Dari Informan di Bandara, Cerita Lengkap Operasi Pembunuhan Qassim Sulaimani

Senin, 13 Januari 2020 14:11 Reporter : Pandasurya Wijaya
Dari Informan di Bandara, Cerita Lengkap Operasi Pembunuhan Qassim Sulaimani Qassem Soleimani. ©AFP

Merdeka.com - Amerika memang sudah menunggunya.

Badan Intelijen Amerika, CIA, sudah mengantongi informasi dari para informan di Bandara Damaskus, Suriah, yang menyebut sebuah pesawat jet komersil membawa Panglima Garda Revolusi Iran Qassim Sulaimani berangkat menuju Baghdad, Irak. Intelijen Israel membantu rincian informasi itu.

Laman NBC News melaporkan, Sabtu (11/1), ketika pesawat Airbus A320 dari maskapai Cham Wings Airlines mendarat di Bandara Internasional Baghdad, Irak, mata-mata Amerika di bandara itu membenarkan target mereka sudah tiba.

Tiga drone Amerika kemudian mengambil posisi. Wilayah udara Irak memang selama ini didominasi oleh militer AS. Tiga drone itu masing-masing dilengkapi rudal Hellfire.

Informasi tentang bagaimana AS menghabisi Sulaimani ini berdasarkan hasil wawancara dua sumber yang memahami rincian operasi ini dan juga dari pejabat AS yang diberi informasi terkait.

1 dari 4 halaman

Di sebuah layar besar, sejumlah pejabat AS menyaksikan bagaimana pemimpin milisi Irak berjalan menuruni tangga untuk menyambut kedatangan sang pemimpin pasukan Garda Revolusi ketika dia keluar dari pesawat.

Pada saat itu waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, gambar infra merah hitam putih itu tidak begitu jelas. Wajah-wajah tidak terlihat.

Orang-orang di bandara itu tidak mengetahui nyawa mereka sudah tinggal hitungan menit.

Direktur CIA Gina Haspel mengamati operasi itu dari markas CIA di Langley, Virginia, AS. Menteri Pertahanan Mark Esper menyaksikan dari lokasi lain. Gambar yang sama juga disetel di Gedung Putih, tapi Presiden Donald Trump ketika itu sedang berada di Florida.

2 dari 4 halaman

Kilatan Petir Buatan Manusia

Gambar di layar memperlihatkan dua sosok senior itu masuk ke dalam mobil sedan yang menepi. Sebagian rombongan lainnya masuk ke dalam minivan dan mengekor di belakang.

Drone AS mengikuti iring-iringan kendaraan yang bergerak keluar dari bandara. Ahli intelijen memberi sinyal tentang identitas penumpang kendaraan mobil itu dari ponsel mereka. Di layar operator drone tersedia informasi data dari satelit selama bertahun-tahun.

Kendaraan lain melewati mobil yang ditumpangi target, tapi lalu lintas saat itu lengang. Minivan mendahului sedan.

Di Pusat Komando Militer AS yang bermarkas di Qatar, tempat drone ini diterbangkan, tidak ada keraguan tentang siapa penumpang di dalam mobil.

Mereka yang menyaksikan layar bisa melihat bagaimana rudal itu diluncurkan. Kilatan petir buatan manusia itu meluncur dari langit. Tak ada yang selamat.

Sulaimani tewas.

3 dari 4 halaman

Operasi yang Sudah Menjadi Normal

Pejabat militer AS sudah sering menyaksikan secara langsung bagaimana rudal mereka menyasar target di berbagai belahan dunia. Meski operasi itu berjalan sukses, namun reaksi mereka muram mengingat dampak dari serangan ini sudah mereka sadari akan seperti apa balasan yang terjadi.

Operasi ini tidak lagi terbilang luar biasa bagi kalangan intelijen. Yang luar biasa adalah justru betapa sudah menjadi rutinnya operasi semacam ini dilakukan.

Pembunuhan Sulaimani ini memperlihatkan bagaimana CIA setelah dua dekade lalu sudah mengetahui lokasi sosok yang mereka yakini pemimpin Al Qaidah Usamah Bin Ladin di Afghanistan tapi tak bisa membunuhnya, kini semakin lihai memburu dan menghabisi musuh mereka, terutama di wilayah konflik seperti Timur Tengah, Afrika Selatan, dan Afrika.

"Dalam waktu kurang dari satu generasi, kita sudah beranjak dari sesuatu yang tadinya tidak normal atau mungkin sains fiksi menjadi sesuatu yang kini sudah menjadi normal atau biasa," kata Peter Singer, pengamat di Yayasan Amerika Baru tentang perang masa depan.

4 dari 4 halaman

Serangan drone yang menewaskan Sulaimani menjadi gambaran bagaimana telah terjadi perubahan besar dalam aksi pertempuran, kata Anthony Cordesman yang mempelajari tren militer di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington.

"Itu butuh upaya pemantauan dan pengintaian intelijen yang besar sekali--dan tidak ada negara lain yang bisa menandinginya, dan juga biayanya sangat mahal, menguras waktu, dan butuh banyak ahli."

Drone yang mengikuti iring-iringan mobil itu bukannya tidak bersuara, tapi di tengah wilayah perkotaan macam Baghdad, suara semacam itu tidak mudah dilihat, kata pejabat militer. Tidak ada petunjuk yang mengatakan sosok di dalam mobil itu mengetahui mereka sudah menjadi target.

Pemerintah Irak tidak senang dengan kabar AS membunuh seorang pejabat negara tetangga di wilayah mereka tanpa berkonsultasi lebih dulu. Dua pejabat Irak mengatakan kepada Reuters, mereka sedang menyelidiki peran sejumlah informan AS di Bandara Baghdad.

Reuters juga mengatakan, intelijen Suriah sedang menyelidiki dua pegawai Cham Wings Airlines.

Pejabat AS mengatakan kepada NBC News, mereka sudah mengintai pergerakan Sulaimani selama beberapa hari. [pan]

Baca juga:
Konflik Makin Panas, Iran Berencana Bombardir Empat Kedubes Amerika Serikat
Intelijen Israel Terlibat Pembunuhan Qassim Sulaimani
Balas Dendam Belum Usai, Iran Kembali Gempur Markas Pasukan Amerika Serikat di Irak
Perang Sama Amerika Serikat Batal, Iran Malah Terpojok karena Tembak Pesawat Ukraina
Balas Dendam Iran Terhadap Amerika Belum Selesai
Komandan Militer Iran Akui Ingin Mati Saat Dapat Informasi Jatuhnya Pesawat Ukraina

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini