KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Bocoran 'Panama' singgung skandal investasi bodong di Indonesia

Senin, 4 April 2016 12:03 Reporter : Ardyan Mohamad
Ilustasi investasi (c) shutterstock

Merdeka.com - Data-data bocoran 'Panama Papers' yang dihasilkan oleh kerja kolaborasi jurnalis lintas negara mengguncang firma hukum Mossack Fonseca. Perusahaan konsultasi pemindahan dana legal terbesar keempat sedunia itu terbukti kerap membantu pengemplang pajak serta praktik pencucian uang para pesohor.

Temuan ini diperoleh dari kerja keras setahun terakhir oleh Konsorsium jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ), media massa, serta kelompok pegiat dari 80 negara.

Fonseca, firma berbasis di Panama, dalam data itu disebut melindungi pelaku investasi bodong yang beroperasi di Indonesia. Merujuk data laporan panamapapers.icij.org yang dilansir Senin (4/4), Mossack Fonseca membantu pengusaha hitam melarikan dana sedikitnya USD 150 juta yang dihasilkan dari menipu 3.500 investor di Indonesia.

Perusahaan abal-abal ini berkedok investasi online, didirikan di British Virginia Island. Jika merujuk data dari kepolisian serta arsip pemberitaan merdeka.com, maka kasus yang dimaksud dalam dokumen tersebut adalah penipuan PT Sarana Perdana Indo Global.

Perusahaan milik Leonardo Patar Muda Sinaga itu - sampai sekarang Leo masih buron - menghimpun dana Rp 2,1 triliun dari ribuan nasabah. Kedoknya adalah perusahaan menjual kontrak index futures, dengan iming-iming imbal hasil 4 persen per bulan.

Setelah terungkap oleh kerja sama Polri dan Kementerian Perdagangan, Leo kabur ke Singapura. Kasus ini terungkap Maret 2007.

Dalam data ICIJ, Mossack Fonseca tidak kooperatif pada permintaan nasabah Sarana Perdana Indo Global yang tertipu. Mereka berhasil menemukan keterkaitan antara Leo dan Fonseca sebagai firma hukumnya dalam mengelola dana di negara bebas pajak.

"Kami sangat membutuhkan uang investasi yang dilarikan untuk membayar biaya sekolah putra kami pada April ini," kata salah satu investor itu melalui email. Surat elektronik itu tak digubris oleh pihak Fonseca.

Data terkait sosok-sosok penting atau perusahaan di Indonesia masih sangat mungkin terungkap lewat Panama Papers. Para jurnalis sedunia baru memakai sedikit saja dari bocoran tersebut.

Sosok terlibat skandal Panama Papers (c) 2016 Istimewa

Panama Papers diyakini bakal mewarnai pembicaraan global. Sedikitnya 12 kepala negara, baik presiden ataupun perdana menteri, tersangkut bocoran data ini karena memakai fasilitas negara surga pajak. Data-data ini sudah diverifikasi oleh 70 reporter untuk memastikan keasliannya.

Data pencucian uang para pesohor ini mencapai 11,5 juta dokumen, yang dibocorkan dari firma hukum internasional Mossack Fonseca. Besarnya data ini mencapai 2,6 terabita (Tb), jauh lebih besar dibanding bocoran Wikileaks ataupun Edward Snowden.

Nama-nama besar yang ternyata terlibat pengemplangan pajak serta pencucian uang memakai jasa Fonseca, di antaranya adalah Presiden Rusia Vladimir Putin, bintang sepakbola Lionel Messi, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, Raja Saudi Salman, Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri Islandia, serta 33 tokoh penjahat ataupun pejabat dari pelbagai negara yang masuk daftar hitam Amerika Serikat.

Sedikitnya skandal 140 politikus dari 50 negara ada dalam data bocoran tersebut. Tak kurang 21 negara surga pajak pun terbukti melakukan kejahatan keuangan terstruktur demi membantu sosok-sosok pesohor itu mencuci uang atau mengemplang pajak.

[ard]

Rekomendasi Pilihan

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.