Menelisik Masa Depan Pandemi, Covid-19 Akan Berlangsung Sampai 2021-2022

Minggu, 10 Mei 2020 03:18 Reporter : Pandasurya Wijaya
Menelisik Masa Depan Pandemi, Covid-19 Akan Berlangsung Sampai 2021-2022 Musisi Yunani desak pemerintah beri bantuan untuk hadapi pandemi. ©REUTERS/Murad Sezer

Merdeka.com - Dua penelitian baru-baru ini memetakan bagaimana masa depan pandemi Covid-19.

Sekarang kita tahu--bertolak belakang dengan prediksi sebelumnya--pandemi corona akan lebih lama bersama kita.

"Persisnya berapa lama lagi pandemi ini akan usai," kata Marc Lipstich, epidemiologis penyakit menular di T.H Chan School Public Health Universitas Harvard, seperti dilansir laman the New York Times, Jumat (8/5).

"Ini akan menjadi soal bagaimana kita akan menanganinya dalaw waktu beberapa bulan sampai dua tahun. Ini bukan persoalan melewati puncak kurva seperti yang diyakini banyak orang."

Peraturan pembatasan sosial--menutup sekolah, tempat kerja, membatasi kumpulan massa, karantina wilayah dalam beberapa waktu--tidak akan memadai untuk jangka panjang.

Gelombang pandemi akan terus bersama kita di masa depan sampai akhirnya berlalu. Namun bergantung pada lokasi dan kebijakan di tempat itu, pandemi akan memiliki berbagai dimensi dan dinamikanya sendiri mengarungi ruang dan waktu.

"Ada analogi antara ramalan cuaca dan pemodelan penyakit," kata Lipsitch. Keduanya adalah gambaran matematika sederhana tentang bagaimana sistem bekerja. Untuk kasus meteorologi adalah gambaran dari kondisi fisika dan kimia, sedangkan untuk virologi dan epidemiologi merupakan gambaran dari pemodelan penyakit menular. Tentu saja kita tidak bisa mengubah cuaca, tapi kita bisa mengubah arah pandemi--dengan perilaku kita dalam menyeimbangkan faktor psikologi, sosial, ekonomi, dan politik.

2 dari 3 halaman

3 Skenario

menelisik masa depan pandemi, covid-19 akan berlangsung sampai 2021-2022

Dr Lipsitch adalah salah satu dari penulis dua makalah terbaru di Pusat Kebijakan dan Penelitian Penyakit Menular di Universitas Minnesota. Satu makalah lagi dipublikasikan di Jurnal Science menggambarkan berbagai bentuk gelombang pandemi yang bisa terjadi dalam beberapa bulan mendatang.

Skenario pertama memberi gambaran gelombang kasus awal seperti yang terjadi saat ini kemudian diikuti kurva naik turun yang akan berakhir dalam waktu setahun atau dua tahun.

Skenario kedua mengatakan gelombang pandemi saat ini akan diikuti dengan turunnya kurva dari puncak atau mengalami puncaknya di musim dingin dan kemudian diikuti gelombang kecil sesudahnya seperti yang terjadi pada waktu pandemi flu 1918-1919.

Skenario ketiga memperlihatkan masa puncak pandemi terjadi di musim panas dan kemudian diikuti naik-turunnya kasus yang lebih rendah.

Penulis makalah ini menyimpulkan sembari kita menanti datangnya vaksin, "kita harus bersiap menjalani pandemi covid-19 ini selama 18-24 bulan diikuti sejumlah kasus baru muncul secara periodik di berbagai daerah."

Dalam makalah di Jurnal Science, tim dari Harvard mencermati lebih jauh berbagai skenario yang bisa terjadi dengan memakai data terbaru dari Covid-19 serta virus terkait.

Para peneliti menjabarkan hasilnya dalam berbagai grafik.

3 dari 3 halaman

Sampai 2021-2022

2022

Kesimpulannya cukup jelas, kebijakan pembatasan sosial di satu waktu saja tidak akan memadai untuk mengendalikan pandemi dalam jangka panjang.

"Ini karena jika kita sukses melakukan pembatasan sosial--supaya kita tidak memberatkan sistem kesehatan--maka orang yang tertular angkanya akan turun dan memang itu tujuannya," kata salah satu anggota tim Harvard, Christine Tedijanto.

"Tapi jika penularan ini mengarah pada kekebalan tubuh komunitas, makan kesuksesan pembatasan sosial juga berarti masih ada orang yang bisa tertular Covid-19. Alhasil ketika aturan pembatasan sosial dicabut maka ada kemungkinan virus masih bisa menyebar lagi dengan mudah seperti sebelum karantina wilayah dilakukan."

Dengan belum ditemukannya vaksin, kondisi pandemi akan terus berlangsung sampai 2021 atau 2022.

"Itu artinya pembatasan sosial dalam jangka panjang akan diperlukan. Pada awalnya kita tidak menyangka akan bisa selama ini," kata tim Harvard. [pan]

Baca juga:
Antisipasi Covid-19, Masjidil Haram Dipasangi Gerbang Sterilisasi
Muslim Thailand Laksanakan Salat Jumat dengan Terapkan Jarak Fisik
Cuma Tersedia Bagi 200 Ribu Pasien Covid-19, Siapa Berhak Mendapat Remdesivir?
Isu Sektarian India di Tengah Pandemi Covid-19, Dokter Tolak Rawat Pasien Muslim
Virus Corona Terdeteksi Dalam Cairan Sperma Pasien Terinfeksi
Donald Trump Tolak Pakai Masker Karena Tak Ingin Terlihat Konyol

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini