Asia Tenggara, Lahan 'Jihad' Baru ISIS Setelah Kalah di Timur Tengah?

Rabu, 12 Februari 2020 17:38 Reporter : Hari Ariyanti
Asia Tenggara, Lahan 'Jihad' Baru ISIS Setelah Kalah di Timur Tengah? Pengikut ISIS. ©2020 Merdeka.com/liputan6/AFP

Merdeka.com - Tahun lalu, organisasi teroris ISIS yang menguasai sebagian wilayah di Suriah dan Irak berhasil digempur. ISIS kehilangan wilayahnya dan ditarik mundur. Pemimpinnya, Abu Bakar Al Baghdadi kemudian tewas dalam penyerbuan pasukan Amerika Serikat di tempat persembunyiannya pada Oktober 2019.

Namun sejumlah pihak meragukan bahwa ISIS benar-benar kalah. Baru-baru ini, Raja Abdullah dari Yordania memperingatkan kebangkitan ISIS di Timur Tengah. Ada juga yang menduga ISIS beralih ke wilayah Asia Tenggara.

The New York Times dalam laporannya pada Maret tahun lalu menyebut gerakan kelompok ini berdenyut di Pulau Mindanao, Filipina Selatan, yang mana telah lama menjadi surga bagi para pemberontak karena hutan belantara yang lebat dan pengawasan yang lemah. ISIS menarik sejumlah jihadis militan.

"ISIS memiliki banyak kekuatan," kata Motondan Indama, seorang mantan pejuang anak di pulau Basilan dan sepupu dari Furuji Indama, seorang pemimpin militan yang telah berjanji setia kepada ISIS.

"Saya tidak tahu kenapa sepupu saya bergabung, tetapi itu terjadi di mana-mana."

Kelompok ini pertama kali sangat mendorong perekrutan di Filipina selatan pada tahun 2016. Mereka menyebarkan video sebagai isyarat kepada militan yang tidak bisa berangkat ke Irak dan Suriah. Dari situ, kata pejabat intelijen, ratusan pejuang berdatangan dari Chechnya, Somalia dan Yaman.

Tahun berikutnya, gerilyawan yang berjanji setia kepada ISIS mengambil alih kota Marawi di Mindanao. Pada saat tentara menang lima bulan kemudian, kota berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di negara itu hancur lebur. Setidaknya 900 pemberontak tewas, termasuk pejuang asing dan Isnilon Hapilon, pimpinan ISIS Asia Timur.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte menyatakan kemenangan atas ISIS. Tetapi tampaknya tidak menghalangi loyalis kelompok ini untuk berkumpul kembali.

"ISIS memiliki dana dan mereka merekrut pejuang," kata Rommel Banlaoi, ketua Lembaga Penelitian Perdamaian, Kekerasan dan Terorisme Filipina.

"ISIS adalah masalah yang paling rumit dan berkembang di Filipina saat ini, dan kita tidak boleh berpura-pura bahwa mereka tidak ada karena kita tidak ingin itu ada," jelasnya.

1 dari 3 halaman

Cari Markas Baru di Asia Tenggara

baru di asia tenggara rev1

Pada November tahun lalu, Menteri Dalam Negeri Malaysia, Muhyiddin Yassin mengatakan ISIS tengah mencari markas atau pangkalan operasi baru dan kemungkinannya di Asia Tenggara.

Peringatan ini disampaikan Yassin kepada negara-negara ASEAN dalam pertemuan membahas kejahatan transnasional di Bangkok. Malaysia tidak menampik kemungkinan ISIS kemungkinan bergeser ke Asia Tenggara setelah kematian Baghdadi.

"Kami yakin kematian Baghdadi akan membuka babak baru bagi operasi teror ISIS. Setelah kehilangan wilayah di Suriah dna Irak, ISIS tengah mencari basis baru," jelasnya, dikutip dari Business Insider Singapura, Rabu (12/2).

Malaysia akan tetap waspada terhadap teroris yang kembali dari luar negeri dan kemungkinan serangan senyap, kata Muhyiddin. Malaysia, lanjutnya, memantau radikalisasi online di media sosial dan pendanaan terorisme melalui jaringan intelijenmya.

2 dari 3 halaman

Tiga Negara Potensi Sasaran Baru

potensi sasaran baru rev1

Muhyiddin tidak mengidentifikasi negara mana di Asia Tenggara yang dipilih ISIS untuk menggalang kekuatannya, tetapi tiga negara di kawasan dengan ikatan Islam terkuat adalah Malaysia, Indonesia, dan Brunei.

Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia - hampir 90 persen penduduknya memeluk Islam.

Sementara itu, Malaysia adalah pusat transit "pilihan pertama" bagi para teroris berkat perjalanan bebas visa bagi mereka yang datang dari Timur Tengah dan Afrika, menurut Kepala Penanggulangan Terorisme Malaysia, Ayob Khan.

Selama setahun terakhir, negara itu telah membebaskan seorang ahli biokimia yang memiliki hubungan dengan ISIS dan Al-Qaidah, menahan 12 orang yang diduga merencanakan serangan teror, dan berdebat tentang apakah akan mendeportasi seorang penceramah Islam yang memiliki hubungan dengan Al-Qaidah.

Muhyiddin menambahkan bahwa Malaysia telah menggagalkan 25 serangan ISIS dan menangkap 512 tersangka selama enam tahun terakhir.


3 dari 3 halaman

Tertarik ke Asia Tenggara

Pejabat anti-terorisme AS Nathan Sales mengatakan ada "indikasi yang jelas tentang ketertarikan" di antara gerilyawan ISIS untuk menuju Asia Tenggara. Namun dia menambahkan bahwa pilihan utama mereka masih di Afrika, sebagaimana dilaporkan The Straits Times.

"ISIS terus menganggap Asia Tenggara sebagai tempat berlindung yang aman yang dapat digunakan oleh para pejuang asing sebagai pangkalan utama mereka," jelasnya.

"ISIS, di bawah kepemimpinan baru, masih menganggap Asia Tenggara sebagai tanah untuk melakukan jihad."

[pan]

Baca juga:
Melihat Aturan Hukum WNI Eks ISIS Dilarang Pulang ke Indonesia
Pimpinan DPR Nilai Langkah Pemerintah Tak Pulangkan WNI Eks ISIS Sesuai UU
Mantan Napi Teroris: WNI Eks ISIS Dilarang Pulang, Pemerintah Kehilangan Akal
Memantau Operasi Militer Prancis untuk Perangi ISIS di Laut Mediterania
Mahfud MD Sebut Simpatisan ISIS Asal RI Tak Akui Status WNI
Imparsial dan Komnas HAM Harap Keputusan Tak Memulangkan WNI Eks ISIS Dikaji Ulang

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini