Donald Trump Keluhkan Minimnya Persediaan Air Untuk Siram Toilet

Minggu, 8 Desember 2019 14:33 Reporter : Merdeka
Donald Trump Keluhkan Minimnya Persediaan Air Untuk Siram Toilet Presiden AS Donald Trump. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat bingung media dan warganet karena mendadak membahas penyiraman toilet. Pasalnya, dia meyakini ada regulasi yang membuat orang susah memakai air, sampai perlu berkali-kali menyiram toilet hingga 15 kali.

Ucapan itu disampaikan Trump saat bertemu pebisnis di Gedung Putih. Dia berjanji akan melakukan deregulasi agar akses persediaan air tidak terlalu ketat.

"Tidak cukup hanya menyiram sekali, sekarang orang-orang menyiram toilet 10-15 kali, dibutuhkan lebih banyak air untuk menyiram," ujar Donald Trump seperti dilansir ABC News, Sabtu (7/12).

Di AS, penggunaan toilet duduk yang menyiram dengan volume air rendah adalah hasil aturan era George H.W. Bush. Pada Undang-Undang Kebijakan Energi, toilet otomatis tidak boleh memakai lebih dari 1,6 galon (1 galon = 3,79 liter) per penyiraman air (flush).

Aturan tersebut diterapkan pada 1994 di rumah-rumah atau tempat tinggal, dan mulai 1997 diberlakukan untuk bangunan komersial. Trump mengatakan bahwa sulitnya mencuci tangan di rumah atau gedung karena air yang keluar dari keran sangat kecil. Sehingga butuh waktu yang lama untuk mencuci tangan.

"Karena air yang kecil membuat waktu untuk cuci tangan lebih lama dari biasanya," keluhnya.

Trump mengakui, melonggarkan aturan terkait air ini mungkin tidak akan berdampak baik untuk daerah-daerah yang kering, namun ada juga beberapa daerah yang persediaan airnya banyak sehingga memungkinkan aturan itu dapat dilonggarkan.

"Airnya turun dari langit. Itu yang disebut hujan," ucap Trump.

Selama ini, Donald Trump tidak peduli terhadap dampak lingkungan dari aktivitas bisnis yang. Sebelumnya Trump mencabut aturan mantan Presiden Barack Obama terkait polusi batu bara karena ingin meringankan beban pemasok energi AS dan memperkuat industri. Trump juga beberapa kali mencemooh ancaman pemanasan global.

1 dari 1 halaman

Miskonsepsi Trump atas Pemanasan Global

Trump berkomentar terkait musim dingin yang buruk di kawasan Midwest sebagai tanda pemanasan global telah 'pergi', membuat sejumlah media dan pegiat lingkungan mengerutkan alis, serta mempertanyakan seberapa jauh pemahaman sang presiden tentang konsep pemanasan global.

Sebelumnya, dalam sebuah cuitan di Twitter pada Senin 28 Januari 2019, Trump berkicau dengan nada nyinyir: "Di Midwest yang indah, suhu mencapai minus 60 derajat fahrenheit (setara minus 15 derajat Celsius), suhu terdingin yang pernah tercatat. Dalam beberapa hari mendatang, diperkirakan akan semakin dingin."

"Karena dingin yang ekstrem, orang tidak akan kuat untuk berada di luar. Apa yang terjadi dengan Global Warning (Trump menulis 'Warning', padahal seharusnya 'Warming')? Harap kembali dengan cepat, kami membutuhkan Anda!"

Tetapi, laporan ilmiah yang dirilis lembaga pemerintahan Trump dan pakar iklim bertentangan dengan komentar Trump yang mengindikasikan bahwa pemanasan global tak akan ada jika cuaca dingin menerjang. Menurut ilmuwan, suhu Bumi masih jauh lebih hangat daripada 30 tahun lalu dan terutama 100 tahun yang lalu, menunjukkan bahwa Planet Biru mengalami pemanasan global.

Menurut data dari University of London , Penganalisa Iklim University of Maine dan NASA, Selasa 29 Januari 2019 mencatat suhu bumi secara keseluruhan adalah 0,3 derajat Celcius lebih hangat antara tahun 1979-2000 dan 1,6 derajat lebih hangat daripada rata-rata sekitar 100 tahun yang lalu, seperti yang dikutip dari The Associated Press, Kamis (31/1). Data itu menunjukkan bahwa Bumi secara keseluruhan --bukan AS saja-- mengalami pemanasan global.

Sementara di AS, 48 negara bagian yang mengalami suhu rendah hanya menyumbang 1,6 persen dari total suhu rata-rata dunia. Ketika itu terjadi, lima negara bagian AS --termasuk 48 negara bagian yang saat ini tengah bersuhu rendah-- justru memiliki suhu yang jauh lebih hangat dari biasanya.

"Ini hanyalah peristiwa cuaca ekstrem dan tidak mewakili tren suhu skala global," kata ilmuwan iklim Northern Illinois University, Victor Gensini mematahkan komentar Presiden Donald Trump dalam kesempatan berbeda.

Suhu ekstrem sebaliknya, alias super panas, "terjadi di Australia sekarang," lanjut Gensini.

Pekan lalu kota besar Adelaide mencetak rekor suhu tertinggi bersuhu 46,6 derajat Celcius.

Reporter Magang: Denny Adhietya [pan]

Baca juga:
Korut Hentikan Perundingan Denuklirisasi dengan AS
Ucapan Donald Trump di KTT NATO Bikin Kesal Kim Jong-un
Memahami Sejarah Singkat 65 Tahun Konflik Iran-AS
Video Empat Kepala Negara Bergosip Soal Trump di Acara KTT NATO
Trump Tolak Hadir dalam Sidang Pemakzulan Besok
Ke Afghanistan, Trump Rayakan Thanksgiving Bareng Tentara AS

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini