Kelompok HAM Serukan Pembebasan Anak-anak Uighur di Xinjiang

Senin, 16 September 2019 18:13 Reporter : Merdeka
Kelompok HAM Serukan Pembebasan Anak-anak Uighur di Xinjiang Bocah Uighur. behindthewall.nbcnews.com

Merdeka.com - Kelompok hak asasi manusia (HAM) meminta pemerintah China membebaskan sejumlah anak Uighur dari sekolah asrama Xinjiang. Mereka menilai, penempatan anak-anak di sekolah tersebut dilakukan secara sewenang-wenang.

Beijing menyebut asrama di Xinjiang sebagai wadah "kesejahteraan anak". Menurut pemerintah, sekolah asrama itu merupakan pusat pendidikan dan pelatihan yang disediakan pemerintah bagi anak-anak Uighur. Namun, berbagai pihak berspekulasi bahwa tempat itu tidak lebih dari sebuah kamp konsentrasi.

"Pemerintah China telah menampung anak-anak dalam jumlah besar," jelas Human Rights Watch (HRW), kelompok aktivis HAM yang berbasis di New York, Amerika Serikat.

Menurut HRW, anak-anak Uighur dibawa ke "lembaga kesejahteraan" tanpa persetujuan orangtua mereka. Pasalnya, sebagian besar orangtua mereka telah ditahan atau diasingkan oleh pemerintah.

Dilansir dari laman TIME, sekitar satu juta orang Uighur telah ditahan di kamp pelatihan Xinjiang. HRW mengatakan jumlah tahanan di penjara setempat juga bertambah, meski tidak diketahui pasti jumlahnya.

Direktur Kelompok HAM China Sophie Richardson mengatakan, pemisahan paksa anak-anak Uighur oleh pemerintah China menjadi bagian dari penindasan di Xinjiang.

"Anak-anak harus segera dikembalikan ke kerabatnya di China atau diizinkan untuk bergabung dengan orangtua mereka," imbuh Sophie.

Berdasarkan pemantauan HRW, pemerintah China tidak mencantumkan perizinan orangtua dalam prosedur menampung anak-anak di kamp pelatihan Xinjiang. Dikatakan pula bahwa pendidikan yang diajarkan di kamp tersebut seolah tidak mengindahkan budaya asli masyarakat Uighur.

Anak-anak Uighur yang berada di kamp penampungan itu diajarkan bahasa mandarin, dan bukan bahasa daerah mereka. Adapula propaganda yang diajarkan melalui lagu dan tarian.

Mayoritas penduduk Uighur menganut agama Islam. Namun, disejumlah foto yang ditunjukkan media lokal, tidak terlihat pelajar putri dalam kamp pelatihan Xinjiang yang mengenakan hijab.

Perlakuan Beijing terhadap masyarakat minoritas itu telah mendapat banyak kritikan. Pada Juli lalu, Sekretaris Negara AS Mike Pompeo menyebutkan perlakuan China terhadap Uighur sebagai noda abad ini.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [did]

Topik berita Terkait:
  1. Uighur
  2. Muslim Uighur
  3. China
  4. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini