Mangkir sidang, Yingluck Shinawatra diduga bersembunyi di Dubai

Minggu, 27 Agustus 2017 13:33 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Mangkir sidang, Yingluck Shinawatra diduga bersembunyi di Dubai Yingluck Shinawatra. ©2016 REUTERS/Jorge Silva

Merdeka.com - Mantan Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra (50), yang mangkir dari persidangan kasus korupsi beras pada Jumat lalu ternyata kabur ke Dubai. Diduga, dia kini bersembunyi di rumah milik kakaknya, Thaksin Shinawatra, di negara itu yang juga lari dari proses hukum perkara rasuah membelitnya.

Dilansir dari laman Reuters, Minggu (27/8), seorang sumber juga merupakan sejawat Yingluck di Partai Puea Thai membeberkan kalau rekannya sudah terbang ke Dubai melalui Singapura pekan lalu. Thaksin menetap di sana sejak 2008 buat menghindari pengadilan karena terlibat kasus korupsi.

"Kami mendengar dia pergi ke Kamboja, lalu menuju Singapura. Dari sana dia terbang ke Dubai. Dia sudah sampai dan ada di sana," kata sumber yang juga anggota senior Partai Puea Thai.

Jurnalis di Dubai mencoba mengkonfirmasi hal itu dengan mendatangi kediaman Thaksin di kompleks Emirates Hills. Namun, mereka tidak dibolehkan masuk ke pemukiman itu. Juru bicara keluarga Thaksin di Dubai juga bungkam ketika ditanya soal keberadaan Yingluck.

Kepolisian Thailand malah memberikan pernyataan membingungkan. Kepala Kepolisian Thailand, Jenderal Srivara Rangsibrahmanakul, justru mengatakan mereka tidak menemukan catatan kepergian Yingluck ke luar negeri. Entah apakah mereka kebobolan atau justru menutupinya. Pihak imigrasi berjanji bakal langsung menangkap Yingluck jika terlihat di bandara atau pelabuhan.

Juru Bicara Kepolisian Thailand, Dechnarong Suticharnbancha, kemarin menyatakan mereka masih menyelidiki apakah Yingluck sudah berada di Dubai atau masih di Singapura.

Pengadilan Negeri Bangkok pada Jumat lalu sudah bersiap mendengarkan pembacaan dakwaan kasus korupsi pembelian beras diduga dilakukan Yingluck. Namun, hingga sidang dimulai, perempuan itu tak kunjung muncul. Yingluck berdalih dia mengalami gangguan pendengaran. Namun, pengadilan menolak dan menjadwalkan pembacaan dakwaan digeser menjadi hari ini. Tak lama kemudian pengadilan menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Yingluck.

Jika terbukti bersalah, Yingluck yang dikudeta tiga tahun lalu bakal dijatuhi pidana penjara maksimal sepuluh tahun.

Dinasti Shinawatra menguasai politik Thailand sejak 2001 karena banyak memenangkan pemilihan umum. Namun, mereka diduga menggunakan kekuasaannya buat melakukan korupsi dan mempraktikkan nepotisme. Namun, pamor mereka masih tinggi di kalangan penduduk miskin wilayah pedesaan sebelah utara dan timur laut Thailand.

Skema pembelian beras dijalankan Yingluck diduga merugikan negara hingga USD 8 miliar. Namun, Yingluck ngotot tidak bersalah dan berkelit dia hanya korban persaingan politik. [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini