Rupiah Terus Melemah, Pengamat: Risiko Keluarnya Dana Asing Mengancam Pasar Saham RI
Investor global cenderung menghindari risiko nilai tukar yang tinggi, sehingga memilih mengalihkan dananya ke aset yang lebih stabil.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa menilai pelemahan rupiah bakal meningkatkan risiko keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia. Tercatat pada Selasa (5/5) rupiah menembus level Rp17.400.
"Rupiah yang terus melemah berpotensi memicu outflow asing, karena risiko nilai tukar naik," kata Reydi kepada Liputan6.com, Rabu (6/5).
Menurutnya, investor global cenderung menghindari risiko nilai tukar yang tinggi, sehingga memilih mengalihkan dananya ke aset yang lebih stabil. Kondisi ini berpotensi menekan pergerakan indeks saham.
Sektor yang paling terdampak adalah perbankan besar dan saham consumer, karena keduanya menjadi acuan utama (benchmark) bagi investor asing.
"Sektor paling rentan adalah perbankan besar dan consumer, karena jadi benchmark investor asing," ujarnya.
Ketika dana asing keluar dari saham-saham tersebut, tekanan jual dapat meningkat dan memicu volatilitas pasar. Hal ini juga dapat memperlambat laju penguatan indeks secara keseluruhan.
Reydi menjelaskan, jika outflow terjadi secara berkelanjutan, pasar saham domestik akan menghadapi tantangan tambahan di tengah ketidakpastian global.
Sektor Ekspor dan Komoditas Justru Diuntungkan
Di sisi lain, pelemahan rupiah justru membawa berkah bagi emiten yang memiliki pendapatan berbasis dolar AS, terutama dari sektor ekspor dan komoditas.
Perusahaan di sektor batubara, crude palm oil (CPO), dan energi menjadi pihak yang paling diuntungkan karena pendapatannya meningkat dalam rupiah saat dolar menguat.
"Yang diuntungkan justru sektor berbasis ekspor dan komoditas seperti batubara, CPO, dan energi, yang pendapatannya berbasis dolar," pungkasnya.