Ilmuwan Temukan Partikel Polusi Udara dalam Organ Vital Janin, Picu Kematian Dini

Jumat, 7 Oktober 2022 07:19 Reporter : Merdeka
Ilmuwan Temukan Partikel Polusi Udara dalam Organ Vital Janin, Picu Kematian Dini Kabut asap di New Delhi, India. © AFP/Prakash Singh

Merdeka.com - Berdasarkan penelitian terbaru, partikel beracun dari polusi udara dapat ditemukan dalam paru-paru, hati, dan otak dari janin yang belum lahir. Janin yang belum keluar dari kandungan dan belum menghirup udara pertamanya itu sudah mengalami dampak buruk dari polusi udara.

Ribuan partikel karbon hitam ditemukan di setiap milimeter kubik jaringan janin. Peneliti percaya, partikel polusi itu dapat masuk ke janin bayi melalui aliran darah dan plasenta janin.

Ilmuwan yang menemukan pun sangat khawatir sebab perkembangan janin adalah tahap paling rentan di tengah kehamilan.

Sebelumnya peningkatan keguguran, kelahiran prematur, bobot bayi rendah, dan gangguan perkembangan otak memiliki hubungan dengan udara kotor. Studi terbaru juga menunjukkan jika polusi udara mampu menimbulkan efek panjang kehidupan bayi.

Polusi itu sendiri berasal dari hasil pembakaran kendaraan bermotor, rumah-rumah, pabrik-pabrik dan lain-lain. Bahan kimia beracun dan polusi pun beterbangan di udara.

Untuk melihat perbedaan, studi terbaru dilakukan pada ibu-ibu yang tidak merokok di wilayah dengan tingkat polusi udara rendah, yaitu Skotlandia dan Belgia.

“Kami telah menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa nanopartikel karbon hitam tidak hanya masuk ke plasenta trimester pertama dan kedua, tetapi juga menemukan jalan ke organ janin yang sedang berkembang,” kata Profesor Paul Fowler, dari Universitas Aberdeen Skotlandia, seperti dilansir The Guardian, Rabu (5/10).

“Yang lebih mengkhawatirkan adalah partikel-partikel ini juga masuk ke otak manusia yang sedang berkembang. Ini berarti nanopartikel mungkin berinteraksi langsung dengan sistem kontrol di dalam organ dan sel janin manusia,” lanjutnya.

Penelitian itu menjelaskan kualitas udara menentukan perkembangan dan kesehatan janin. Maka itu aturan yang mengatur kualitas udara perlu dibuat.

“Regulasi kualitas udara harus mengenali perpindahan polusi udara selama kehamilan dan bertindak untuk melindungi tahap perkembangan manusia yang paling rentan,” jelas Profesor Tim Nawrot dari Universitas Hasselt, Belgia.

2 dari 2 halaman

Masyarakat pun juga harus bertindak untuk menjamin tingkat kualitas udara yang baik dengan mengurangi polusi udara.

“Studi baru ini sangat bagus – mereka telah menunjukkan dengan meyakinkan bahwa partikel masuk ke janin. Melihat partikel masuk ke otak janin meningkatkan risiko, karena ini berpotensi memiliki konsekuensi seumur hidup bagi anak,” jelas Profesor Jonathan Grigg dari Universitas Queen Mary London.

Grigg mengungkap penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.

“Ini mengkhawatirkan, tetapi kami belum tahu apa yang terjadi ketika partikel-partikel itu bersarang di berbagai tempat dan perlahan melepaskan bahan kimianya,” jelas Grigg.

Sebelumnya sebuah laporan yang diterbitkan pada 2019 menunjukkan polusi udara dapat merusak seluruh organ manusia dan merusak sel-sel tubuh manusia. Bahkan partikel kecil berbahaya ditemukan dalam pembuluh darah. Miliaran partikel berbahaya pun juga ditemukan dalam penduduk-penduduk muda yang tinggal di kota.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan lebih dari 90 persen populasi dunia tinggal di tempat-tempat dengan polusi udara tinggi. WHO mengungkap jutaan kematian dini terjadi karena polusi itu.

Studi baru yang diterbitkan di Jurnal Lancet Planetary Health menjelaskan partikel-partikel kecil polusi udara dapat ditemukan di setiap sampel paru-paru, hati, otak, dan plasenta janin. Peneliti pun menemukan janin bayi rentan terkontaminasi jika ibu mereka tinggal di wilayah polusi udara tinggi.

Studi pada 36 janin yang diperiksa berumur 7 – 20 minggu menunjukkan adanya kontaminasi partikel polusi udara.

“Temuan ini sangat mencemaskan karena paparan ini mengganggu perkembangan organ,” jelas tim peneliti.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]

Baca juga:
Ilmuwan Temukan Samudera Keenam di Bumi, Ini Lokasinya
Ke Mana Penemuan Mahasiswa Berakhir?
Penelitian: Ada 20 Kuadriliun Semut di Bumi
Ilmuwan AS Bantah Temuan Manusia Paling Awal Bisa Berjalan Tegak
Temuan Tulang Purba Buktikan Manusia Paling Awal Bisa Berjalan Tegak

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini