Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Unjuk rasa jadi kado rakyat Rusia buat ulang tahun Putin

Unjuk rasa jadi kado rakyat Rusia buat ulang tahun Putin Demo Vladimir Putin. ©REUTERS/Anton Vaganov

Merdeka.com - Presiden Rusia, Vladimir Putin, berulang tahun ke 65 pada Sabtu kemarin. Namun, sebagian rakyatnya memberikan kado berupa unjuk rasa besar-besaran di seluruh Rusia.

Dilansir dari laman The Guardian, Minggu (8/10), demo besar digelar di 80 tempat di Rusia. Termasuk di kampung halaman Putin di Kota St. Petersburg. Pengunjuk rasa menyemut di pusat kota dan melontarkan slogan-slogan menentang mantan perwira dinas rahasia Uni Soviet, KGB, itu.

"Putin maling!," kata seorang demonstran.

Seperti sudah bisa diduga, unjuk rasa di St. Petersburg berakhir dengan bentrokan antara demonstran dan polisi. Sejumlah pengunjuk rasa luka-luka. Bahkan dikabarkan seorang di antara mereka merupakan perempuan mengalami patah kaki. Beberapa ditahan polisi.

Di Ibu Kota Moskow, sekitar seribu pengunjuk rasa nekat berdemonstrasi di bawah guyuran hujan. Mereka diadang oleh polisi antihuru-hara. Namun, jumlahnya merosot ketimbang unjuk rasa sama digelar pada Maret dan Juni lalu. Aspirasi diusung tetap sama yakni supaya Putin lekas-lekas lengser dari tampuk kekuasaan sudah direngkuhnya selama 18 tahun. Tiga demonstran ditahan. Meski demikian, tercatat 260 orang dibui karena berdemo menentang Putin di seluruh Rusia.

Pengunjuk rasa paling banyak ditangkap adalah di Kota Yekaterinburg. Yakni 24 orang. Padahal demonstrasi juga dihadiri oleh Wali Kota Yevgeny Roizman yang pro oposisi.

"Turun bersama Tsar!," ujar para demonstran.

"Saya ada di sini hari ini buat memperjuangkan hak. Saya mau tinggal di negara yang menggelar pemilihan umum secara adil," kata seorang demonstran, Yevgeny tarasov (19).

Nampaknya anjuran pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, dari dalam penjara supaya pendukungnya menggelar unjuk rasa besar-besaran saat hari ulang tahun Putin dipatuhi pendukungnya. Senin lalu dia ditangkap polisi dan dikurung 20 hari dengan alasan hendak menggelar unjuk rasa tanpa izin. Ini adalah ketiga kalinya advokat dan pegiat antikorupsi berusia 41 tahun itu masuk bui sejak Maret lalu. Dia berkeras siap menantang Putin dalam pemilihan presiden tahun depan.

Navalny meminta pendukungnya terus mendesak pemerintah Rusia membuka ruang bagi oposisi politik. Namun, Komisi Pemilihan Umum Rusia menolak pencalonannya dalam pemilihan presiden tahun depan dengan alasan pernah terlibat penipuan. Navalny menampik tudingan itu yang dia anggap cuma rekayasa.

Navalny muncul sebagai tokoh penentang Putin dan memikat banyak warga Rusia karena penyelidikannya terhadap praktik korupsi di tubuh pemerintah. Pamornya meroket ketika unjuk rasa menentang Putin digelar pada 2011 hingga 2012.

Bukan cuma Navalny, tim kampanyenya juga ditekan habis-habisan. Kepala tim pemenangan Navalny, Leonid Volkov, juga dibui 20 hari hanya karena mencuit di Twitter tentang rencana aksi unjuk rasa. Padahal, istrinya sedang hamil tua dan bisa melahirkan kapanpun.

Kantor penerangan pemerintah Rusia di Kremlin menyatakan Putin menghabiskan akhir pekan dan ulang tahunnya dengan mengontak sejumlah kepala negara, dan menghadiri rapat dengan Dewan Keamanan Rusia. Putin juga belum bersikap apakah bakal maju lagi dalam pemilihan presiden tahun depan. Namun, diperkirakan dia bakal mengumumkannya pada November atau awal Desember. (mdk/ary)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP