Fakta-Fakta Kedekatan Iran dan Rusia, Sampai Dibantu Bombardir Markas Amerika Serikat

Rabu, 15 Januari 2020 06:10 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Fakta-Fakta Kedekatan Iran dan Rusia, Sampai Dibantu Bombardir Markas Amerika Serikat Pertemuan Pemimpin Iran Rusia dan Turki. Reuters/Umit Bektas

Merdeka.com - Rusia menjadi salah satu sekutu Iran. Kedua negara ini kerap melakukan kerjasama, salah satunya kerjasama di bidang militer. Tak hanya itu saja, Rusia juga diduga membantu Iran saat konflik dengan Amerika Serikat.

Berikut bukti-bukti kedekatan kedekatan Iran dengan Rusia, sampai Dibantu Bombardir Markas Amerika Serikat di Irak.

1 dari 5 halaman

Iran Luncurkan Rudal Serang Pangkalan AS di Irak Gunakan Satelit Rusia

Rudal-rudal Iran yang diluncurkan Pasukan Garda Revolusi ke pangkalan militer Amerika Serikat di Irak pekan lalu diduga memakai teknologi satelit Rusia. Demikian dilaporkan media penerbangan Rusia Avia.Pro yang mengutip stasiun televisi Pravda TV.

Menurut laporan itu, rudal Iran yang menyasar pangkalan militer AS di Irbil dan Ain Al-Assad di Provinsi Al-Anbar dipandu pergerakannya dengan satelit Rusia.

"Itulah sebabnya diyakini 17 dari 19 rudal balistik Iran sukses mengenai target yang berjarak beberapa ratus kilometer dari perbatasan Iran," kata Avia.Pro, seperti dilansir laman Al Masdar, Senin (13/1).

"Dengan satelit GPS Amerika bisa membuat terobosan untuk sistem panduan rudal segala tipe. Tapi rasanya tidak mungkin AS akan mengizinkan Iran memakai satelitnya untuk meluncurkan rual ke pangkalan militer mereka di Irak. Tapi GPS bukan satu-satunya satelit. Rusia punya GLONASS yang kemampuannya setara. China punya Beidou yang belum terlalu akurat. Jadi Anda bisa menebak bagaimana Iran bisa meraih akurasi semacam itu," kata stasiun televisi Pravda.

2 dari 5 halaman

Latihan Militer antara Rusia, China dan Iran

Militer Angkatan Laut Iran, China dan Rusia latihan bersama di Samudera Hindia dan Teluk Oman pada Desember 2019. Selain menjadi bukti kedekatan ketiga negara, latihan militer AL ini menjadi upaya pencegahan dari tekanan Amerika Serikat.

"Pesan dari latihan ini adalah perdamaian, persahabatan dan keamanan abadi melalui kerja sama dan persatuan ... dan hasilnya akan menunjukkan bahwa Iran tidak dapat diisolasi," kata laksamana armada Iran, Gholamreza Tahani di televisi pemerintah, seperti dikutip dari Reuters.

Seperti diketahui, perairan di sekitar Iran telah menjadi fokus ketegangan internasional. Amerika Serikat memberikan tekanan pada Iran, seperti penekanan penjualan minyak mentah Iran dan memutus tali perdagangan Iran.

3 dari 5 halaman

Iran Beli Rudal dari Rusia

Sejumlah rudal yang digunakan Iran untuk menyerang AS dibeli dari Rusia. Saat penyerangan ke dua pangkalan udara AS di Irak 8 Januari 2020 kemarin, Iran menggunakan rudal yang dibeli dari Rusia. Kemudian dalam serangan kedua, Iran meluncurkan roket ke pangkalan udara Amerika Serikat, Al Balad di Irak, Minggu (12/1).

Dalam serangan ke dua pangkalan udara AS Al-Assad dan Irbil, Iran menggunakan rudal balistik Fateh 313. Kemudian dalam serangan kedua, Iran menggunakan roket berjenis Katyusha.

Diketahui, roket Katyusha merupakan buatan Rusia. Peluncur roket ganda Katyusha atau BM-13 Katyusha pertama kali dibuat oleh Uni Soviet dan digunakan saat Perang Dunia II. Kemudian, Katyusha dirancang oleh Georgy Langemak dan didesain oleh Plant Comintern in Voronezh.

4 dari 5 halaman

Ali Khamenei: Kerja Sama Iran dan Rusia Dapat Mengisolasi Amerika

Bukti kedekatan Iran dengan Rusia juga terlihat dari pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu 1 November 2017 lalu. Saat itu Ayatollah mengatakan bahwa Teheran dan Moskow harus meningkatkan kerja sama untuk melawan Amerika Serikat dan membantu menstabilkan Timur Tengah.

"Kerja sama kami dapat mengisolasi Amerika... Kegagalan teroris yang didukung AS di Suriah tidak dapat disangkal, tetapi orang Amerika melanjutkan plot mereka," kata Khamenei kepada Putin, menurut televisi pemerintah Iran.

Iran dan Rusia adalah sekutu utama Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sementara Amerika Serikat, Turki, dan sebagian besar negara Arab lainnya mendukung kelompok pemberontak yang berusaha untuk menggulingkannya.

Putin bertemu dengan para pemimpin politik Iran dalam upaya memelihara hubungan yang baik, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam untuk meninggalkan kesepakatan nuklir internasional dengan Iran pada tahun 2015.

Presiden Iran Hassan Rouhani, mengatakan Iran dan Rusia mampu mengatasi "terorisme regional", sebuah sindiran kepada kelompok-kelompok bersenjata Muslim Sunni yang bermusuhan dengan Iran, Assad dan negara Arab lainnya.

"Kerja sama kami telah membantu perang melawan terorisme di wilayah ini. Bersama-sama kita dapat membangun perdamaian dan keamanan regional," kata Rouhani dalam konferensi pers bersama televisi dengan Putin dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, yang mengambil bagian dalam pertemuan tiga arah di Teheran.

5 dari 5 halaman

Iran dan Rusia Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Selain di bidang militer, hubungan dekat Iran dan Rusia juga terlihat di bidang lain. Iran dan Rusia meresmikan tahap rekonstruksi baru untuk reaktor kedua di satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr di pantai Teluk, Minggu (10/11/2019). Rekonstruksi itu diresmikan oleh Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Ali Akbar Salehi dan wakil kepala badan nuklir Rusia Rosatom, Alexander Lokshi

Reaktor tersebut adalah satu dari dua yang secara resmi sedang dibangun sejak 2017 di lokasi Bushehr yang berjarak sekitar 750 kilometer (460 mil) selatan Teheran.

Kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani oleh Iran dengan enam kekuatan utama, termasuk Rusia, membatasi beberapa jenis reaktor nuklir yang dapat dikembangkan Iran, dan produksi bahan bakar nuklirnya. Namun tidak mengharuskan Iran untuk menghentikan penggunaan energi nuklirnya untuk pembangkit listrik.

"Dalam visi jangka panjang hingga 2027-2028, ketika proyek-proyek ini selesai, kita akan memiliki 3.000 megawatt listrik yang dihasilkan oleh pembangkit nuklir," kata Salehi pada upacara tersebut.

Republik Islam memang sedang berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas melalui pengembangan fasilitas tenaga nuklir.

Rusia membangun reaktor 1.000 megawatt yang ada di Bushehr yang mulai beroperasi pada September 2011 dan diperkirakan akan melakukan pembangunan sepertiga di masa depan, menurut AEOI.

Sebagai bagian dari perjanjian 2015, Moskow menyediakan bahan bakar yang dibutuhkan Iran untuk reaktor nuklir.

[dan]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini