Sejarah Polisi Cepek yang Sekarang Makin Menjamur di Indonesia

Dalam getaran megapolitan, keyakinan tersebar bahwa uang bukan barang langka, begitulah bukti adanya para polisi cepek di Ibu Kota. Simak selengkapnya disini!

Yoga Tri Priyanto
Oleh Yoga Tri Priyanto - Reporter
Sejarah Polisi Cepek yang Sekarang Makin Menjamur di Indonesia
Dalam getaran megapolitan, keyakinan tersebar bahwa uang bukan barang langka, begitulah bukti adanya para polisi cepek di Ibu Kota. Simak selengkapnya disini! (© 2023 national media nusantara.com)

Di tengah hiruk-pikuk kesibukan Ibu Kota, Jakarta terdapat satu jargon yang melekat erat dalam keseharian warganya yakni ‘Di Jakarta itu apa saja jadi duit dan bisa diduitin.’ Simak Selengkapnya!

Awal mula adanya Polisi Cepek

Awal mula adanya Polisi Cepek
© 2023 Rajin Berbagi.com

Ditelusuri hingga era 1980-an dan 1990-an di Indonesia. Istilah ‘cepek’ sendiri merujuk pada pecahan uang senilai Rp100.

Dok. Istimewa
© 2023 Facebook.com

Fenomena ini menjadi lebih menonjol melalui popularitas Pak Ogah, seorang tokoh fiktif dalam serial televisi Si Unyil yang tayang pada periode tersebut. Pak Ogah menjadi ikon yang mengatur lalu lintas dan meminta bayaran sejumlah cepek dari pengendara. 

Meski hanya fiksi, karakter ini memberikan gambaran humoris namun cukup mencerminkan realitas lalu lintas di Jakarta, di mana para petugas informal, yang kemudian dikenal sebagai polisi cepek, mulai muncul di perempatan dan jalan-jalan sibuk.

Mereka menjalankan peran serupa dengan meminta imbalan finansial dari pengendara sebagai bentuk pengaturan lalu lintas alternatif.

Dok. Istimewa
© 2023 riau pos.com

Munculnya polisi cepek sejalan dengan perkembangan wilayah perkotaan di Indonesia, terutama di Jakarta, yang kini dikenal sebagai salah satu kota metropolitan dengan tingkat kemacetan tertinggi dan durasi kemacetan terlama di Indonesia. 

Seiring waktu, ‘profesi’ unik ini menjadi bagian dari urban Jakarta

Membuktikan bahwa tantangan perkotaan yang kompleks memunculkan solusi-solusi kreatif yang mungkin tidak dapat dicapai oleh institusi resmi.

Dok. Istimewa
© 2023 Wikipedia.com

Polisi Cepek ini dapat ditemui baik dalam bentuk individu maupun kelompok, dan tidak hanya laki-laki yang terlibat tetapi juga perempuan.

Mereka tersebar di berbagai titik strategis, terutama di titik rawan kemacetan seperti putaran jalan, pertigaan, dan perempatan.

Dok. Istimewa
© 2023 infopublik.com

‘Pekerjaan’ ini terbukti cukup menguntungkan, setiap Pak Ogah atau Polisi Cepek dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan ribu rupiah dalam beberapa jam beroperasi.
Tidak mengherankan di beberapa lokasi, menerapkan sistem shift dari pagi hingga malam hari.

Cara Kerja Para Polisi Cepek

Cara Kerja Para Polisi Cepek<br>
© 2023 Ngopibareng.id

Meskipun tidak memaksa, banyak dari mereka yang terlihat cemberut jika pengguna jalan enggan memberikan uang. Pertanyaan apakah mereka benar-benar membantu mengatur lalu lintas?

Pengguna jalan yang ingin diprioritaskan hendaknya untuk membuka jendela dan memberikan iming-iming uang. Dengan tindakan ini, mereka yang bertugas dengan sukarela akan ‘pasang badan’ untuk menghalangi kendaraan lain dan memberi jalan.

Keistimewaan bagi mereka yang memiliki uang terasa seperti potret nyata dari dinamika sosial di negeri ini. Tidak jarang, para pengatur lalu lintas ini bahkan membuka arus di lokasi-lokasi yang sebenarnya terlarang untuk memutar. 

Di beberapa tempat kehadiran mereka malah dapat memperparah kemacetan, menciptakan keadaan lalu lintas yang semakin rumit.

Situasi ini membuat mereka merasa semakin diperlukan, dan sebagai upaya untuk mendapatkan prioritas saat lalu lintas macet.

Kabar terbaru mencatat bahwa Polda Metro Jaya sedang melakukan pendataan terhadap jumlah dan lokasi sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas)

Perubahan Menjadi Supeltas

Perubahan Menjadi Supeltas
© 2023 Rajin Berbagi.com

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Halim Pagarra mengklarifikasi bahwa para sukarelawan pengatur lalu lintas, yang dikenal sebagai supeltas, bukanlah Pak Ogah.

Dengan perkiraan ribuan orang akan dilatih secara khusus oleh pihak kepolisian dalam cara mengatur lalu lintas, para supeltas akan mengenakan rompi dan beroperasi dengan sistem giliran.

Mengenai honor dan pendanaan, akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, donatur tetap, dan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.

Keputusan untuk melibatkan supeltas sebagai bagian dari solusi mengatasi kemacetan di Jakarta menunjukkan upaya nyata pihak berwenang untuk memperbaiki dan meningkatkan regulasi lalu lintas di kota tersebut. 

Rekomendasi