Pemimpin oposisi dan aktivis anti-pemerintah ditahan jelang pelantikan Putin
Merdeka.com - Pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, dan sekitar 1.600 aktivis anti-pemerintah ditahan oleh pihak berwenang saat menggelar aksi unjuk rasa jelang pelantikan Vladimir Putin sebagai presiden untuk masa jabatan keempatnya, Sabtu waktu setempat.
Navalny sendiri merupakan orang paling vokal menyuarakan kritiknya terhadap Putin. Dia telah menggerakkan aksi demonstrasi di lebih dari 90 kota di seluruh Rusia dan dengan gencar menentang pemerintahan Putin yang dinilainya terlalu otoriter.
Sebelum ditahan, Navalny sempat berseru kepada para pendukungnya dan membimbing mereka untuk meneriakkan 'Turunkan kepemimpinan Tsar'.
"Mereka mengatakan kota ini adalah milik Putih. Benarkah itu? Apakah kalian membutuhkan seorang Tsar?" tanya Navalny kepada kerumunan pendukungnya yang langsung kompak menjawab, 'Tidak', sebagaimana dilansir dari laman Channel News Asia, Minggu (6/5).
Adegan saat Navalny digiring secara paksa oleh lima polisi ke dalam sebuah van diabadikan dalam sebuah rekaman oleh para pendukungnya. Sementara para demonstran tetap meneriakkan protes seperti 'Rusia tanpa Putin' dan 'Putin adalah penjahat'.
Sementara itu, seorang politisi oposisi, Ilya Yashin, menyatakan bahwa polisi yang menahan Navalny berencana menghukumnya dengan pasal menentang petugas polisi dengan hukuman denda dan kurungan penjara hingga 30 hari.
Sebagaimana diketahui, Putin kembali memenangkan jabatan sebagai Presiden melalui pemilihan umum digelar Maret lalu. Pemilihan ini sekaligus memperpanjang cengkramannya atas Rusia selama enam tahun ke depan.
Itu artinya Putin akan menjalani jabatan selama 24 tahun dan kurun waktu itu menjadikannya pemimpin terlama di Rusia selain diktator Soviet Josef Stalin.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya