Foto bocah SD berambut es jadi perdebatan potret kemiskinan di China

Sabtu, 13 Januari 2018 08:27 Reporter : Ira Astiana
Wang Fuman bocah sd berambut es di china. ©People's Daily Online

Merdeka.com - Sosok bocah laki-laki asal China bernama Wang Fuman mendadak jadi perbincangan di jagat maya. Fotonya dalam balutan mantel tebal dengan rambut bertahtakan es di sebuah ruang kelas menarik perhatian publik.

Banyak yang mempertanyakan, hal apa yang telah dilalui anak dengan julukan 'Si Bocah Es' tersebut hingga bisa berpenampilan demikian ketika tiba di sekolah? Bagaimana kisahnya?

Laman Channel News Asia, Jumat (12/1), melaporkan Wang merupakan siswa sekolah dasar dari provinsi Yunnan. Rumahnya terletak di sebuah desa yang jauh dari keramaian dan fasilitas umum. Bahkan untuk ke sekolah saja, Wang harus menempuh perjalanan sejauh 4,5 kilometer.

Wang yang hanya tinggal dengan nenek dan kakak perempuan itu tidak memiliki kendaraan untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari. Jadi, dia hanya akan mengandalkan kakinya untuk pergi ke mana pun, termasuk ke sekolah.

Wang Fuman bocah sd berambut es di china People's Daily Online



Saat itu, suhu udara di desanya mencapai minus 9 derajat celcius. Wang ingat hari itu ada ujian di sekolahnya. Tanpa memedulikan cuaca dingin yang menusuk tulang, Wang nekad berjalan kaki ke sekolah agar tidak ketinggalan ujian.

"Aku ingin jadi polisi biar bisa melawan orang jahat," kata Wang bersemangat.

Wang mengaku bahwa berjalan selama satu jam ke sekolah setiap hari tidak pernah mematahkan semangatnya untuk mengenyam pendidikan. Kegigihannya tersebutlah yang patut ditiru oleh setiap pelajar di mana pun berada.

"Perjalanan ke sekolah terasa dingin, tapi tidak sulit!" serunya.

Begitu tiba di sekolah, Wang pun langsung menjadi bahan tertawaan teman sekelasnya. Sebab, penampilannya memang terbilang lucu dengan rambut putih karena membeku, alis yang juga bernasib sama, serta pipi memerah akibat terlalu lama diterpa udara dingin.

Namun sang guru yang merasa takjub dengan usahanya itu langsung mengabadikan foto dirinya dan menyebarkan foto tersebut di situs jejaring sosial.

Foto itu kemudian mengundang simpati dari masyarakat. Bahkan, sekolah tempat Wang menimba ilmu dibanjiri sumbangan dana sebesar 300.000 yuan atau Rp 617 juta. Dana tersebut kemudian digunakan pihak sekolah untuk membeli alat pemanas ruangan agar siswa yang belajar merasa nyaman di kelas.

Selain itu, masing-masing siswa juga diberi bantuan senilai 500 yuan atau Rp 1 juta agar mereka tetap bersemangat untuk pergi ke sekolah di musim dingin. Sedangkan untuk Wang sendiri, dia menerima bantuan dana cukup besar. Ayah Wang yang kerja serabutan dan jarang pulang juga turut terkena imbas kepopuleran putranya. Kini dia diberi tawaran bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di kampung halamannya.

Menurut harian China Daily, sumbangan yang dari masyarakat itu kini sudah mencapai Rp 34,8 miliar.

Kisah tentang anak-anak yang ditinggalkan seperti Wang, yang orang tuanya harus bekerja di kota sementara anak mereka tinggal di desa dengan saudara atau nenek kakeknya, menjadi bahan perdebatan di China dalam beberapa tahun belakangan.

"Kita belum berbuat banyak untuk menolong kaum miskin," kata komentar seorang netizen.

"Di China ada banyak anak seperti Wang," kata yang lain.

Sejak menjabat presiden pada 2012, Xi Jinping mempunyai program menghapus kemiskinan di daerah terpencil hingga 2020.

Data statistik pemerintah menyebutkan pada 2016 ada sekitar 43,3 juta rakyat di daerah terpencil masih hidup di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan negara yakni sebesar 2.300 yuan setahun atau Rp 4,3 juta setahun. Penduduk China saat ini mencapai 1,4 miliar jiwa. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. China
  2. Kemiskinan
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.