Debat capres pertama AS antara petahana Donald Trump dan lawannya, Joe Biden sangat kacau membuat pembaca berita Yahoo News Taiwan, Catherine Lu berpikir ada gangguan teknis dengan alat pendengarnya atau earphone.
"Saya jarang menemukan situasi begini," ujarnya saat siaran langsung sembari menjelaskan dalam bahasa Mandarin.
"Trump terus menyanggah Biden, dan Biden juga menyanggah Trump. Jadi (mereka dan moderator bicara bersamaan). Sulit mengerti apa pendapat setiap orang," lanjutnya, dilansir South China Morning Post, Kamis (1/10).
Kepada This Week in Asia, dia mengatakan untuk beberapa detik dia "tak bisa memahami kata-kata, hanya suara yang sahut menyahut bersamaan".
"Saya sangat ingin Biden menyelesaikan seluruh kalimat! Saya tak memiliki preferensi politik yang kuat, tapi tetapi saya berharap setidaknya kan ini soal presidensial."
Namun, Lu menganggap sanggahan Trump telah menjadi bagian dari rencana permainan kampanyenya.
"Dia berhasil menghancurkan rencana permainan Biden, (dengan mengambil) permainan itu bersamanya. ”
Advertisement
Di negara-negara Asia di mana debat ditayangkan secara langsung dengan terjemahan, penonton dan penerjemah sama-sama tercengang, bingung, dan tertekan.
Para penerjemah dengan cepat mendapati diri mereka berbicara dan berteriak satu sama lain, mengikuti peserta debat, ketika Trump menggertak Biden dan pesaingnya itu bereaksi dengan jengkel - sementara moderator Chris Wallace dari Fox News berulang kali meminta Trump untuk membiarkan lawannya berbicara.
Kedua capres ini saling melontarkan tuduhan pada isu-isu mulai dari kebijakan ekonomi, ras, dan Mahkamah Agung, selain saling menyerang hal pribadi dalam sesi yang oleh komentator Amerika digambarkan sebagai "kekacauan" dan "debat terburuk dalam sejarah".
Tony Tsou - bagian dari tim beranggotakan dua orang yang menerjemahkan untuk siaran langsung stasiun berita CTI Taiwan, yang telah menerjemahkan Trump sejak debat presiden 2016 - mengatakan dia merasa debat pada Selasa malam waktu AS itu lebih menantang karena interupsi terus-menerus.
"Jauh lebih buruk dari sebelumnya," ujarnya.
"Menurut saya pribadi, saya pikir Biden lebih baik dalam hal substansi apa yang dia sampaikan. Trump, pada satu sisi, muncul lebih energik. Dia juga muncul seperti seorang anak perisak di halaman sekolah, tapi menurut saya tak masalah bagi pendukungnya."
Advertisement
Di Jepang, tempat debat disiarkan di stasiun televisi nasional NHK, tayangan upaya keras penerjemah dimuat di Twitter. Satu pesan dalam bahasa Jepang berbunyi "Kami merasa sangat kasihan kepada orang Amerika yang sopan", sementara yang lain mengatakan: "Berapa pun gaji penerjemah itu, mereka berhak mendapatkan lebih."
“Sebagian memang menghibur, tetapi saya akan mengatakan bahwa saya lebih terkejut melihat betapa tidak presidensial perdebatan itu,” kata Hiromi Murakami, seorang profesor ilmu politik di kampus Universitas Temple Tokyo.
“Mendebat Trump pasti menjadi tugas yang sulit, tetapi saya pikir (Biden) berhasil menyampaikan apa yang dia inginkan, meskipun dia memiliki kesempatan terbatas.”
Murakami mengatakan, konfrontasi "menunjukkan karakter sebenarnya" dari keduanya, termasuk saat Biden kesal dan meminta Trump "tutup mulut".
"Tapi pada akhirnya, saya masih bertanya-tanya Amerika seperti apa yang mereka inginkan di masa depan," katanya.
"Saya masih tidak tahu apa yang mereka inginkan, kebijakan yang mereka rencanakan, dan ke mana tujuan AS."
Advertisement
Di Vietnam, penerjemah yang bertugas selama siaran langsung melewatkan beberapa pokok pembicaraan dari kedua capres karena mereka juga berupaya untuk mengimbangi banyaknya sanggahan dan kata seru. Namun di Facebook, yang memiliki lebih dari 60 juta pengguna di negara dengan populasi 100 juta itu, cinta untuk Trump mengalir tanpa gangguan.
Dalam komentar unggahan di halaman Facebook "Orang yang mencintai Donald J. Trump" berbahasa Vietnam, yang memiliki 290.000 pengikut, beberapa pengguna menuduh moderator Wallace dari Fox News mendukung Biden dan mengganggu Trump.
Halaman Facebook dari saluran televisi pemerintah juga banjir dukungan untuk terpilihnya kembali Trump.
"Saya berharap Bapak Trump terpilih untuk menghancurkan China karena China sangat angkuh terhadap negara lain tetapi tidak ada presiden yang memprotes (China) seperti Bapak Trump," tulis seorang pengguna Facebook bernama Cuong Van.
Di VnExpress, salah satu surat kabar online yang paling banyak dibaca di Vietnam, sebuah jajak pendapat yang menanyakan pembacanya tentang presiden AS berikutnya memiliki 80 persen responden yang menyukai Trump.