Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa dipastikan gagal terpilih kembali untuk kali ketiga. Dari hasil hitung cepat pemilihan umum yang digelar Kamis (8/1), dia kalah dari pesaingnya, Maithripala Sirisena yang didukung koalisi partai oposisi.
Dilansir the Guardian, Jumat (9/1), Mahinda yang berjasa memadamkan pemberontakan Separatis Macan Tamil Elam (LTTE) pada 2009 dianggap tak cukup baik menjabat lebih dari dua kali oleh rakyatnya.
Komisi Pemilihan Umum Sri Lanka menyatakan Sirisena berhasil meraup 51,3 persen suara. Selisihnya amat mutlak, dibanding suara dari sang presiden petahana yang cuma mendapat 46,9 persen dukungan.
Berita terbaru Pemilu selengkapnya di Liputan6.com
Seorang penasehat politik sekaligus orang dekat Mahinda mengatakan sang presiden menerima kekalahan tersebut. "Ini tentu kabar buruk. Rakyat ingin perubahan dan inilah demokrasi," ujarnya.
Dari 15 juta suara masuk, lebih dari 13 persen suara sudah dihitung. Kemenangan Sirisena semakin pasti, setelah negara tetangga mengucapkan selamat.
Misalnya Perdana Menteri India Narendra Modi, langsung meneleponnya tadi pagi waktu setempat. "Saya sudah bicara dengan Shri Sirisena dan mengucapkan selamat pada seluruh rakyat Sri Lanka atas proses transisi demokratis yang damai," kata Modi melalui akun twitternya.
Sirisena adalah mantan menteri kesehatan yang akhirnya terjun jadi salah satu kandidat presiden Sri Lanka atas desakan kelompok oposisi. Pria 63 tahun ini diusung Partai Kemerdekaan Sri Lanka (SLNP) karena dianggap sosok bersih. Dapat dukungan banyak pihak Sirisena, mantan orang kepercayaan Mahinda, akhirnya membelot dari bosnya.
Dia pun mampu menarik hati pemilih etnis mayoritas Sinhala yang beragama Buddha, maupun minoritas Tamil beragama Hindu.
Adapun Mahinda yang memimpin selama satu dekade disebut pemimpin otoriter. Dia juga berlumur tudingan korupsi, karena menunjuk saudaranya menjadi pelaksana proyek pembangunan pemerintah.
Faktor korupsi bikin rakyat jengah, walau Mahinda punya jasa memadamkan pemberontakan Macan Tamil yang sudah berjalan lebih dari 30 tahun.
Sri Lanka, negara kepulauan di sebelah timur laut India adalah pendukung awal kemerdekaan Indonesia. Negara yang dulu disebut Ceylon ini lepas dari penjajahan Inggris pada 1948. Negara kecil ini tidak mau bergabung dengan India, karena mayoritas warganya beragama Buddha.
Relasi umat Buddha dan hindu dari etnis Tamil tidak akur mulai 1983. Gerilyawan Macan Tamil mengoyak kawasan penghasil daun teh terbaik dunia itu dalam perang saudara yang menelan puluhan ribu korban jiwa.
Hubungan Indonesia-Sri Lanka sudah terjalin sejak era kerajaan Nusantara. Khususnya dengan Sriwijaya di Sumatera Selatan yang dulu merupakan kerajan Buddhis.