Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Moon Jae-in bakal jadi Presiden baru Korea Selatan

Moon Jae-in bakal jadi Presiden baru Korea Selatan Moon Jae-in. ©REUTERS/Kim Hong-Ji

Merdeka.com - Ajang pemilihan Presiden Korea Selatan berlangsung hari ini, Selasa (9/5). Moon Jae-in nampaknya bakal menduduki posisi itu setelah hasil penghitungan exit poll.

Seperti dilansir dari BBC, hasil exit poll menunjukkan Moon dari Partai Uni Demokrat meraup 41,4 persen suara. Dia mengungguli pesaingnya dari Partai Liberal Korea, Hong Joon-Pyo, yang menggaet 23,3 persen pemilih. Jika hal ini tetap bertahan, kemungkinan besar Moon bakal disumpah dan dilantik besok, Rabu (10/5). Exit poll itu digelar oleh tiga jaringan televisi setempat.

Pemilihan digelar usai penyelidikan berujung terhadap pemakzulan Presiden Park Geun-hye. Park dikabarkan memeras uang dari sejumlah perusahaan. Namun, dia menyangkalnya.

Harapan baru di pundak anak pengungsi

Orang tua Moon adalah pengungsi saat perang Korea berkecamuk. Dia pergi dari kampung halamannya, Hamhung, Provinsi Hamgyeong, yang kini menjadi bagian Korea Utara. Dia pernah merasakan berada di balik terali besi karena ditangkap pada 1970-an. Saat itu dia memimpin unjuk rasa menentang pemimpin militer di masa itu, Park Chung-hee, ayah dari Park Geun-hye. Namun, selepas dari penjara, dia justru mendaftar menjadi tentara Korea Selatan dan menjadi salah satu anggota pasukan khusus dengan pangkat terakhir sersan. Kemudian setelah berdinas, dia melanjutkan karir menjadi advokat hak asasi.

Moon pernah mencoba peruntungan dalam perebutan posisi presiden dengan Park lima tahun lalu. Sayang dia tumbang. Setelah Park dimakzulkan karena korupsi, Moon lantas kembali menyeruak ke permukaan.

Masalah terbesar di Korea Selatan adalah korupsi dan niat rekonsiliasi dengan Korea Utara. Moon dianggap lebih luwes ketimbang Park dalam soal terakhir, meski tetap memberlakukan tekanan dan sanksi. Dia juga kerap membuka saluran dialog buat kedua pemerintahan. Dengan cara itu, diharapkan dia bisa meluluhkan Kim Jong-un menghentikan pengembangan senjata, ketimbang dua pendahulunya.

Meski keadaan kedua negara selalu tegang, tetapi Moon menyatakan tidak senang dengan keberadaan sistem anti-misil Amerika Serikat di negaranya. Sebenarnya, pada era 2000, Korea Selatan menerbitkan 'Kebijakan Mentari'. Isinya adalah tentang bentuk kerjasama sebagai perwujudan rekonsiliasi. Namun hal itu buyar ketika Korea Utara memilih melanjutkan uji coba nuklir.

Walau dianggap lebih bersahabat, banyak pihak meragukan Moon mampu mewujudkan jalan buat rekonsiliasi Korea. Apalagi saat berhadapan dengan Jong-un yang disebut sangat berambisi dengan nuklir. Namun, langkah itu juga selalu terganjal dengan campur tangan Amerika Serikat, yang memilih terus bersikap keras terhadap Korea Utara.

Tidak cuma itu. Rakyat Korea Selatan sangat berharap Moon serius memerangi korupsi, membangkitkan ekonomi, serta menekan angka pengangguran kaum muda. Salah satunya dengan cara merangkul para konglomerat di negara itu buat perbaikan ekonomi. (mdk/ary)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP