Tentara Israel Akui Kesalahan Atas Serangan di Gaza Tewaskan 34 Orang

Tentara Israel mengaku bersalah atas serangan di Gaza pada November lalu yang menewaskan 34 orang, dimana sembilan korban tewas merupakan anggota satu keluarga.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Tentara Israel Akui Kesalahan Atas Serangan di Gaza Tewaskan 34 Orang
Warga Gaza yang tewas dalam serangan tentara Israel pada November 2019.. ©2019/Hassan Jedi/Aljazeera

Tentara Israel mengaku bersalah atas serangan di Gaza pada November lalu yang menewaskan 34 orang, dimana sembilan korban tewas merupakan anggota satu keluarga.

Tentara Israel menyebut serangan itu karena kesalahan perhitungan risiko sehingga menewaskan warga sipil. Serangan udara pada 14 November itu menargetkan rumah Rasmi Abu Malhous, seorang pegawai Otoritas Palestina (PA) di Gaza, dan saudaranya Mohamed.

Sembilan anggota keluarga Sawarka tewas oleh empat serangan di atas rumahnya di Deil Al Balah. Lima korban adalah anak-anak.

Serangan udara tersebut menewaskan Rasmi, istri keduanya Maryam (45), dan tiga dari 11 anaknya yaitu Salim (3), Mohannad (12), dan Firas (3 bulan).

Bom tersebut juga menewaskan istri Mohamed, Yousra (39), dan dua putranya; Moaaz (7) dan Waseem (13). Mohamed meninggal pada 22 November karena luka-lukanya.

Korban satu keluarga ini adalah di antara 34 warga Palestina yang terbunuh dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza selama dua hari pertempuran antara Israel dan kelompok Jihad Islam. Setidaknya 63 warga Israel juga dirawat karena terluka akibat serangan roket dari Gaza.

Tentara Israel mengklaim pihaknya menargetkan rumah komandan militer Jihad Islam, pengakuan yang dibantah keluarga korban.

Pernyataan Israel

Dalam pernyataanya pada Selasa, tentara Israel mengatakan informasi intelijen yang dikumpulkan sebelum serangan itu mengindikasikan bahwa rumah itu "ditetapkan sebagai kompleks militer organisasi teror Jihad Islam".

Tentara telah "memperkirakan" bahwa "warga sipil tidak akan dirugikan akibat serangan" di titik itu, yang diyakini tidak dapat diakses warga.

Penyelidikan militer kemudian menemukan "bahwa meskipun kegiatan militer dilakukan di markas, itu bukan kompleks tertutup, dan pada kenyataannya, warga sipil ada di sana," katanya, dilansir dari Aljazeera, Kamis (26/12).

Tentara mengatakan akan belajar dari "kesalahan" untuk mengurangi "terulangnya kejadian serupa."

Ditekankan bahwa pihaknya telah melakukan "upaya besar ... untuk mengurangi korban warga sipil".

Laporan militer juga menyalahkan Jihad Islam karena mengeksploitasi dan membahayakan non-kombatan "dengan menempatkan aset militernya di jantung populasi sipil dan dengan sengaja bertindak dari dalam wilayah sipil yang padat penduduk."

Kejahatan Perang Israel

Anggota suku Sawarka Badui, Mohamad Awad mengatakan kepada Aljazeera, pengeboman Israel adalah kejahatan perang karena Rasmi dan saudaranya Mohamed adalah warga sipil dan tak ada kaitannya dengan Jihad Islam."Mereka memelihara domba dan nyaris selalu hidup susah sebelum mereka terbunuh," jelas Awad yang juga tetangga keluarga tersebut.Awad membantah klaim Israel bahwa Rasmi adalah anggota Jihad Islam. Beberapa waktu lalu, juru bicara tentara Israel Avichay Adraee menyebut serangan pada November menargetkan kepala unit roket Jihad Islam yang diidentifikasi sebagai Rasmi Abu Malhous.

Rekomendasi