Ilmuwan Inggris akan Menyelam di Zona Paling Gelap dan Dalam di Samudra Hindia
Merdeka.com - Sebuah tim ilmuwan dari Misi Nekton yang dipimpin Inggris tengah bersiap untuk menyelam jauh ke kedalaman Samudra Hindia "Midnight Zone" (atau Zona Tengah Malam) di mana cahaya nyaris tidak bisa mencapainya namun masih ada kehidupan yang berkembang di sana.
Mereka berencana untuk mensurvei satwa liar dan mengukur dampak perubahan iklim di daerah yang belum dijelajahi manusia. Bekerja sama dengan pemerintah Seychelles dan Maladewa, ekspedisi lima pekan ini menargetkan untuk meneliti gunung bawah laut.
Untuk menjelajahi samudera yang begitu dalam dan tidak ramah ini, para ilmuwan Nekton akan naik ke salah satu kapal selam yang paling canggih di dunia, yang disebut "Limiting Factor".
"Apa yang kita ketahui adalah ketika berada di bawah kedalaman 1.000 meter (3.280 kaki), tidak ada cahaya di sana, tetapi banyak kehidupan hewan bercahaya bioluminesen. Kehidupan yang bersinar," kata Oliver Steeds selaku Direktur Misi Nekton, dikutip dari AP, Rabu (5/2).
"Area yang akan kita teliti itu adalah salah satu bagian paling beragam dari lautan yang ada di dunia. Jadi apa yang akan kita temukan di sana sama sekali belum diketahui," kata Steeds kepada AP di Barcelona, Spanyol, sebelum uji coba laut untuk kapal selam dan kapal induknya.
Terkejut Lihat Plastik
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comAgustus lalu, kapal selam "Limiting Factor" menyelesaikan Ekspedisi Five Deeps, menyelam ke titik terdalam di masing-masing dari lima samudera di dunia. Bagian terdalam yang dijelajahi yaitu hampir 11.000 meter (36.000 kaki) ke bawah lautan (atau bisa dibilang lebih dalam dari Gunung Everest yang merupakan gunung tertinggi di bumi).
Untuk menahan tekanan yang luar biasa menghancurkan seperti itu, kompartemen awak dua orang kapal selam ini dibungkus dengan kepompong titanium sembilan sentimeter (3,5 inci). Kapal selam ini juga dapat membawa oksigen darurat yang dapat bertahan selama 96 jam.
"Hanya ada lima kendaraan di dunia yang bisa mencapai kedalaman di bawah 6.000 meter (19.685 kaki), dan hanya satu yang bisa mencapai setengah bagian bawah," kata Rob McCallum selaku pemimpin ekspedisi.
"Jadi semua yang kita lakukan adalah hal baru, semua yang kita lihat sebenarnya adalah penemuan baru," tambahnya.
Dengan menggunakan teknologi pengambilan sampel, sensor, dan pemetaan, para ilmuwan berharap dapat mengidentifikasi spesies baru dari gunung bawah laut yang menjulang tinggi. Serta mengamati dampak dari perbuatan manusia, seperti perubahan iklim dan polusi plastik.
Pada bulan Mei 2019, ketika "Limiting Factor" turun ke dasar Palung Mariana di Samudra Pasifik, titik terdalam samudera, pilotnya terkejut karena melihat sebuah kantong plastik.
"Ketika kita benar-benar memikirkan ruang hidup di planet ini untuk spesies, lebih dari 90 persen ruang hidup itu ada di lautan dan sebagian besar lautan itu belum sepenuhnya dijelajahi oleh manusia," kata Dan Laffoley, pakar kelautan untuk Persatuan Internasional Konservasi Alam. .
Para ilmuwan akan menggabungkan pengamatan mereka dengan pengamatan yang dilakukan tahun lalu selama tujuh pekan misi Samudra Hindia. Mereka berencana untuk mempresentasikan temuan mereka pada tahun 2022 mendatang.
Reporter Magang : Roy Ridho
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya