Eks petinggi yang jadi pembocor skandal FIFA tutup usia
Merdeka.com - Mantan Komite Eksekutif Federasi Asosiasi Sepakbola Dunia (FIFA), Chuck Blazer, tutup usia. Pembocor skandal korupsi di lembaga mengurus bola sepak sedunia itu meninggal pada usia 72 tahun karena mengidap kanker.
Dilansir dari laman BBC, Kamis (13/7), kabar meninggalnya Blazer disampaikan oleh kuasa hukumnya
"Kami turut berduka cita atas kepergian klien dan rekan kami, Chuck Blazer," tulis kuasa hukumnya dalam pernyataan tertulis.
Mereka menyatakan, Chuck memang terjerumus dalam kejahatan korupsi. Namun, hal itu mestinya tidak merusak usahanya dalam memajukan sepakbola dunia.
Karir Blazer hancur pada 2015 karena dilarang terlibat mengurus sepakbola dalam bentuk apapun seumur hidup. Padahal semula dia pernah mengurus Concacaf, Lembaga mengurus sepakbola wilayah Amerika Tengah dan Utara. Dia membantu mempopulerkan olahraga itu di Amerika Serikat dan negara anggota Concacaf. Hanya saja, Blazer juga menjadi contoh bagaimana lembaga sepakbola ternyata sangat tamak dan dijangkiti virus korupsi bertahun-tahun.
Menurut laporan Komite Integritas Concacaf empat tahun lalu, Blazer menerima duit sebesar USD 20,6 juta, atau setara Rp lebih dari 275,3 miliar dari komisi, upah, dan penyewaan peralatan dari lembaga itu antara 1996 hingga 2011.
Karena mendapat banyak uang, Blazer terkenal gemar hidup bermewah-mewah. Dia bahkan membeli dua kamar apartemen pada Menara Trump di New York, yang salah satunya khusus diperuntukkan buat kucing-kucing peliharaannya.
Dalam blognya, Blazer juga juga kerap memamerkan pertemanannya dengan tokoh-tokoh sepakbola dunia seperti Pele dan Bobby Charlton, hingga figur tenar lainnya.
Keberuntungannya dalam menghindari pajak berakhir pada 2011. Saat itu dia hendak memanipulasi dokumen pengembalian pajak. Dia lantas dicegat dan ditangkap oleh anggota Biro Penyelidik Federal (FBI) dan petugas pajak (Internal Revenue Service/IRS) ketika mengendarai skuternya menuju restoran favoritnya di New York.
"Kami bisa memborgol Anda sekarang juga, atau Anda mau bekerja sama," kata Blazer menirukan perkataan aparat.
Blazer lantas menyerah dan membantu aparat membongkar borok FIFA. Pada 2013, Blazer mengaku bersalah atas penyuapan, pencucian uang, dan penggelapan pajak. Informasinya turut membantu melengserkan Sepp Blatter dari jabatan Presiden FIFA.
Pengakuannya berbuah manis dua tahun kemudian. Dalam sebuah operasi, aparat keamanan di Zurich, Swiss, menggerebek hotel tempat petinggi dan bos pemasaran FIFA menggelar rapat saat subuh. Mereka digiring ke kantor polisi karena dituduh korupsi. Operasi itu belum berakhir dan aparat keamanan di dunia masih terus berusaha membongkar korupsi di lembaga sepakbola internasional itu. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya