Marak penembakan, jutaan warga AS demo antisenjata di Washington
Merdeka.com - Sebanyak lebih dari satu juta siswa dan massa pendukung antisenjata memenuhi jalanan di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat, kemarin. Mereka menyuarakan pernyataan keras tentang kekerasan senjata api dan merespons berbagai kasus penembakan di AS.
Gerakan yang disebut March for Our Lives ini juga meminta para pembuat kebijakan meloloskan hukum yang ketat soal senjata.
Bus-bus yang membawa siswa, orangtua, guru dan pendukung anti-senjata api peserta demo memenuhi ibu kota negara dari seluruh negeri, termasuk dari California dan Minnesota, untuk March for Our Lives.
Unjuk rasa itu diumumkan hanya beberapa hari setelah penembakan di Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Florida, pada 14 Februari lalu.
Dalam orasinya para siswa menyerukan gerakan antisenjata di AS.
"Kami akan membuat ini menjadi isu di pemungutan suara kelak," kata David Hogg, seorang mahasiswa Stoneman Douglas dan penyelenggara demo, seperti dikutip dari USA Today, Minggu (25/3).
"Kami akan membawa isu ini dalam setiap pemilu, untuk setiap negara bagian, dan setiap kota. Kami akan memastikan orang-orang terbaik masuk dalam pemerintahan, bukan sebagai politisi, tetapi sebagai orang Amerika."
"Berjuanglah untuk hidupmu, sebelum orang lain mengambil nyawamu...," Gonzalez memohon.
Sekitar 800 unjuk rasa serupa dijadwalkan digelar di setiap negara bagian AS.
Di kota-kota besar, termasuk Boston, Chicago dan New York, banyak orang berkumpul untuk pawai serupa. Kota-kota kecil, seperti Cincinnati dan Red Bank, juga menggelar unjuk rasa yang sama.
"Suara kami dibungkam," kata Rasleen Krupp, 17 tahun, yang berbicara kepada para demonstran di Cincinnati. "Pada akhir gerakan ini, kita akan menyelamatkan hidup kita sendiri."
"Saya berusia 12 tahun, dan saya tidak ingin dibunuh," kata Frank, seorang siswa di Sekolah Dasar Longfellow. "Saya tidak ingin bangun setiap hari dan bertanya-tanya apakah hari ini adalah hari ketika seseorang menghujani peluru di sekolah saya."
Matt Collins, pemilik senjata dan kontraktor pertahanan dari Fairfax, Virginia, mengatakan ia pernah meremehkan unjuk rasa undang-undang senjata ketat, tetapi penembakan di sekolah yang berulang mengubah pikirannya. Collins mengatakan, dia memiliki banyak teman yang tidak sependapat dengannya.
"Saya frustrasi, setiap kali hal seperti ini terjadi," kata Collins.
Tujuh belas nyawa siswa SMU Marjory Stoneman Douglas High School melayang pada Rabu 14 Februari 2018. Pelaku penembakan bernama Nikolas Cruz, yang memiliki latar belakang 'mencemaskan'.
Reporter: Arie Mega Prastiwi
Sumber: Liputan6.com (mdk/pan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya