Update 2 Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Bahlil Ungkap Faktanya
Dua kapal yang dimiliki oleh PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamnusuro, saat ini terjebak di Selat Hormuz.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa komunikasi terkait dua kapal Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz masih berlangsung dengan baik. Kedua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamnusuro.
"Komunikasi masih positif," ungkap Bahlil di Kementerian ESDM pada Senin, 11 Mei 2026. Tiga pekan lalu, Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita, menegaskan bahwa kedua kapal tersebut masih dalam pemantauan mereka.
Menurut Vega, PIS terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kementerian dan otoritas berwenang. Mereka juga tengah menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman.
Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya. Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif agar kapal Pertamina Pride serta Gamsunoro dapat segera melanjutkan pelayaran dengan aman," ujar dia dalam pernyataan tertulis pada Minggu (19/4).
20 Lebih Kapal Melintasi Selat Hormuz
Menurut data dari perusahaan analitik pelayaran Kpler, lebih dari 20 kapal melintasi Selat Hormuz pada Sabtu pekan lalu. Ini mencatatkan jumlah kapal terbanyak yang melintasi selat tersebut sejak 1 Maret tahun ini. Berdasarkan laporan dari laman dunyanews.tv, Sein (20/4), di antara kapal-kapal yang berhasil melintas, terdapat lima kapal yang baru-baru ini memuat kargo dari Iran dengan berbagai isi, mulai dari produk minyak hingga logam.
Di samping itu, tiga kapal di antaranya adalah pengangkut gas petroleum cair (LPG) yang masing-masing menuju China dan India. Salah satu kapal tanker berbendera Panama, Crave, juga terpantau mengangkut LPG dari Uni Emirat Arab menuju Indonesia. Selain itu, dua dari tiga tanker, yaitu Akti A dan Athina, yang membawa produk olahan dari Bahrain, masing-masing sedang dalam perjalanan menuju Mozambik dan Thailand.
Lebih lanjut, tanker berbendera Liberia, Navig8 Macallister, diketahui mengangkut sekitar 500.000 barel nafta dari Uni Emirat Arab menuju Ulsan di Korea Selatan. Kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) berbendera Liberia, Fpmc C Lord, membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi dan menuju pelabuhan Mailiao di Taiwan. Selain itu, kapal berbendera India, Desh Garima, yang memuat sekitar 780.000 barel minyak mentah Das dari Uni Emirat Arab, sedang dalam perjalanan menuju Sri Lanka.
Terakhir, kapal Ruby yang mengangkut pupuk dari Qatar juga sedang menuju Uni Emirat Arab, dan kapal kargo curah Merry M mengangkut petroleum coke dari Arab Saudi menuju Ravenna di Italia.
2 Kapal Pertamina Terjebak
Aksi buka-tutup Selat Hormuz oleh Iran dalam waktu dekat menyebabkan dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, terhambat. Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz.
"Kedua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz," ujar dia dalam pernyataan tertulis, Minggu (19/4).
Vega juga menambahkan bahwa PIS terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kementerian dan otoritas berwenang. Dalam upaya menjaga keselamatan, perusahaan tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman.
"Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya. Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif agar kapal Pertamina Pride serta Gamsunoro dapat segera melanjutkan pelayaran dengan aman," tuturnya.
Seperti yang diketahui, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pada Jumat (17/4) sempat mengungkapkan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya terbuka bagi kapal-kapal komersial selama sisa masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS). Namun, Iran kembali memperketat kendali atas Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah menyatakan bahwa jalur strategis tersebut terbuka untuk pelayaran komersial.