Trivia Ekonomi: Kenaikan Harga Emas Tertinggi Sepanjang Sejarah Picu Inflasi Kota Malang 0,31 Persen
BPS Kota Malang mencatat inflasi Kota Malang 0,31 persen pada Oktober 2025, dipicu rekor kenaikan harga emas tertinggi sepanjang sejarah. Komoditas lain juga berkontribusi, bagaimana dampaknya?
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mengumumkan inflasi sebesar 0,31 persen pada Oktober 2025. Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan harga emas yang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin, menjelaskan bahwa harga emas naik 12,42 persen. Komoditas ini memberikan andil signifikan sebesar 0,24 persen terhadap total inflasi yang terjadi.
Selain emas, beberapa komoditas lain juga turut berkontribusi pada inflasi. Data menunjukkan bahwa kenaikan harga cabai merah dan telur ayam ras memiliki peran penting dalam angka inflasi ini.
Lonjakan Harga Emas dan Dampaknya pada Inflasi
Inflasi Kota Malang pada Oktober 2025 tercatat sebesar 0,31 persen secara bulanan (mtm). Fenomena ini menjadi sorotan utama karena dipicu oleh kenaikan harga emas yang signifikan. Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin, menegaskan bahwa harga emas melonjak 12,42 persen.
Kenaikan harga emas ini memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi keseluruhan. Dengan kontribusi sebesar 0,24 persen, emas menjadi komoditas dominan dalam mendorong angka inflasi. Umar bahkan menyebut bahwa "harga pada Oktober ini adalah yang tertinggi sepanjang sejarah emas."
Situasi ini mengindikasikan bahwa pergerakan harga komoditas logam mulia memiliki pengaruh kuat. Fluktuasi harga emas dapat secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat. Oleh karena itu, pemantauan terhadap harga emas menjadi krusial dalam mengendalikan inflasi di Kota Malang.
Komoditas Lain Pemicu Inflasi di Kota Malang
Selain harga emas, beberapa komoditas pangan juga turut menyumbang pada inflasi Kota Malang. Cabai merah mengalami kenaikan harga sebesar 27,09 persen, dengan andil inflasi mencapai 0,04 persen. Telur ayam ras juga naik 6,78 persen, memberikan andil 0,07 persen.
Daging ayam ras mencatatkan kenaikan 0,36 persen, berkontribusi 0,01 persen terhadap inflasi. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sektor pangan masih menjadi faktor penting. Fluktuasi harga bahan pokok seringkali memengaruhi stabilitas ekonomi rumah tangga.
Beberapa komoditas lain seperti sigaret kretek tangan (SKT) naik 0,61 persen. Alpukat melonjak 4,21 persen, jagung manis 2,8 persen, dan kangkung 4,5 persen. Vitamin dan bawang putih juga mengalami kenaikan harga, masing-masing 0,76 persen dan 0,92 persen, menambah daftar pemicu inflasi.
Perbandingan Inflasi Kota Malang dengan Wilayah Lain
Angka inflasi Kota Malang sebesar 0,31 persen pada Oktober 2025 ternyata lebih tinggi. Angka ini melampaui inflasi Provinsi Jawa Timur yang tercatat 0,30 persen. Bahkan, inflasi nasional berada di angka 0,28 persen pada periode yang sama.
Secara tahun kalender (year to date), inflasi Kota Malang mencapai 2,08 persen per Oktober 2025 terhadap Desember 2024. Sementara itu, inflasi tahunan (year on year) tercatat sebesar 2,79 persen. Data ini menunjukkan tren kenaikan harga yang berkelanjutan.
Dengan persentase 0,31 persen, Kota Malang menjadi salah satu daerah dengan inflasi tertinggi di Jawa Timur. Posisi ini berada di bawah Kabupaten Sumenep yang mencatat 0,62 persen. Kabupaten Probolinggo juga memiliki inflasi lebih tinggi, yakni 0,43 persen. Ini menandakan adanya dinamika ekonomi yang unik di wilayah tersebut.
Sumber: AntaraNews