Spesifikasi Canggih Bomber Siluman B-2 Spirit AS Serang Fasilitas Nuklir Iran Tanpa Terdeteksi?
Serangan AS terhadap Iran pada akhir pekan lalu merupakan serangan operasional terbesar menggunakan B-2 dalam sejarah militer AS.
Pembom B-2 Spirit milik Angkatan Udara Amerika Serikat yang melancarkan serangan ke fasilitas nuklir Iran diduga berhasil memasuki wilayah musuh tanpa terdeteksi, demikian disampaikan oleh jenderal tertinggi AS.
"Sepertinya sistem rudal permukaan ke udara Iran tidak mampu mendeteksi kami,” ujar Jenderal Dan Caine, Ketua Gabungan Kepala Staf AS dilansir dari bussines insider.
“Sepanjang misi, kami mampu mempertahankan unsur kejutan," tambahnya.
Kemunduran jaringan pertahanan udara Iran sebelum dan selama serangan udara AS, disertai dengan strategi tipuan yang disengaja serta fitur siluman pada pembom dan pesawat pengawal, menjadikan keberhasilan ini sangat mungkin terjadi.
Serangan AS terhadap Iran pada akhir pekan lalu merupakan serangan operasional terbesar menggunakan B-2 dalam sejarah militer AS. Tujuh pembom B-2, masing-masing dengan dua awak, terbang selama 18 jam ke wilayah Iran untuk menjatuhkan 14 amunisi penghancur bunker seberat 30.000 pound.
Ini merupakan misi B-2 kedua terpanjang yang pernah dilakukan. Meski diklaim sebagai keberhasilan besar, dampak serangan tersebut terhadap program nuklir Iran masih menjadi perdebatan sengit.
Desain Pesawat
Pembom strategis Northrop Grumman B-2 Spirit memiliki desain unik berupa sayap terbang (flying-wing) yang menggunakan material penyerap radar, penyelarasan tepian, dan teknologi low-observable lainnya yang secara signifikan mengurangi jejak radar pesawat pada berbagai frekuensi. Hal ini menyulitkan radar pertahanan udara musuh untuk mendeteksi, melacak, atau menargetkan pesawat tersebut.
Bagi operator radar, jejak radar B-2 bisa terlihat lebih mirip seperti burung dari pada pembom dengan lebar sayap 172 kaki, jika pesawat tersebut terdeteksi sama sekali.
B-2 dirancang pada masa Perang Dingin akhir untuk melancarkan serangan nuklir ke dalam wilayah Uni Soviet tanpa terdeteksi. Pada waktu itu, kontrol penerbangan otomatis telah memungkinkan desain sayap terbang yang tidak stabil namun memiliki daya angkat tinggi menjadi layak untuk diterbangkan.
Desain B-2 mengalihkan sebagian besar energi radar, dan material penyerapnya menangani sisanya. Dikombinasikan dengan kebijakan senyap radio dan kemampuan terbang di ketinggian rendah, pesawat ini sangat sulit dideteksi oleh baterai rudal permukaan-ke-udara musuh.
B-2 Tidak Beroperasi Sendirian
Caine, yang merupakan pilot F-16 karier Angkatan Udara AS, menjelaskan bahwa pesawat tempur generasi keempat dan kelima, termasuk F-35 Lightning II dan F-22 Raptor, turut berperan dalam misi tersebut dengan membersihkan jalur serangan pembom dari ancaman pesawat tempur musuh dan rudal permukaan-ke-udara. Misi ini juga didukung oleh pesawat intelijen, pengawasan, dan pengintaian.
Caine menegaskan bahwa AS tidak mengetahui adanya tembakan yang diarahkan pada pesawat-pesawat mereka selama pelaksanaan misi. Pertahanan udara Tehran didominasi oleh sistem rudal permukaan-ke-udara lama yang memiliki integrasi terbatas, sehingga tidak mampu memanfaatkan kekuatan penuh jaringan pertahanan udaranya untuk mendeteksi dan menghadapi ancaman secara efektif.
Keberhasilan operasi ini kemungkinan besar juga dipengaruhi oleh langkah-langkah sebelumnya: Israel telah menghancurkan sebagian besar pertahanan udara Iran dalam beberapa hari menjelang serangan AS, sehingga Israel menyatakan superioritas udara atas sebagian wilayah Iran. Banyak sistem rudal permukaan-ke-udara lain juga telah dilumpuhkan dalam pertempuran sebelumnya.
Situasi pertahanan udara sepanjang rute penerbangan B-2 menuju fasilitas Fordow dan Natanz tidak sepenuhnya jelas, namun pertahanan musuh telah ditekan terlebih dahulu oleh pasukan perlindungan AS berupa pesawat pengawal tempur.
Topografi Pegunungan
Topografi pegunungan di sekitar fasilitas Fordow dan Natanz juga bisa menciptakan titik buta radar yang dapat dimanfaatkan oleh sensor Iran yang masih beroperasi. Waktu pelaksanaan operasi yang dipilih pada tengah malam juga dirancang untuk menghambat respons operator manusia.
Meskipun Presiden Trump menyebut serangan ini sebagai keberhasilan besar, masih belum jelas apakah Iran masih dapat mengembangkan senjata nuklir dalam waktu dekat. Status teknologi kritis Iran dan lokasi uranium yang sangat diperkaya masih belum diketahui, sementara sebagian besar ilmuwan nuklirnya diyakini telah dievakuasi jauh sebelum serangan berlangsung.
Serangan Amerika pada fasilitas nuklir Iran ini terjadi setelah Israel melancarkan operasi baru yang ditujukan untuk melemahkan program nuklir Iran awal bulan ini.
Sementara pemerintahan Trump lebih memilih pendekatan diplomatik dengan mencoba meraih kesepakatan nuklir baru dengan Iran, Israel memilih jalur kekerasan dengan melakukan tindakan militer yang luas terhadap fasilitas nuklir, ilmuwan utama, komandan senior, dan pertahanan udara Tehran. AS kemudian bergabung dalam upaya tersebut dengan memperlihatkan kekuatan militer yang luar biasa.