Kelompok Abu Sayyaf Diduga Dalang Ledakan Bom Gereja Katedral di Filipina

Minggu, 27 Januari 2019 12:45 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Kelompok Abu Sayyaf Diduga Dalang Ledakan Bom Gereja Katedral di Filipina Korban bom gereja katedral di filipina. ©2019 Merdeka.com/PTV's Twitter page

Merdeka.com - Korban ledakan bom di gereja Katedral 'Our Lady of Mount Carmel' di Jolo, Sulu, pada Minggu pagi terus bertambah. Tercatat, sudah 21 orang tewas saat ledakan mengguncang hanya beberapa hari setelah Hukum Organik Bangsamoro (BOL) disahkan.

Direktur Jenderal Polisi Nasional Filipina (PNP) Oscar Albayalde mengkonfirmasi jumlah kematian yang lebih tinggi ini pada siang hari pada hari Minggu.

Albayalde mengatakan, berdasarkan pemantauan bersama oleh polisi dan militer, jumlah orang yang terluka juga meningkat menjadi 71 orang.

Dikutip dari Rappler.com, Polisi regional Daerah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM) mengatakan, "Segera dievakuasi," usai Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) dan PNP mengamankan lokasi terjadinya ledakan bom.

Kelompok Investigasi dan Deteksi Kriminal PNP (CIDG) sebelumnya mengatakan, dua alat peledak improvisasi (IED) digunakan untuk mengebom katedral. Menurut polisi regional ARMM, satu IED meledak di dalam katedral, dan satu lagi di pintu masuk.

Juru bicara PNP Inspektur Senior Bernard Banac mengatakan, ledakan kedua terjadi ketika personel AFP menanggapi ledakan pertama.

Arnel dela Vega, kepala Komando Mindanao Barat militer Filipina, mengatakan tersangka utama di balik pemboman itu masih kelompok teroris Abu Sayyaf. Dia mengatakan, bahwa ini didasarkan pada ancaman sebelumnya.

Gubernur ARMM, Mujiv Hataman, mengatakan, pemboman katedral Jolo kemungkinan adalah hasil kerja para teroris. Hataman mengatakan, Abu Sayyaf tampaknya satu-satunya kelompok yang mampu melakukan serangan semacam itu.

"Pada titik ini, kami tidak ingin membuat spekulasi, tetapi kami dapat yakin bahwa ini adalah 99% hasil kerja para teroris," katanya.

Pemboman terjadi hampir seminggu setelah Komisi Pemilihan menganggap BOL telah diratifikasi.

BOL akan menghapus ARMM dan menggantinya dengan Daerah Otonomi Bangsamoro yang kuat di Muslim Mindanao, yang diharapkan dapat memperbaiki ketidakadilan historis yang dilakukan terhadap orang-orang Moro selama bertahun-tahun. [rnd]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini