629 Perempuan Pakistan Jadi Korban Pengantin Pesanan di China

Kamis, 5 Desember 2019 20:58 Reporter : Merdeka
629 Perempuan Pakistan Jadi Korban Pengantin Pesanan di China Pengantin Pakistan. http://wide-wallpapers.net

Merdeka.com - Pertengahan 2019 lalu, maraknya kasus pengantin pesanan terkuak di Indonesia. Sebanyak 29 perempuan Indonesia menjadi korban untuk dijual ke China. Menjelang pergantian tahun, kasus pengantin pesanan kembali terkuak dan pelakunya berasal dari negara yang sama.

Dilansir dari AP News, Rabu (4/12), sebanyak 629 perempuan dari berbagai wilayah Pakistan dijual sebagai pengantin di China. Praktik gelap yang memperdagangkan manusia ini berhasil ditemukan oleh penyelidik Pakistan yang sedang berusaha memberantas jaringan perdagangan manusia. Target jual-beli pengantin ini menimpa kalangan miskin dan rentan yang ada di Pakistan.

Sebanyak 629 korban tersebut berasal dari perdagangan manusia sejak 2018. Tragisnya, kasus ini justru ditutupi oleh oknum pemerintah agar tidak mengganggu hubungan kerja sama antara Pakistan dan China yang menguntungkan.

1 dari 3 halaman

Media Diminta Menutup-nutupi

Pada bulan Oktober, pengadilan di Faisalabad membebaskan 31 warga China yang terjaring perdagangan pengantin. Menurut sumber pengadilan dan investigator, beberapa perempuan yang menolak bersaksi karena para perempuan itu telah diancam ataupun disogok supaya tutup mulut.

Aktivis Kristiani Saleem Iqbal mengatakan ada tekanan pada Badan Investigasi Federal Pakistan, bahkan beberapa pejabat dipindahkan. Tentu tekanan ini tak lain berasal dari pemerintah.

"Ketika kami berbicara pada penguasa Pakistan, mereka tidak mau memberi perhatian," ujar Iqbal yang ikut membantu menyelamatkan para korban.

Seorang pejabat senior yang ikut terlibat pada kasus jual-beli pengantin ini berkata para investigator merasa frustasi atas kondisi ini. Media nasional juga didorong untuk menutupi kasus perdagangan pengantin. Sang pejabat juga tidak mau identitasnya terkuak karena takut ada pembalasan.

"Kegiatan ini berlanjut dan bertumbuh. Mengapa? Karena pelakunya tahu mereka bisa lolos dari kasus ini. Pihak berwajib tidak mau mengambil tindak lanjut, semua orang ditekan agar tidak menginvestigasi. Perdagangan orang bertambah sekarang," ujar pejabat itu.

2 dari 3 halaman

Bungkam karena Proyek?

Saat dikonfirmasi AP, pemerintah China mengatakan siap memberantas jual-beli pengantin bersama pemerintah Pakistan. Namun, mereka tidak menyebut tentang ratusan gadis yang ketahuan menjadi korban.

"Dua pemerintahan, China dan Pakistan, mendukung pembentukan keluarga bahagia antara warga kedua negara atas dasar sukarela dalam mematuhi hukum dan regulasi, pada saat yang sama (kami) tidak punya toleransi dan secara tegas melawan siapapun yang terlibat dalam perilaku pernikahan ilegal lintas batas," ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri.

Aktivis dan pegiat HAM mengatakan Pakistan mencoba menyembunyikan kasus penjualan pengantin agar tidak melukai hubungan ekonomi dengan China. Saat ini kedua negara terhubung berkat Belt dan Road Initiative alias Jalur Sutera Baru China.

Pakistan tercatat mendapat berbagai paket kegiatan dari China berkat proyek Koridor Ekonomi China-Pakistan senilai USD 75 miliar atau sekitar Rp 1.000 triliun (USD 1 = Rp 14.102). Kegiatan yang didukung mulai dari infrastruktur hingga pertanian.

Pakistan juga dibantu China untuk mengembangkan militer, termasuk pengembangan nuklir. Hubungan ini berguna bagi pakistan yang cenderung punya hubungan tidak akrab dengan India. Kekuatan ekonomi dan militer India juga signifikan di wilayah subkontinental India.

3 dari 3 halaman

Kebijakan Satu Anak

AP melaporkan banyak pengantin yang terisolasi, dianiaya, atau dipaksa menjadi PSK di China. Mereka pun banyak yang menyesal dan meminta dipulangkan.

Perilaku ini menyangkut beberapa pihak di antaranya China, Pakistan, serta oknum pendeta kristiani dari gereja evangelikal kecil. Para pendeta itu disebut mendapat sogokan agar mendorong jemaah untuk menjual anak perempuan mereka.

Para orang tua kristen dari keluarga tak mampu itu diberi target untuk menjual anak perempuan mereka yang masih remaja.

Laporan Human Rights Watch menyebut perdagangan pengantin tidak hanya terjadi di Pakistan atau Indonesia, melainkan negara-negara berkembang di Asia Tenggara, Timur, dan Utara, seperti Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, Korea Utara, dan Nepal.

Kebutuhan pengantin asing di China meningkat disebabkan oleh kebijakan satu anak yang diterapkan di China selama 35 tahun. Hasil dari kebijakan tersebut, jumlah laki-laki mencapai 34 juta orang lebih banyak dari perempuan di China. Namun, kebijakan ini baru berakhir pada tahun 2015.

Repoter Magang: Denny Adhietya

Sumber: Liputan6.com [pan]

Baca juga:
Tak Cuma di Indonesia, Negara-negara Ini Juga Bermasalah dengan Polisi Perut Buncit
Kelompok Islamis di Pakistan Demo Desak Imran Khan Mundur
Kerata Api Terbakar di Pakistan, 70 Orang Tewas
Tabung Gas Meledak di Kereta Padat Pakistan, 70 Orang Tewas
India-Pakistan Kembali Baku Tembak di Kashmir, 10 Orang Tewas

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini