Muncul Video Baru Kamp Tahanan Uighur di Xinjiang, Keselamatan YouTuber Dikhawatirkan

Selasa, 23 November 2021 18:04 Reporter : Hari Ariyanti
Muncul Video Baru Kamp Tahanan Uighur di Xinjiang, Keselamatan YouTuber Dikhawatirkan Pusat penahanan etnis Uighur dan etnis minoritas di Xinjiang, China. ©Mark Schiefelbein/picture alliance/AP via Deutsche Welle

Merdeka.com - Sebuah video berdurasi 20 menit menampilkan belasan fasilitas penahanan Uighur di Xinjiang, China, memberikan bukti baru seputar tindakan keras China terhadap etnis minoritas di wilayah tersebut.

Video itu direkam pria China bernama Guanguan, yang pergi ke Xinjiang setelah membaca serangkaian artikel dari BuzzFeed News, yang mengindikasikan lokasi beberapa pusat tahanan di wilayah itu.

Video tersebut, yang awalnya diunggah di YouTube pada Oktober, telah menarik perhatian para peneliti dan akademisi yang fokus memantau tindakan keras skala besar China terhadap etnis minoritas di Xinjiang. Alison Killing, seorang arsitek yang bekerja sama dengan BuzzFeed News yang membuat peta citra satelit kamp tersebut, mengatakan informasi baru dari video itu membenarkan apa yang mereka yakini terjadi di Xinjiang.

“Ketika Anda bekerja dengan citra satelit, Anda selalu bergantung pada sumber informasi lain untuk memperkuat apa yang sedang Anda cari,” jelasnya kepada Deutsche Welle, dikutip Selasa (23/11).

“Bisa jadi video-video di lapangan, seperti apa yang kita lihat di sini (citra satelit).”

Hal lain yang memperkuat perkiraan para peneliti juga termasuk wawancara para mantan tahanan dan informasi dari jurnalis yang mengunjungi kamp penahanan tersebut. Killing menambahkan, video Guanguan membantu mengonfirmasi apakah fasilitas tersebut merupakan penjara atau pusat penahanan.

Pengacara HAM Uighur, Rayhan Asat mengatakan, tayangan video mentah itu menambah dokumentasi terkait tindakan keras China yang berlangsung di Xinjiang dan “mementahkan propaganda dan disinformasi negara terkait ‘Happy Uighur’”.

“Saya berharap lebih banyak orang China seperti pemuda pemberani ini akan mendukung sesama warga negaranya,” jelas Asat kepada DW.

2 dari 3 halaman

Bermodal peta

“Saya pernah mengunjungi Xinjiang di 2019 menggunakan sepeda, tapi tujuan kunjungan saya kali ini benar-benar berbeda,” jelas Guanguan dalam videonya.

“Saya membaca sebuah kisah di BuzzFeed News, yang mana para wartawan mengidentifikasi lokasi banyak pusat tahanan di Xinjiang melalui perbandingan citra satelit."

Dia mengikuti peta satelit Mapbox yang dibuat BuzzFeed, bersama citra satelit dari Peta Baidu China untuk merekam 18 fasilitas penahanan di delapan kota di Xinjiang. Ketika video itu diunggah di akun YouTubenya bulan lalu, diyakini Guanguan pergi ke Xinjiang dan merekam kamp tahanan itu pada 2020, berdasarkan kicauannya di Twitter.

“Karena regulasi pemerintah China, sekarang sangat sulit bagi jurnalis asing mendapatkan akses ke Xinjiang untuk melakukan wawancara. Saya berpikir, walaupun jurnalis asing tidak bisa pergi ke Xinjiang, saya masih bisa ke sana,” jelasnya di video.

Guanguan memulai perjalananya di kota Hami, di wilayah timur, di mana dia menuju Pusat Rehabilitasi Narkoba Wajib Isolasi Hami. Gedung ini tidak muncul di Peta Baidu, dan palang besi di jendela juga pagar kawat berduri membuatnya curiga bangunan tersebut bisa jadi sebuah kamp penahanan.

Selanjutnya, dia pergi ke Kabupaten Otonomi Mori Kazakh di Xinjiang, di mana dia merekam pusat penahanan dengan menara pengawas dan dikelilingi kamera pemantau atau CCTV. Dia kemudian berkendara menuju Pusat Penahanan Kabupaten Mori. Tidak ada dari fasilitas-fasilitas tersebut yang muncul di Baidu.

Ketika dia tiba di Urumqi, ibu kota Xinjiang, dia melewati beberapa fasilitas dengan menara pengawas dan pagar kawat berduri tinggi, yang semuanya merupakan ciri khas fasilitas penahanan di Xinjiang. Slogan seperti "reformasi melalui tenaga kerja dan transformasi budaya" juga tertulis di dinding beberapa bangunan.

3 dari 3 halaman

Keselamatan YouTuber

Pada Juli, Associated Press (AP) mengunjungi sebuah sel di Pusat Penahanan Urumqi No. 3 di Dabancheng, Xinjiang, menggambarkan fasilitas tersebut sebagai “yang terbesar di negara tersebut dan mungkin di dunia, dengan sebuah kompleks yang membentang di atas area seluas 220 hektar.”

AP memperkirakan bahwa pusat penahanan tersebut bisa menampung sekitar 10.000 orang dan jauh lebih banyak lagi jika penuh, berdasarkan citra satelit dan sel serta bangku-bangku terlihat selama kunjungan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China menggambarkan penahanan massal sekitar 1 juta atau lebih etnis minoritas di Xinjiang sebagai “perang terhadap teror”. Warga Uighur dilaporkan dibawa ke kamp penahanan di seluruh Xinjiang dan penyintas perempuan yang telah keluar dari kamp itu menuding pemerintah China memperkosa atau melakukan pelecehan seksual secara sistematis terhadap perempuan Uighur di kamp-kamp tersebut.

Guanguan juga menyebut dalam video selama kunjungan pertamanya ke Xinjiang, beberapa warga China Han setempat mengatakan kepadanya, sejumlah besar orang Uighur telah dipindah ke wilayah lain sebagai buruh berupah murah.

Karena Guanguan memamerkan wajahnya di video itu, banyak orang mengkhawatirkan keselamatannya. Dalam sebuah video yang diunggah di saluran YouTubenya pada Jumat, Guanguan mengatakan dia berharap tayangan fasilitas penahanan itu bisa diteruskan sebagai bukti.

“Saya tidak punya kemampuan untuk secara langsung menantang pemerintah China, tetapi inilah yang dapat saya lakukan dalam batas-batas kemampuan saya,” ujarnya.

Rabu lalu, juru bicara pemerintah regional Xinjiang, Xu Guixiang, mengatakan pihaknya telah mengambil tindakan kuat, tegas, dan efektif untuk melawan terorisme dan berhasil.  

Seperti dikutip koran pemerintah China, Global Times, Xu mengatakan walaupun ada perbedaan suara-suara soal kebijakan di Xinjiang untuk melawan terorisme dan radikalisasi, sejarah akan membenarkannya.

Dia menambahkan, bagi mereka yang ingin memanfaatkan topik Xinjiang untuk mencampuri urusan dalam negeri China, upaya tersebut bakal gagal.

Kementerian Luar Negeri China juga menerbitkan pernyataan pada hari itu.

“Saya ingin menekankan bahwa isu berkaitan dengan Xinjiang intinya soal melawan terorisme, radikalisasi, dan separatisme, bukan soal HAM atau agama,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian.

“Dalam menghadapi situasi kontraterorisme yang rumit dan berat, Xinjiang telah mengambil sejumlah langkah deradikalisasi yang tegas, kuat, dan efektif. Akibatnya, Xinjiang tidak melihat kasus teroris kekerasan selama lima tahun berturut-turut." [pan]

Baca juga:
Tak Masuk Daftar 43 Negara Kecam China Atas Isu Uighur, Indonesia Pilih Jalan Lain
Masuk Daftar Orang Paling Dicari Interpol, Aktivis Uighur Ditangkap di Maroko
Senat AS Sahkan UU Larangan Impor dari Xinjiang China
AS Jatuhkan Sanksi ke Lima Perusahaan China karena Terlibat Pelanggaran HAM Uighur
Laporan: Kebijakan China Sebabkan Angka Kelahiran Etnis Uighur Anjlok
Orang-Orang Uighur yang Dideportasi dan Menghilang dari Negara Muslim

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini