Korban budak seks ISIS dan dokter ginekolog jadi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian

Jumat, 5 Oktober 2018 17:22 Reporter : Ira Astiana
Korban budak seks ISIS dan dokter ginekolog jadi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian peraih nobel perdamaian 2018. ©REUTERS/Lucas Jackson/Vincent Kessler

Merdeka.com - Komite Norwegia mengumumkan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2018. Penghargaan ini diberikan kepada orang yang dianggap telah melakukan upaya terbaik dalam memperjuangkan persaudaraan antar-bangsa, membantu mengurangi pengangkatan senjata, dan mempromosikan perdamaian.

Penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini adalah Nadia Murad dan dr. Denis Mukwage. Keduanya dinilai telah berupaya mengakhiri kekerasan seksual yang digunakan oleh kelompok tak bertanggung jawab sebagai senjata dalam konflik bersenjata.

Dikutip dari laman Twitter Resmi 'The Nobel Prize' Jumat (5/10), Nadia Murad merupakan satu dari sekitar 3.000 perempuan Yazidi yang dijadikan budak seks oleh kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Nadia diculik oleh ISIS dari kampung halamannya pada 2014 lalu.

Nadia dijual dan dibawa ke kota Mosul kemudian dipaksa melayani nafsu bejat dari orang-orang Suriah, Irak, Tunisia, hingga Eropa. Tidak hanya mengalami pelecehan seksual, dia juga disiksa secara fisik selama beberapa bulan lamanya.

Beruntung, Nadia berhasil melarikan diri dari ISIS ke sebuah kamp pengungsian kemudian pergi ke Jerman. Sejak itu, Murad menjadi penasihat etnis Yazidi dan para pengungsi serta menjadi aktivis yang memperjuangkan hak-hak perempuan.

Selain memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian, Murad juga mendapatkan penghargaan Sakharov dalam kategori kebebasan dalam berpikir pada 2016 lalu. Dia memenangkan penghargaan itu bersama dengan rekan perempuan Yazidinya, Lamiya Aji Bashar.

Sementara itu, dr. Denis Mukwage diganjar Hadiah Nobel Perdamaian atas jasa-jasanya membantu korban kekerasan seksual di Republik Demokratik Kongo. Mukwage dan stafnya telah merawat ribuan pasien yang menjadi korban serangan seksual.

Mukwage merupakan ginekolog asal Kongo yang mendirikan dan bekerja di rumah sakit Panzi, Bukavu. Di tempat tersebut, dia mengkhususkan diri untuk merawat para perempuan korban pemerkosaan pasukan pemberontak.

Di rumah sakit, Mukwage menghabiskan 18 jam kerjanya untuk melakukan beberapa perawatan hingga operasi yang satu harinya bisa sampai sepuluh. Oleh The Globe and Mail, Mukwage dinobatkan sebagai ahli terkemuka dalam memperbaiki cedera akibat pemerkosaan.

Pada September 2012, Mukwage pernah memberikan pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di mana dia mengutuk kekebalan hukum bagi para pelaku pemerkosaan di Kongo. Dia mengkritik pemerintahan negaranya dan juga negara-negara lain karena tidak berupaya lebih keras menghentikan peperangan yang kemudian menjadikan perempuan sebagai korbannya.

Selama menjalani tiga, Mukwage memegang prinsip dasar di mana menurutnya keadilan adalah urusan semua orang. [ias]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini