Maskapai Ini Tawarkan Diskon Gila-Gilaan Bagi Warga Israel yang Kabur Saat Perang dengan Iran Agar Mau Kembali
Para pemukim yang kabur ini memiliki dua kewarganegaraan dan mereka kabur ke negara-negara seperti AS, Rusia, Ukraina, dan negara-negara Uni Eropa.
Ketika Iran menyerang Israel dalam perang 12 hari, terjadi eksodus besar-besaran pemukim Israel ke luar negeri. Untuk membujuk para pemukim ini kembali ke Israel, maskapai nasional Israel, El Al, menawarkan diskon besar bagi para pemukim.
Para pemukim yang kabur ini memiliki dua kewarganegaraan dan mereka kabur ke negara-negara seperti AS, Rusia, Ukraina, dan negara-negara Uni Eropa.
Maskapai ini menawarkan harga tiket USD99 atau sekitar Rp1,6 juta dari kota-kota Eropa dan USD649–699 (sekitar Rp10,5 juta - Rp11,3 juta) dari AS – kira-kira setengah dari harga standar, yang berlaku pada bulan ini. Setelah penerbangan repatriasi penuh, kursi yang tersisa akan tersedia untuk masyarakat umum, seperti dikutip dari The Cradle, Kamis (26/6).
Saat digempur Iran, ribuan warga Israel kabur ke Siprus. Saat ini upaya repatriasi darurat dari Siprus terus berlanjut. Kapal pesiar dan penerbangan yang dialihkan mengangkut banyak pemukim Israel kembali ke negara Zionis tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Saat perang masih berlangsung, Israel melarang warganya membeli tiket penerbangan ke luar negeri. Akibatnya, para pemukim melarikan diri dengan kapal pesiar dari Herzliya, Haifa, Ashkelon menuju Siprus sebelum melanjutkan perjalanan ke Eropa.
Namun kini pembatasan tersebut telah dicabut dan bandara Israel seperti Ben Gurion dan Haifa telah dibuka kembali sepenuhnya setelah disepakati gencatan senjata dengan Iran.
Selain Siprus, Mesir juga menjadi rute pelarian lainnya. Pihak berwenang Sinai menaikkan tingkat kewaspadaan karena masuknya warga Israel melalui penyeberangan Taba. Pejabat keamanan memperingatkan, gelombang kedatangan dapat digunakan oleh agen Mossad yang menyamar sebagai turis, yang menimbulkan risiko pengawasan dan destabilisasi.
Gerakan ini memicu kritik dari para aktivis Mesir, terutama mengingat tindakan keras Kairo terhadap konvoi bantuan yang menuju Gaza. "Sangat keterlaluan bahwa warga Israel dapat masuk ke Sinai, tetapi para aktivis ... ditolak," kata seorang penyelenggara kepada Middle East Eye (MEE).