Exco PSSI Bantah Rumor Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Diboyong ke Super League Supaya Mudah Dipanggil ke Piala AFF 2026

Arya Sinulingg mengatakan informasi yang beredar mengenai pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang memilih berkarier di BRI Super League tidak benar.

Muhammad Adi Yaksa
Oleh Muhammad Adi Yaksa - Reporter
Exco PSSI Bantah Rumor Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Diboyong ke Super League Supaya Mudah Dipanggil ke Piala AFF 2026
Para pemain Persib Bandung merayakan gol yang dicetak oleh Thom Haye ke gawang Malut United dalam laga pekan ke-20 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Ju (Para pemain Persib Bandung merayakan gol yang dicetak oleh Thom Haye ke gawang Malut United dalam laga pekan ke-20 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Ju)

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menanggapi isu yang beredar di media sosial mengenai keputusan pemain naturalisasi Timnas Indonesia untuk berkarier di BRI Super League 2025/2026.

Ia membantah anggapan bahwa para pemain tersebut memilih liga tersebut demi mendapatkan panggilan untuk Piala AFF 2026.

Sebanyak sembilan pemain naturalisasi Timnas Indonesia telah memutuskan untuk berkompetisi di BRI Super League, baik sejak awal musim maupun di tengah musim ini.

Kesembilan pemain tersebut terdiri dari Jordi Amat, Shayne Pattynama, dan Mauro Zijlstra yang bergabung dengan Persija Jakarta, serta Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Dion Markx yang memperkuat Persib Bandung.

Selain itu, Ivar Jenner dan Rafael Struick bergabung dengan Dewa United, sedangkan Jens Raven memilih bermain di Bali United. Keputusan ini menunjukkan komitmen mereka untuk terus berkontribusi dalam sepak bola Indonesia, meskipun ada banyak spekulasi yang menyertainya.

Teori Konspirasi

Exco PSSI Bantah Narasi Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Main di Super League agar Gampang Dipanggil ke Piala AFF 2026
Para pemain Persib Bandung merayakan gol yang dicetak oleh Thom Haye ke gawang Malut United dalam laga pekan ke-20 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Ju Para pemain Persib Bandung merayakan gol yang dicetak oleh Thom Haye ke gawang Malut United dalam laga pekan ke-20 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Ju

Arya menilai tuduhan yang beredar sebagai "teori konspirasi" dan menegaskan bahwa PSSI tidak memiliki kewenangan untuk mencampuri urusan masa depan pemain naturalisasi Timnas Indonesia.

"Ya ini, kita ini terlalu banyak teori konspirasi ya. Jadi saya harap teman-teman wartawan juga mencerdaskan," ujar Arya saat memberikan pernyataan di GBK Arena, Jakarta Pusat, pada Senin (9/2/2026).

Lebih lanjut, Arya menekankan pentingnya pemahaman yang tepat mengenai isu yang beredar.

"Yang memberikan isu juga maunya mencerdaskan, karena namanya pemain, transfer, itu menyangkut uang. Yang bayar pemain siapa? Apakah PSSI atau klub?" ujar Arya.

.Arya menegaskan jika yang membayar adalah klub, maka urusannya adalah mengenai uang dan negosiasi.

"Kalau klub, berarti urusannya apa nih? Urusan uang. Tawar-menawar. Yang bayar klub. PSSI tidak ada ikut-ikutan dibayar situ. Bayar-bayar tidak ada urusan PSSI," jelasnya.

Piala AFF 2026 Tidak Masuk Agenda FIFA

Timnas Indonesia dijadwalkan untuk berpartisipasi dalam Piala AFF 2026 yang akan berlangsung dari 24 Juli hingga 26 Agustus 2026.

Namun, turnamen ini tidak termasuk dalam kalender FIFA, sehingga menyulitkan untuk mengikutsertakan pemain yang bermain di luar negeri, terutama yang berada di Eropa.

Arya memberikan penjelasan mengenai situasi ini.

"Jadi lucu kalau dibilang bahwa skenario PSSI untuk Piala AFF. Memang pemain mau dibayar murah? Pemain pasti punya tawaran segini. Klub punya uang tidak? Kalau tidak cocok, ya tidak jadi. Kalau cocok bayarannya, ya jadi," tutur Arya.

Dengan pernyataan ini, ia menekankan bahwa pemain memiliki nilai dan tawaran yang pantas sesuai dengan kualitas mereka.

Lebih lanjut, Arya menegaskan bahwa PSSI tidak terlibat dalam mekanisme chip-in untuk pemain.

"PSSI tidak ada ikutan chip-in. Dari mana uang PSSI untuk chip-in pemain, dan itu di dunia tidak terjadi seperti itu. Tidak ada yang namanya federasi ikutan chip-in di klub, tidak ada lah. Mana ada. Mana, tidak pernah terjadi seperti itu."

Pernyataan ini menunjukkan PSSI tidak memiliki sumber dana untuk mendukung sistem pembayaran semacam itu.

"Jadi mungkin pengamatnya itu berada dari luar semesta, alam semesta. Tidak ada, di dunia tidak ada yang seperti itu. Jadi pakai logika sederhana, itu uang antar uang. Yang bayar klub."

Aspek Finansial

Arya mengamati bahwa fenomena pemain naturalisasi di Timnas Indonesia yang memilih untuk berkarier di BRI Super League lebih berkaitan dengan aspek finansial.

"Kalau klubnya tidak mau bayar, memang PSSI bisa nyuruh klubnya? 'Hei klub, lu bayar ya?' Ya tidak mau lah. Klubnya akan bilang, 'Lho PSSI ngasih apa ke gua?'. Pemainnya bilang, 'Eh pemain, lu turunin ya harga lu, supaya klubnya ngambil'. Mana mau pemainnya. Kalau tidak cocok harga tidak akan mau, itu sederhana banget," ujar Arya.

Lebih lanjut, Arya menjelaskan bahwa ini adalah mekanisme pasar yang berlaku, dan PSSI tidak memiliki wewenang untuk memaksa klub.

"Jadi itu mekanisme pasar saja dan mereka, kita kan tidak bisa, seperti yang saya katakan, kecuali PSSI menggaji mereka. Kan tidak ada gaji PSSI terhadap pemain. Jadi sudahlah, teori-teori konspirasi silakan, tapi tolong yang cerdas."

Arya menekankan pentingnya pemikiran yang logis dalam analisis.

"Jangan tidak cerdas. Kalau tidak cerdas, nanti malu juga pengamatnya. Cari yang cerdas gitu lho. Malu lho. Di mana logikanya gitu. Ya, jadi pengamat tuh harus cerdas juga, jangan tidak cerdas. Kasihan nanti dihitung orang logikanya," tambahnya.

Rekomendasi