Korea Selatan Tuding Korea Utara Berusaha Retas Info Vaksin Pfizer

Rabu, 17 Februari 2021 15:49 Reporter : Hari Ariyanti
Korea Selatan Tuding Korea Utara Berusaha Retas Info Vaksin Pfizer Vaksin Covid-19 buatan Pfizer. ©REUTERS/Dado Ruvic

Merdeka.com - Peretas Korea Utara mencoba menembus sistem komputer perusahaan farmasi raksasa Pfizer, mencari informasi vaksin virus corona dan teknologi pengobatan yang dikembangkan perusahaan tersebut. Hal ini diungkapkan badan mata-mata Korea Selatan pada Selasa.

Korea Utara menutup negaranya sejak Januari 2020, untuk mencegah penyebaran virus corona. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un mengklaim tak ada kasus virus corona yang ditemukan sampai saat ini. Namun para pakar menyangsikan klaim ini mengingat dekatnya perbatasan negara ini dengan China, negara yang pertama kali mengidentifikasi kasus virus corona pada akhir 2019.

Anggota parlemen Korea Selatan, Ha Tae Keung mengatakan Badan Intelijen Nasional memaparkan kepada para anggota parlemen bahwa Korea Utara berusaha menerobos teknologi vaksin dan pengobatan Covid menggunakan senjata siber untuk meretas Pfizer. Hal ini diungkapkan Ha Tae kepada wartawan setelah rapat dengar pendapat tertutup parlemen, dikutip dari Times of Israel, Rabu (17/2).

Korea Utara dikenal mengoperasikan ribuan pasukan peretas terlatih yang telah meretas perusahaan, lembaga, dan peneliti di Korea Selatan dan negara lain.

Vaksin virus corona Pfizer dikembangkan bersama perusahaan Jerman, BioNTech, mendapat otorisasi penggunaan dari pihak berwenang akhir tahun lalu. Pada 2021, Pfizer menargetkan bisa memproduksi sampai 2 miliar dosis vaksin.

Kantor Pfizer di Korea Selatan belum merespons permintaan komentar AFP terkait isu ini.

2 dari 2 halaman

Pada Desember lalu, BioNTech dan Pfizer menyampaikan dokumen berkaitan dengan vaksin mereka diakses secara ilegal dalam serangan siber terhadap server di Badan Obat-Obatan Eropa (EMA).

Pernyataan itu disampaikan setelah EMA yang berbasis di Amsterdam mengatakan pihaknya menjadi korban serangan peretasan, tanpa secara spesifik menjelaskan kapan serangan terjadi dan apakah data Covid-19 yang ditargetkan.

Kemampuan senjata perang siber Pyongyang menjadi sorotan global pertama kali pada 2014 ketika dituding meretas Sony Pictures Entertainment sebagai balasan atas film “The Interview,” film satir yang mengolok-olok Kim Jong Un.

Peretas Pyongyang juga disalahkan atas serangan siber WannaCry pada 2017, yang berdampak pada 300.000 unit komputer di 150 negara, mengenkripsi data pengguna dan meminta ratusan dolar dari pemilik agar data mereka bisa kembali.

Pyongyang membantah tuduhan tersebut, mengatakan pihaknya tak ada hubungannya dengan serangan siber. [pan]

Baca juga:
Israel Halangi Pengiriman Vaksin Sputnik V Rusia ke Jalur Gaza
Bill Gates Sebut Mengatasi Covid Jauh Lebih Mudah Daripada Perubahan Iklim
Jarum Suntik Langka di Jepang, Vaksinasi Covid-19 Terhambat
Kasus Pertama Virus Corona Varian Inggris Ditemukan di Kamboja
China Berperan dalam Penyebaran Informasi Konspirasi Covid-19
Saudi Perpanjang Pembatasan Covid-19 Sampai 20 Hari, Bioskop Hingga Mal Ditutup

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini