Riyadh Diserang Dua Hari Beruntun, 13 Tewas

Bandara King Khalid di Riyadh diserang dua hari berturut-turut. 13 orang tewas, ratusan luka. Koalisi Arab Saudi merespons, AS menimbang opsi. Ini faktanya.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Riyadh Diserang Dua Hari Beruntun, 13 Tewas
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, kembali menjadi sasaran serangan pada Minggu. Sebuah proyektil menghantam terminal penumpang, sehari setelah serangan rudal di terminal yang sama menewaskan sedikitnya 12 orang. (AP Photo)

Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, kembali diserang pada Minggu. Sebuah proyektil menghantam terminal penumpang, sehari setelah serangan rudal di lokasi yang sama menewaskan sedikitnya 12 orang.

Dikutip dari APNews, Senin (12/10/2026), koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok Houthi di Yaman menyebut serangan terbaru terjadi di kompleks Terminal 3 dan 4 yang melayani penerbangan domestik. Otoritas Saudi melaporkan sejumlah orang terluka.

Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini dan beberapa serangan lainnya.

Bandara King Khalid ditutup sejak serangan rudal pada Sabtu. Serangan itu disebut sebagai yang paling mematikan di negara Arab kawasan Teluk sejak perang Iran dimulai. Lebih dari 300 orang terluka, sebagian di antaranya dalam kondisi kritis.

Kedutaan Besar India di Arab Saudi menyatakan satu warganya meninggal pada Minggu akibat luka dari serangan sehari sebelumnya, sehingga total korban tewas bertambah menjadi 13 orang.

Otoritas Saudi juga menyampaikan Bandara Internasional King Fahd di Dammam turut diserang, namun belum ada perincian lebih lanjut. Dammam berada di pesisir Teluk Persia, dekat Bahrain dan Qatar.

Eskalasi ini berpotensi mendorong keterlibatan militer Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan sedang mempertimbangkan untuk ikut memerangi Houthi. Gedung Putih belum memberikan komentar pada Minggu.

Trump juga berencana berbicara dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, namun hingga Minggu belum ada tanda pembicaraan tersebut berlangsung.

Serangan terbaru di Riyadh terjadi tak lama setelah Houthi menyebut bandara di Sanaa, ibu kota Yaman yang mereka kuasai, kembali diserang dan menyalahkan Arab Saudi. Pada Minggu malam, stasiun televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi melaporkan serangan lanjutan di Sanaa dan menuding Arab Saudi. Pemerintah Saudi belum memberikan komentar.

Dampak ke Minyak dan Pelayaran, Respons Arab Saudi

Eskalasi konflik kembali menimbulkan kekhawatiran atas pasokan dan harga minyak global, serta aktivitas pelayaran komersial melalui jalur alternatif menuju Selat Hormuz yang kerap terancam Iran.

Jika keterlibatan militer AS meningkat, hal itu dapat mendorong Houthi menghentikan pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb di ujung selatan Laut Merah, dekat Yaman. Jika skenario itu terjadi, aliran minyak dari Teluk Persia berisiko semakin terhambat.

Bulan lalu, Houthi merebut sejumlah wilayah strategis di sepanjang selat tersebut. Koalisi pimpinan Arab Saudi, yang mendukung pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, berupaya merebut kembali area-area itu.

Rentetan serangan Houthi terhadap bandara, infrastruktur minyak, dan fasilitas militer Arab Saudi juga menyoroti tantangan pada pertahanan udara kerajaan.

Sejumlah pejabat regional mengatakan kepada The Associated Press bulan lalu bahwa Arab Saudi mulai kehabisan rudal pencegat dan telah meminta Prancis, Inggris, Pakistan, serta Mesir mengerahkan dukungan pertahanan udara ke kawasan. Salah satu pejabat menyebut persediaan rudal pencegat AS juga menurun selama perang Iran.

Sejumlah maskapai menghentikan penerbangan ke dan dari bandara-bandara di Arab Saudi. Beberapa kedutaan memperingatkan warga negara masing-masing mengenai risiko menggunakan bandara tersebut, setelah Houthi berulang kali memperingatkan penggunaan wilayah udara Saudi.

Serangan pada Minggu terjadi saat Arab Saudi menjadi tuan rumah konferensi energi internasional berskala besar di Riyadh. Sejumlah agenda penting lain, termasuk pertemuan investasi, juga dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, kerajaan berupaya membuka diri sebagai tujuan bisnis dan pariwisata, namun rangkaian serangan Houthi mengancam upaya tersebut.

Dalam konferensi tersebut, Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman Al Saud, menyampaikan pesan ketahanan. "Tidak ada yang bisa mematahkan kami. Kami seperti burung phoenix, kami selalu bangkit dari abu," kata Pangeran Abdulaziz bin Salman Al Saud.

Ia menambahkan bahwa kerajaan tengah mengerjakan jalur pipa selain pipa East-West, yang diserang dan ditutup selama beberapa hari pada bulan lalu. Namun, ia tidak memberikan perincian lebih lanjut mengenai proyek tersebut.

Rekomendasi