PM Kamboja Tuduh Singapura Dukung genosida Khmer Merah

Sabtu, 8 Juni 2019 18:07 Reporter : Merdeka
PM Kamboja Tuduh Singapura Dukung genosida Khmer Merah PM Hun Sen. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menuduh timpalannya dari Singapura, Lee Hsien Loong, mendukung sejarah genosida di negaranya. Tuduhan itu merujuk pada komentar PM Lee tentang invasi Vietnam ke Kamboja pada 1978 yang mengakhiri 'rezim genosida' Jenderal Khmer Merah, Pol Pot.

Dikutip South China Morning Post, Sabtu (8/6), kritik Hun Sen menandai peningkatan tensi antara negara-negara ASEAN dan memicu perdebatan baru tentang warisan perang di wilayah tersebut. Khususnya penggulingan rezim Khmer Merah.

Komentar PM Lee yang dianggap menyinggung itu disampaikan di tengah pidato penghormatan terhadap mendiang pemimpin Thailand, Jenderal Prem Tinsulanonda, yang meninggal bulan lalu. Prem memimpin Thailand ketika Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya menentang invasi dan pendudukan Vietnam atas Kamboja, kata Lee.

"Jenderal Prem tegas dalam menolak fetakompli (fait accompli) --kendali pihak lain-- dan memilih bekerja sama dengan mitra ASEAN untuk menentang pendudukan Vietnam di forum internasional," kata Lee dalam komentar yang diposting di halaman Facebook-nya.

"Tindakan ini mencegah invasi militer (oleh Vietnam) dan perubahan rezim agar tidak disahkan. Ini juga melindungi keamanan negara-negara Asia Tenggara lainnya, dan dengan tegas membentuk arah wilayah tersebut," lanujutnya.

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen merespon melalui unggahan di Facebook dengan kata-kata keras pada Kamis malam. Dia menyayangkan pernyataan PM Lee dan menuduhnya mendukung genosida Khmer Merah.

"Pernyataannya mencerminkan posisi Singapura kala itu, yang mendukung rezim genosida dan menginginkannya kembali ke Kamboja," kata Hun Sen.

"Singapura memang berkontribusi terhadap pembantaian rakyat Kamboja", lanjutnya.

Invasi dan pendudukan 10 tahun oleh Vietnam di Kamboja mengakhiri rezim Pol Pot yang dimusuhi Barat. Rezim tersebut disebut telah menghancurkan Kamboja selama lebih dari tiga tahun, dari 1975 hingga awal 1979, dan menyebabkan kematian hampir seperempat populasi setempat.

Kala itu, Asia Tenggara terbagi menjadi dua kubu selama era Perang Dingin. Singapura dan Thailand adalah bagian dari ASEAN yang beranggotakan enam negara, di mana sebagian besar pro-Barat. Sedangkan sisanya, negara-negara yang berada di kawasan Indochina, cenderung berhaluan kiri.

Di saat bersamaan, rezim Khmer Merah yang menguasai Kamboja, mendapat dukungan dari China. Sementara Vietnam didukung oleh Uni Soviet, yang merupakan musuh komunis Tiongkok. Hun Sen adalah anggota junior Khmer Merah, tetapi melarikan diri ke Vietnam ketika kelompok itu berpisah.

Dia kembali dengan tentara Vietnam pada akhir 1978 untuk menggulingkan Pol Pot dan naik ke tampuk pemerintahan yang dibentuk oleh Hanoi.

Komentar yang mengusik Hun Sen kembali disinggung oleh PM Lee dalam sebuah forum keamanan di Singapura, akhir pekan lalu.

Dia mencatat bagaimana invasi Vietnam ke Kamboja telah menjadi ancaman serius bagi negara-negara non-komunis di wilayah Asia Tenggara.

Pada Selasa 4 Juni, kementerian luar negeri Vietnam mengatakan tengah meninjau masalah atas komentar Lee dengan Singapura.

"Vietnam merasa disesalkan bahwa unsur-unsur tertentu dari pidato (PM Lee_ tidak melihat sejarah di bawah lensa objektif, menyebabkan dampak negatif pada opini publik," kata juru bicara Le Thi Thu Hang, dalam sebuah pernyataan.

Singapura Membantah

Menanggapi tuduhan Hu Sen, Kementerian Luar Negeri Singapura mengatakan pemerintahnya tidak memiliki simpati terhadap Khmer Merah. Referensi PM Lee dalam pidato terkait, mencerminkan sudut pandangnya yang sudah lama ada. Singapura mengatakan sangat menghargai hubungannya dengan Kamboja dan Vietnam.

"PM Lee telah merujuk pada sejarah ini untuk menjelaskan bagaimana kenegarawanan, dan pandangan jauh ke depan, membantu mengakhiri perang tragis yang menyebabkan penderitaan besar bagi rakyat Indochina, serta untuk membawa perdamaian dan kerja sama yang dinikmati hari ini," katanya juru bicara Kemlu Singapura.

Sumber: Liputan6.com [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Kamboja
  2. Singapura
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini