Mengapa Singapura Sangat Rentan Terhadap Penyebaran Virus Corona?

Jumat, 14 Februari 2020 06:39 Reporter : Merdeka
Mengapa Singapura Sangat Rentan Terhadap Penyebaran Virus Corona? Warga Singapura Borong Bahan Kebutuhan Pokok di Supermarket. ©2020 REUTERS/Edgar Su

Merdeka.com - Beberapa kasus internasional virus corona (Covid-19) yang menyebar dari Inggris ke Korea Selatan, bermula dari pertemuan di Singapura. Hal itu membuat beberapa negara menyarankan untuk tidak bepergian ke luar negeri.

Namun demikian, Singapura dipuji atas cara menangani masalah tersebut, negara kecil ini selalu menghadapi tantangan-tantangan unik.

Bandara Changi di Singapura adalah salah satu bandara paling terhubung di dunia.

Bahkan, ada penerbangan lepas landas dan tiba setiap 80 detik di sini, membuatnya lebih terhubung daripada JFK dan San Francisco di Amerika Serikat (AS) dan Dubai di Uni Emirat Arab. Namun, pemandangan di sana akhir-akhir ini sangat berbeda.

Puluhan pemindai suhu tubuh ditempatkan di bandara. Alat ini secara otomatis mengukur suhu penumpang saat mereka masuk dan keluar Singapura. Wisatawan diperiksa oleh staf bandara untuk mengetahui gejala demam, pilek dan batuk, yang merupakan gejala Covid-19.

"Kami rentan, tetapi kami harus melakukan segala yang kami bisa untuk mencegah penyebaran virus itu," kata Lawrence Wong, wakil ketua gugus tugas Covid-19 Singapura, dikutip dari BBC, Kamis (13/2).

"Tetapi ketika virus datang ke Singapura, itu tidak hanya mempengaruhi kota ini. Itu dapat dan telah menyebar melalui Singapura ke negara-negara lain di seluruh dunia."

1 dari 4 halaman

Berawal dari Sebuah Pertemuan

Sebuah pertemuan yang diadakan di sebuah hotel mewah di Singapura pada pertengahan Januari, menjadi awal beberapa kasus Covid-19 menyebar ke sejumlah negara. Lebih dari 100 orang menghadiri konferensi penjualan tersebut, termasuk beberapa dari China.

Sekitar sepekan setelah pertemuan itu, kisah-kisah kasus Covid-19 yang dikonfirmasi mulai bermunculan di seluruh dunia mulai dari Korea Selatan, Malaysia, Inggris, bahkan Spanyol.

Orang Malaysia pertama yang tertular virus itu adalah seorang pria berusia 41 tahun yang menghadiri konferensi bersama dengan rekan-rekannya dari China. Selanjutnya, saudara perempuan dan ibu mertuanya juga terinfeksi darinya.

Kemudian, Korea Selatan mengkonfirmasi dua kasus warganya yang terinfeksi karena juga menghadiri pertemuan tersebut.

Singapura sendiri melaporkan tiga kasus, dua warga negara Singapura dan seorang penduduk tetap.

Steve Walsh juga hadir di konferensi Singapura. Setelah pertemuan itu, Steve terbang ke resor ski Prancis untuk berlibur, sekaligus perjalanan pulang.

Dia diperkirakan telah menginfeksi 11 orang lainnya ketika dia ada di sana - orang-orang yang akhirnya terbang ke tempat lain - mengarah ke lima kasus di Inggris, lima di Perancis, dan satu di Majorca, Spanyol.

Pertemuan ini menunjukkan bagaimana Singapura menjadi super-konduktor untuk virus ini.

Singapura berisiko menyebarkan virus karena negaranya adalah tujuan utama bagi pertemuan bisnis dan pelancong internasional.

Negara itu juga merupakan daya tarik besar bagi bisnis China, mengingat hubungan ekonomi yang erat antara kedua negara. Bahka, sebanyak 3,62 juta pengunjung China datang ke Singapura pada tahun 2019, yang merupakan kelompok terbesar.

Turis China menjauhkan diri dari Hong Kong karena ada protes anti-pemerintah di sana, sehingga banyak yang memilih untuk datang ke Singapura selama liburan Tahun Baru Imlek, di mana itu bertepatan dengan kemunculan wabah Covid-19.

"Kami sangat sadar bahwa kami memang ekonomi terbuka, kami adalah pusat perjalanan internasional. Jadi kami melakukan semua yang kami bisa untuk menahan penyebaran itu. Kami mengeluarkan informasi secara sangat transparan dan kami terus bekerja dengan semua otoritas kesehatan di luar negeri," kata Wong.

2 dari 4 halaman

Ambil Langkah Ekstrem

Singapura meningkatkan respons Covid-19 dengan mengambil langkah-langkah ekstrem. Negara tersebut segera memahami implikasi dari penyebaran di kota berpenduduk padat. Memang, delapan dari 50 kasus yang dilaporkan sejauh ini tidak memiliki hubungan dengan kelompok yang telah melakukan kontak dengan wisatawan China dari Wuhan. Itu mungkin bisa menjadi perhatian, karena bisa menularkan penyakit kepada orang lain.

Itulah sebabnya Singapura menerapkan mekanisme pelacakan kontak yang sangat canggih untuk memburu setiap kontak yang diketahui dari mereka yang terinfeksi sehingga mereka dapat dikarantina atau dipantau.

Singapura adalah negara pertama setelah Korea Utara dan Rusia yang menutup perbatasannya dengan China, dan telah memberlakukan cuti 14 hari bagi warga negara China yang merupakan penduduk tetap atau memiliki izin kerja dan baru kembali dari China daratan.

Mereka tidak memiliki toleransi terhadap pelanggaran tindakan apa pun yang telah dilakukan - dan ini merupakan kenyamanan bagi banyak orang Singapura. Karyawan yang tertangkap melanggar peraturan isolasi, maka izin kerja mereka akan dicabut dan dilarang bekerja lagi di Singapura secara permanen.

Sementara itu, majikan mereka dilarang mempekerjakan orang asing selama dua tahun.

Singapura juga mendistribusikan masker ke lebih dari 1 juta rumah tangga dan telah memulai grup WhatsApp yang dikelola pemerintah serta menyediakan pembaruan informasi harian kepada pelanggan tentang jumlah yang terinfeksi.

Bahkan membersihkan asrama universitas untuk memberikan ruang bagi pasien yang dikarantina adalah sebuah langkah yang dilakukan begitu cepat sehingga mengejutkan para siswa.

3 dari 4 halaman

Kekurangan Masker

Meski langkah-langkah tersebut telah disambut baik para ahli kesehatan internasional, warga Singapura sendiri tidak selalu setuju dengan pemerintah.

Komentar di media sosial menunjukkan banyak orang Singapura tidak percaya saran pemerintah untuk mengenakan masker hanya ketika sedang tidak sehat, karena itu mereka mencurigai negaranya kekurangan masker.

Banyak juga yang mengeluh Singapura tidak segera menutup perbatasan dengan China.

Dan ketika pihak berwenang menaikkan tingkat peringatan kesehatan pekan lalu, yang mengindikasikan penyebaran penyakit itu semakin meluas, sejumlah warga Singapura bergegas ke supermarket untuk membeli beras, mie instan, dan tisu toilet, khawatir negara itu akan diisolasi.

Kepanikan mereda ketika Perdana Menteri Lee Hsien Loong merilis pesan yang direkam untuk meyakinkan warganya jika ada lebih dari cukup persediaan.

Tingkat kontrol ini hanya dapat dicapai di Singapura karena bentuk pengambilan keputusannya tersentralisasi dan mayoritas parlemen besar dinikmati oleh partai yang berkuasa.

Ada juga pembatasan ketat pada dunia maya tentang Covid-19, dengan undang-undang berita hoaks negara tersebut, digunakan untuk mengurangi penyebaran informasi yang salah.

4 dari 4 halaman

Pelajaran dari SARS

Alasan utama Singapura bergerak cepat melawan Covid-19 karena belajar dari kasus SARS tahun 2002-2003.

"Anda akan melihat kolega Anda suatu hari saat makan siang, dan kemudian beberapa hari kemudian, Anda akan mendengar bahwa mereka berada di ICU, atau lebih buruknya mati," kata Dr Leong Hoe Nam, seorang spesialis penyakit menular.

Sebagai orang yang selamat dari SARS, ia berada di garis depan merawat orang-orang yang menderita penyakit itu dalam periode yang katanya,"membuat orang-orang Singapura terluka dan trauma."

Sekitar 238 orang terinfeksi dan 33 lainnya kehilangan nyawa.

"Kami adalah negara yang sangat rentan, sangat kecil dan terhubung dengan baik," kata Dr Leong.

"Suatu hari Anda mungkin mengidap penyakit di China, atau di mana pun di dunia, dan pada menit berikutnya itu bisa terjadi di Singapura. Pengendalian sebenarnya tidaklah realistis, saya tidak berpikir China akan dapat mengendalikannya."

"Saya pikir bentuk virus yang melemah akan muncul, seperti flu biasa. Itu akan menjadi kemungkinan virus ini."

Singapura tidak punya pilihan selain bersikap ekstra waspada dan transparan dalam memerangi penyakit mematikan ini. Negara ini bergantung pada seluruh dunia untuk ekonominya, untuk makanannya, dan untuk nyawanya.

Metode penahanannya yang ketat berhasil membasmi SARS tetapi dalam 10 tahun terakhir Singapura telah menjadi lebih terintegrasi ke dalam ekonomi global, dan lebih dekat dengan China. Taruhannya jauh lebih tinggi kali ini.

Reporter Magang : Roy Ridho [pan]

Baca juga:
Konjen RRC di Denpasar Akui Ada Warganya Positif Corona Setelah dari Bali
Virus Corona Ancam Jawa Barat, Ini 4 Strategi Jitu Ridwan Kamil Menghadapinya
Mentan: Mau Ada Virus Corona atau Tidak, Stok Bawang Putih Aman
Harga Lebih Murah, Bawang Putih Asal Malaysia Banjiri Pasar Pontianak
Pemerintah Bikin Festival Belanja Tangkal Dampak Virus Corona ke Ekonomi RI
Cegah Wabah Korona, Kapal Pesiar Bawa Turis Mancanegara Dilarang Berlabuh di Sabang
Aktivitas 4 Pelabuhan China Merosot Hingga 72 Persen

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini