Guru sekaligus simpatisan ISIS di London ajarkan murid mati syahid
Merdeka.com - Seorang guru sekaligus pendukung kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ditangkap karena mengajak 110 anak muridnya menjadi militan ISIS. Anak-anak itu akan diajak melakukan serangan teroris di London.
Menurut pengadilan, Umar Haque (25) mengajak 110 anak-anak yang berusia antara 11 dan 14 tahun melihat video pemenggalan dan propaganda kekerasan militan lainnya. Dia berkedok mengajar pelajaran Islam.
Padahal Haque tidak memiliki kualifikasi mengajar. Tapi dia memiliki akses ke 250 anak muda selama lima tahun di dua sekolah sebagai pengurus.
Dua sekolah tempat dia mengajar yaitu sekolah Lentera Pengetahuan Islam di Leyton, dan Essex Islamic Academy, yang juga dikenal sebagai Masjid Jalan Ripple, di London timur.
Polisi yakin Haque berpotensi mencoba melakukan radikalisasi terhadap 110 anak tersebut. "Dia mencoba dan dia melakukannya, kami percaya, anak-anak rentan dengan radikalisasi dari usia 11 sampai 14 tahun."
"Rencananya adalah menciptakan militan anak-anak untuk membantu beberapa serangan teroris di seluruh London," kata Kepala Komando Polisi Terorisme Metropolitan, Dean Haydon, seperti dilansir dari laman Russia Today, Jumat (2/3).
Menurut Haydon, anak-anak dipaksa untuk kembali melakukan serangan seperti serangan Westminster tahun lalu, dan mereka dilatih untuk membangun kekuatan mereka.
"Dia mencoba melatih anak-anak agar bisa mati syahid dengan membuat mereka seperti teroris," kata Haydon.
Selain itu, anak-anak tersebut disumpah agar bisa merahasiakan dan tidak memberitahu orang tua mereka. Ini karena mereka 'lumpuh karena ketakutan'.
Haque mengancam jika memberitahu orang tua mereka, mereka akan mengalami nasib yang sama dengan yang ada dalam video militan yang sudah tunjukkan.
Sebanyak 35 anak yang sudah terdoktrin saat ini sedang menjalani tindakan pengamanan yang cukup lama, dengan melibatkan layanan sosial dan ahli lainnya.
"Kami memutuskan untuk melakukan intervensi lebih awal dan menangkapnya. Kami berpikir dia merencanakan serangan aspirasional jangka panjang dan kemudian kami menemukan pelanggaran lain mengenai radikalisasi anak-anak," kata Haydon kepada Sputnik.
Jaksa mengatakan bahwa terdakwa berencana untuk menggunakan senjata api dan sebuah mobil yang dilengkapi dengan bahan peledak untuk menyerang sasaran seperti Big Ben, Garda Ratu, pusat perbelanjaan Westfield, bank, dan media.
Haque dinyatakan bersalah di Pengadilan Old Bailey di London karena sejumlah pelanggaran, termasuk merencanakan tindakan teroris. Sebelumnya Haque pernah mengaku bersalah atas empat tuduhan.
Saat ditangkap di dermaga, Haque berteriak: "Secara jelas kalian akan melihat ISIS memantapkan dirinya di jazirah Arab dan kekeringan akan mempengaruhi Eropa dan Amerika."
Selain Haque, ada dua pria yang ikut membantu, yaitu Abuthaher Mamun (19) yang juga mengajar di masjid tersebut dan Muhammad Abid (27) yang juga diputus bersalah.
Setelah putusan tersebut, Komisi Amal Inggris mengkonfirmasikan bahwa penyelidikan hukum di Essex Islamic Academy sedang berlangsung. Penyelidikan dibuka pada bulan Oktober 2017, namun tidak dipublikasikan karena takut berprasangka terhadap persidangan. Sebuah penyelidikan terhadap Lantern of Knowledge juga sudah dilakukan, yang akan dimulai pada 17 Februari.
(mdk/rhm)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya