Survei RISED Ungkap 81 Persen Keluarga Rentan Dukung MBG, Ini Alasannya
Sebanyak 36 persen rumah tangga melaporkan adanya penurunan pengeluaran harian setelah MBG berjalan, terutama pada komponen bekal makan dan uang saku anak.
Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) merilis temuan awal studi mengenai dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terhadap rumah tangga dan anak penerima manfaat. Melibatkan sekitar 1.800 orang tua, studi ini memberikan gambaran awal mengenai efek mikro-harian program, khususnya terhadap pengeluaran rumah tangga dan kebiasaan anak.
Sebanyak 36 persen rumah tangga melaporkan adanya penurunan pengeluaran harian setelah MBG berjalan, terutama pada komponen bekal makan dan uang saku anak. Namun, sekitar 63 persen responden menyatakan besaran penghematan tersebut masih berada di bawah 10 persen dari total pengeluaran bulanan.
Temuan ini menunjukkan bahwa MBG membantu menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga, tetapi belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan. Dalam konteks ini, program lebih berfungsi sebagai bantalan (shock absorber) konsumsi kecil dibandingkan sebagai instrumen peningkatan daya beli yang luas.
Meski dampak ekonominya masih terbatas, tingkat dukungan terhadap program tergolong kuat, terutama dari kelompok rentan.
"Sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ungkap M. Fajar Rakhmadi, Peneliti RISED.
Mayoritas responden juga melaporkan bahwa program berjalan relatif konsisten, dengan 84 persen menyebut MBG diterima setiap hari sekolah. Namun, 69 persen orang tua menyatakan anak mereka baru menerima program kurang dari enam bulan, sehingga dampak jangka panjangnya belum dapat diukur secara memadai.
Perubahan yang paling terasa justru terlihat pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55 persen menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan.
Meski demikian, RISED menegaskan bahwa dampak terhadap status gizi objektif, kesehatan umum, maupun capaian pendidikan belum dapat disimpulkan pada tahap awal implementasi ini. Evaluasi jangka menengah dan panjang diperlukan untuk memastikan apakah perubahan perilaku tersebut dapat terakumulasi menjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Catatan Konstruktif
Berdasarkan temuan tersebut, RISED menyampaikan sejumlah catatan konstruktif untuk penyempurnaan kebijakan. Kejelasan kedudukan program dinilai penting, mengingat MBG saat ini berada di persimpangan antara program sosial, intervensi gizi, dan instrumen pembangunan SDM.
Tanpa kejelasan posisi, indikator keberhasilan dan desain evaluasi berisiko tidak konsisten. Selain itu, konsistensi kualitas menu, variasi gizi, serta ketepatan waktu distribusi perlu terus dijaga agar manfaat program tidak melemah. Kebutuhan evaluasi longitudinal juga menjadi krusial untuk menjawab pertanyaan lebih besar mengenai kontribusi MBG terhadap pembangunan SDM dalam jangka panjang.
Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai bahwa temuan awal penelitian ini bahwa MBG dapat berperan sebagai instrumen pengurang tekanan pengeluaran harian keluarga kelas menengah yang relatif rentan tertekan dampak ekonomi.
"Kalau misalnya satu keluarga memiliki dua anak dan dibekali Rp15 ribu sehari, kita tahu ada 20 hari sekolah, ini berarti membantu mengurangi beban Rp600.000," ungkap Fithra.
Selain itu Ia juga menambahkan bahwa meskipun dampak tersebut belum sepenuhnya terpetakan dalam penelitian RISED saat ini, konsistensi program akan membawa perubahan besar bagi struktur ekonomi rumah tangga.
"Kalau ini persistent, ini akan berdampak lebih besar lagi. Ini akan menciptakan surplus konsumen (consumer surplus) bagi kelas menengah. Dengan berkurangnya biaya konsumsi anak, rumah tangga memiliki fleksibilitas anggaran yang lebih luas. Menariknya, kelebihan dana tersebut tidak hanya berhenti pada konsumsi jangka pendek, melainkan berpotensi dialihkan ke sektor yang lebih berdampak. menariknya budgetnya dialihkan ke hal produktif, untuk pendidikan dan kesehatan," pungkas Fithra.