Jangan ditiru, cerita para bangsawan ingin hidup abadi

Rabu, 5 September 2018 06:21 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Jangan ditiru, cerita para bangsawan ingin hidup abadi Diane de Poitiers. ©Le Grand Tour

Merdeka.com - Siapa yang tidak ingin hidup hingga 1000 tahun lamanya? Dengan umur panjang, seseorang bisa melihat perubahan dari zaman ke zaman. Apalagi untuk seorang raja dan ratu, mereka bisa terus menikmati menjadi pemimpin nomor satu di wilayah kekuasaannya.

Untuk bisa hidup lebih lama, mereka rela melakukan ritual meski menyeramkan. Berikut ritual para raja dan ratu untuk bisa hidup abadi:

1 dari 3 halaman

Kaisar China tumbal 6.000 perawan

Qin Shi Huang. ©2018 The Famous People

Qin Shi Huang dari China adalah pendiri Dinasti Qin, sekaligus kaisar pertama Tiongkok yang bersatu. Namun, di balik reputasinya sebagai penakluk, ia punya ketakutan terbesar: mati.

Ia memerintahkan para bawahannya mencari 'ramuan keabadian' atau disebut juga 'obat panjang umur'. Kemudian ia menuju ke pulau Zhifu, karena didengarnya ada seorang pria yang sanggup menemukan rahasia kehidupan kekal.

Di sana, ia bertemu dengan tabib Xu Fu. Tabib ini menjanjikan ramuan keabadian. Xu Fu meminta Qin Shi untuk menuju ke Pegunungan Penglai. Ini merupakan tempat mitos bagi Delapan Mahluk Kekal dan ada sebuah jalan menuju para dewa. Xu Fu menjelaskan kepada kaisar tentang seorang tabib berusia 1.000 tahun bernama Anqi Sheng yang akan berbagi rahasia.

Qin Shi Huang merasa senang dan memberikan Xu Fu satu armada kapal untuk dipakai berlayar mencari ramuan keabadian. Tak lama, Xu Fu kembali dan mengaku telah menemukan pulau yang disebutnya penuh semak yang memberikan hidup abadi kepada kaisar. Tapi ada tumbalnya.

Ia perlu membawa 6.000 perawan untuk memperoleh ramuan. Qin Shi Huang mempercayainya dan memberikan yang diperlukan. Selama 8 tahun kemudian, Xu Fu menjauh dari Kaisar dan berlayar bersama para perawan.

Qin Shi Huang menunggu dengan sabar. Walau terdengar mistis, ada bukti bahwa hal itu mungkin benar. Di pulau Zhifu, Qin Shi Huang menorehkan tulisan "Sampai di Fu dan mengukir batu." Ukiran tulisan itu masih ada hingga sekarang.

Apapun, Xu Fu berlayar untuk dan tidak pernah kembali. Diperkirakan Xu Fu mendarat di Jepang.

2 dari 3 halaman

Bangsawan tinggi Kerajaan Hungaria

Erzsebet Bathory. ©2018 Crime Reads

Erzsebet Bathory atau Countess Elizabeth Bathory de Ecsed tercatat sebagai salah satu pembunuh berantai paling terkenal sepanjang sejarah. Pembunuhan yang ia lakukan semata-mata hanya untuk mendapatkan kecantikan yang abadi. Dia sangat yakin, bahwa darah perawan bisa membuatnya memiliki kecantikan abadi.

Bathory mulai bersikap kejam pada para para pembantu dan petani yang tinggal di tanah miliknya saat ia ditinggal suaminya, Nadasdy yang berusia 15 tahun. Saat itu memang pernikahan dini masih sangat wajar.

Pembunuhan Elizabeth Bathory tergolong 'unik'. Ia adalah perempuan pertama yang diketahui sebagai pembunuh berantai, juga satu-satunya wanita pembunuh berantai yang menghabisi korbannya untuk kepentingan seksual dan sadistik, tanpa pengaruh dari pasangan laki-laki yang dominan.

Pembunuhan yang dilakukan Bathory tidak dimotivasi oleh keinginan untuk berkuasa atau faktor politik, melainkan demi kesenangan dan melakukannya tanpa penyesalan. Dalam pembunuhan sadis yang ia lakukan, ternyata ia mengincar darah perawan. Tapi darah para perawan desa dirasa kurang bagi Bathory. Demi mendapat darah yang menurutnya lebih berkualitas, ia mengincar darah para gadis bangsawan rendahan, menculik mereka untuk dijadikan korban.

3 dari 3 halaman

Istri penguasa Prancis

Diane de Poitiers. ©MASTER of the Fontainebleau School

Diane de Poitiers adalah istri dari Raja Henry II, penguasa Prancis. Demi memiliki hidup abadi, Diane menelan emas setiap hari. Padahal rahasia kecantikannya sesungguhnya adalah gen yang dimilikinya dan rutin berolahraga. Diane meninggal usia 66 tahun karena tulang lemah dan anemia akibat kebiasaan meminum emas.

Menurut catatan sejarah, wajah de Poitiers dikabarkan cerah bersinar layaknya wanita yang masih berusia 30 tahun. Padahal saat itu usianya sudah di atas 50 tahun.

Tak heran kalau de Poitiers menjadi kesayangan Henry II yang berusia hampir 2 dekade lebih muda darinya. Menurut Wellman, ada kemungkinan de Poitiers menjadi simpanan Henry ketika sang raja masih berusia 16 tahun dan de Poitiers 35 tahun.

Ahli forensik yang menganalisis tulang belulang de Poitiers juga menemukan jejak merkuri yang biasa digunakan untuk ramuan obat dari emas. Walaupun terkenal sebagai wanita yang aktif dan atletis semasa hidupnya, jasad de Poitiers menunjukkan tanda penipisan rambut dan tulang rapuh, gejala yang umum bagi pasien yang menderita keracunan emas kronis. [has]

Baca juga:
Melihat upacara kedewasaan anak-anak Suku Maasai di Kenya
Ngerinya ritual injak bara api di Klenteng Cibinong
Mandi kembang api, cara China usir roh jahat
Atraksi ngeri 1.038 Tatung meriahkan Cap Go Meh di Singkawang

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini