Sebuah pengadilan Mesir hari ini menghukum presiden terguling Husni Mubarak tiga tahun penjara atas dakwaan korupsi, dalam satu dari dua persidangan setelah pemberontakan 2011 yang mengakhiri kekuasaannya.
Putranya, Alaa dan Gamal, masing-masing mendapat hukuman empat tahun penjara, sementara empat terdakwa lainnya dibebaskan, seperti dilansir surat kabar the Strait Times, Rabu (21/5).
Mereka dituduh menggelapkan lebih dari seratus juta pound Mesir (Rp 161 miliar) yang diperuntukkan untuk pemeliharaan istana kepresidenan.
Mubarak, 86 tahun, mengenakan sebuah setelan abu-abu, duduk di sebuah kursi roda di kurungan saat mendengar putusan. Anak-anaknya, dalam pakaian penjara berwarna putih, berdiri di sampingnya.
Mubarak secara teknis telah menjadi orang bebas setelah pengadilan memerintahkan pembebasannya pada tahun lalu usai berakhirnya masa penahanan yang diizinkan.
Mubarak dijatuhi hukuman seumur hidup pada 2012 atas pembunuhan pengunjuk rasa saat pemberontakan selama 18 hari yang mengakhiri rezim tiga dekade dirinya.
Pengadilan membatalkan putusan itu dengan alasan teknis dan dia kini menjalani hukuman percobaan bersama tujuh komandan polisi.
Dia juga menghadapi tuduhan korupsi dalam persidangan tersebut, bersama kedua putranya dan seorang pengusaha yang melarikan diri dari negara itu.
"Kami akan mengajukan banding," kata Mustafa Ali, salah satu pengacara Mubarak, kepada AFP setelah pembacaan putusan.
Sidang Mubarak adalah tuntutan kunci para pengunjuk rasa selama berbulan-bulan setelah penggulingan dirinya, menyebabkan militer yang kemudian berkuasa untuk menangkapnya di sebuah villa dan memindahkannya ke penjara Kairo.
Mesir telah berubah sejak saat itu dengan rehabilitasi banyak pejabat dan pasukan polisi era Mubarak yang dipandang rendah menyusul penggulingan presiden dari Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi, pada Juli tahun lalu.
Mantan pemimpin militer Abdul Fattah al-Sisi, yang pernah menjabat kepala intelijen militer Mubarak, diperkirakan akan meraih kemenangan dalam pemilihan presiden pada pekan depan.
Sisi berjanji tidak akan ada lagi rezim korup Mubarak. Namun, dia akan mempertahankan Perdana Menteri Ibrahim Mahlab, yang pernah menjadi anggota senior dari partai Mubarak yakni Partai Nasional Demokratik.
Kepolisian itu terlalu menikmati tahap baru popularitas mereka, terlepas tindakan kejam yang menewaskan lebih dari 1.400 jiwa, kebanyakan kelompok Ikhwanul Muslimin, berbulan-bulan setelah penggulingan Mursi.
Kini banyak pihak yang menyalahkan Ikhwanul Muslimin, pimpinan Mursi, bukannya polisi, atas kekerasan yang terjadi selama pemberotakan anti-Mubarak.
Adapun Mursi sendiri kini diadili atas tuduhan terkait kekerasan yang terjadi selama pemberontakan anti-Mubarak, juga keterlibatannya dalam pembunuhan pengunjuk rasa oposisi sepanjang satu tahun kekuasaannya.