Hotan - lebih dari 300 mil jauhnya dari rumah mereka di Kashgar."Anak-anak saya masih sangat muda, mereka hanya membutuhkan ibu dan ayah mereka," kata Tursun, mengungkapkan keprihatinan tentang bagaimana pihak berwenang membesarkan mereka."Saya khawatir mereka akan berpikir bahwa saya adalah musuh - bahwa mereka tidak akan menerima saya dan akan membenci saya."
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya