Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dugaan korupsi dan suap bikin Presiden Brasil semakin terjepit

Dugaan korupsi dan suap bikin Presiden Brasil semakin terjepit Michael Temer. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Kondisi politik Brasil memanas setelah Presiden Michel Temer diduga bersekongkol dengan rekan koalisinya buat membungkam saksi dalam kasus korupsi sedang diusut.

Perkara korupsi diduga dilakukan Temer kabarnya bertambah dengan adanya tuduhan penyuapan. Dia dan sekitar seribu politikus, termasuk mantan presiden Dilma Roussef dan Luiz Inacio da Silva, konon menerima sogokan dari perusahaan daging terbesar di Brasil dan dunia, JBS. Malah rekaman sadapan pembicaraan Temer juga sudah diserahkan ke Mahkamah Agung sebagai bukti tambahan penyelidikan.

Seperti dilansir dari laman The Guardian, Sabtu (20/5), Jaksa Agung Brasil, Rodrigo Janot, menyatakan mulanya Temer dan senator faksi kanan, Aecio Neves, mencoba menghentikan penyelidikan kasus korupsi dan pencucian uang dilakukan oleh petinggi perusahaan minyak Brasil, Petrobras. Mereka diduga menerima aliran dana suap dan jatah karena meloloskan kontrak pembangunan fasilitas yang sudah digelembungkan.

Dalam rekaman rahasia itu, Temer diduga meminta petinggi JBS buat memberikan uang supaya mantan Juru Bicara Parlemen Brasil, Eduardo Cunha, yang sempat dipenjara tutup mulut soal dugaan kolusi dan korupsi. Sebab, JBS diduga selalu mendapat kemudahan dari pemerintah dalam melakukan kegiatan usahanya. Konon mereka membayar sejumlah fulus supaya pemerintah tutup mata soal kecurangan mereka dalam berbisnis. Kasus itu dikenal dengan nama Operasi Cuci Mobil (Lava Jato).

Bos JBS, Ricardo Saud, dalam persidangan terdahulu menyatakan menyuap BRL 35 juta buat lima senator supaya mau mendukung pencalonan kembali Dilma Rousseff sebagai presiden pada 2014. Menurut dia, duit itu adalah bagian dari jatah dana kampanye diberikan buat Partai Buruh Brasil sebesar BRL 300 juta. Sedangkan menurut dia, JBS menggelontorkan dana hingga BRL 600 juta, atau setara lebih dari Rp 240 miliar buat dibagi-bagi kepada 1.829 anggota parlemen dari 28 partai.

Janot turut menyangka Temer, yang juga ketua Partai Pergerakan Demokratik Brasil, serta Aecio (Ketua Partai Sosial Demokrat Brasil) hendak mengganjal proses hukum sedang berlangsung. Aecio juga disangka main mata dengan Hakim Mahkamah Agung, Gilmar Mendes, bakal mendukung parlemen membikin aturan buat melemahkan penyelidikan kasus Lava Jato.

"Ini menjadi bukti kalau Aecio Neves bersama Michel Temer mencoba menghambat kasus Lava Jato. Baik dari sisi aturan dibuat badan legislatif maupun mengendalikan mereka yang tahu soal penyelidikan itu," kata Janot.

Mahkamah Agung Brasil menyatakan sudah menerima sejumlah bukti tentang perbuatan Temer, dan segera menyarankan dia buat mundur. Sedangkan delapan anggota majelis rendah parlemen sepakat mengajukan permohonan menggelar rapat dengar pendapat dengan tujuan pemakzulan Temer.

Dikepung dengan berbagai bukti, Temer berkeras dia tidak bersalah dan tak bakal mundur dari jabatannya. Tim penasihat hukumnya malah mempertanyakan keabsahan bukti-bukti dugaan korupsi itu.

Pemerintahan Temer makin hari kian memburuk. Skandal ini makin membuat dia terpuruk. Padahal, kondisi di masa Dilma Rousseff sudah memantik kemarahan rakyat. Mereka menggelar unjuk rasa besar dan kadang berakhir bentrok. Mantan Hakim, Joaquim Barbosa, menyarankan rakyat turun ke jalan mendesak Temer supaya lengser.

(mdk/ary)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP