Wow, Transaksi Bursa Karbon OJK Tembus 1,6 Juta tCO2e per September: Ini Detailnya!
OJK melaporkan volume Transaksi Bursa Karbon di Indonesia mencapai 1,6 juta ton CO2e dengan nilai Rp78,46 miliar hingga September 2025. Bagaimana pergerakan pasar modal lainnya?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan pencapaian signifikan dalam Transaksi Bursa Karbon di Indonesia. Volume transaksi mencapai 1.606.056 ton karbon dioksida ekuivalen (tCO2e) hingga September 2025. Ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap ekonomi hijau dan upaya dekarbonisasi.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyampaikan data ini di Jakarta. Akumulasi nilai dari transaksi tersebut telah menembus angka Rp78,46 miliar. Perkembangan ini menegaskan peran bursa karbon yang semakin vital dalam ekosistem keuangan nasional.
Penambahan volume transaksi sebesar 1.234 tCO2e terjadi pada bulan September saja. Sebanyak delapan pengguna jasa baru juga resmi terdaftar pada bulan yang sama, sehingga kini total terdapat 132 pengguna jasa aktif berpartisipasi dalam perdagangan karbon di Indonesia.
Dinamika Pasar Modal di Luar Bursa Karbon
Selain Transaksi Bursa Karbon, pasar obligasi juga menunjukkan pergerakan yang menarik. Indeks pasar obligasi (Indonesia Composite Bond Index/ICBI) menguat 0,87 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sejak awal tahun, penguatan mencapai 9,34 persen ke level 429,35.
Yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata mengalami penurunan 4,63 basis poin (bps) secara mtm. Penurunan ini mencapai 62,68 bps secara year-to-date (ytd). Kondisi ini dapat menarik minat investor yang mencari keuntungan dari instrumen pendapatan tetap.
Investor nonresiden tercatat membukukan net sell di pasar SBN sebesar Rp45,76 triliun mtm selama September 2025. Namun, secara ytd, mereka masih mencatatkan net buy senilai Rp31,45 triliun, menunjukkan dinamika investasi yang beragam di tengah kondisi pasar global.
Pada pasar obligasi korporasi, investor nonresiden membukukan net sell sebesar Rp60 miliar secara mtm. Secara ytd, net sell tercatat sebesar Rp1,21 triliun, mengindikasikan preferensi investor terhadap aset tertentu.
Pertumbuhan Aset Kelolaan dan Penghimpunan Dana Pasar Modal
Industri pengelolaan investasi turut mencatat pertumbuhan yang solid. Nilai aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) per 30 September 2025 mencapai Rp913,96 triliun. Angka ini meningkat 3,16 persen mtm atau naik 9,15 persen ytd, mencerminkan kepercayaan investor.
Penghimpunan dana di pasar modal juga menunjukkan perkembangan positif yang signifikan. Sejak awal tahun hingga akhir September 2025, nilai penawaran umum oleh korporasi mencapai Rp186,52 triliun. Angka ini naik Rp18,60 triliun dibandingkan bulan sebelumnya, menunjukkan aktivitas korporasi yang tinggi.
Sepanjang bulan September, terdapat 17 emiten baru yang berhasil melakukan fundraising. Nilai dana yang dihimpun dari emiten baru ini mencapai Rp13,15 triliun. Terdapat pula 20 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp10,33 triliun, menandakan prospek pasar yang cerah.
Penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) juga menunjukkan geliat. Terdapat 37 efek baru dengan nilai dana dihimpun sebesar Rp64,61 miliar, serta 15 penerbit baru. Sejak pemberlakuan SCF hingga 30 September 2025, tercatat sebanyak 907 penerbitan efek telah berlangsung dengan total dana dihimpun sebesar Rp1,71 triliun dari 187.212 pemodal.
Dinamika Transaksi Pasar Derivatif Keuangan
Pasar derivatif keuangan juga tidak luput dari perhatian OJK. Volume transaksi dengan aset yang mendasari berupa efek selama September 2025 mencapai 78.639 lot. Ini menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi di segmen ini, menawarkan berbagai pilihan bagi investor.
Sejak awal tahun, total volume transaksi derivatif keuangan tercatat sebesar 812.223 lot. Angka ini mencerminkan pertumbuhan dan minat investor pada instrumen derivatif. Pasar derivatif menawarkan fleksibilitas dan strategi investasi yang beragam.
Dari sisi frekuensi, terdapat penambahan sebesar 332.806 kali selama September 2025. Secara year-to-date, total frekuensi transaksi mencapai 3.589.171 kali. Angka ini menegaskan tingginya likuiditas dan partisipasi pasar dalam instrumen derivatif.
Sumber: AntaraNews